Penjajahan Al-Quds Kian Nyata, Umat Islam Harus Bertindak!


Oleh: Nettyhera


Setiap Ramadan, Masjid Al-Aqsa seharusnya menjadi tempat di mana umat Islam dapat beribadah dengan damai dan khusyuk. Namun, tahun demi tahun, pemandangan yang terjadi justru sebaliknya. Di bawah penjajahan Zionis, kaum Muslim Palestina terus mengalami pembatasan dan represi, bahkan saat hendak menunaikan ibadah di tanah suci ketiga dalam Islam. Dengan alasan keamanan, Zionis membatasi jumlah jamaah yang boleh masuk ke kompleks Al-Aqsa. Padahal, faktanya, kezaliman mereka sendiri yang menciptakan ketidakamanan di sana.

Kebijakan ini hanyalah salah satu dari banyak cara yang digunakan Zionis untuk mengokohkan penjajahannya. Pembunuhan, pengusiran, hingga perampasan tanah di Tepi Barat terus berlangsung. Di Gaza, di tengah gencatan senjata yang katanya merupakan langkah perdamaian, Zionis tetap menutup akses bantuan kemanusiaan, membiarkan jutaan warga Palestina menderita kelaparan dan kesulitan medis. Semua ini bukan sekadar bentuk penindasan biasa, tetapi strategi sistematis untuk melemahkan perlawanan umat Islam.


Perlawanan Umat Islam Selalu Dihadang

Zionis sangat memahami bahwa umat Islam memiliki potensi besar untuk melawan. Oleh karena itu, mereka tidak hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi juga strategi politik dan propaganda untuk menekan kaum Muslimin. Mereka mengontrol narasi global, menyebarkan propaganda bahwa konflik Palestina hanyalah masalah keamanan dan ekstremisme, bukan penjajahan yang harus dilawan. Sayangnya, banyak negara Muslim yang justru ikut-ikutan dalam permainan ini, memilih diam atau bahkan menjalin hubungan dengan Zionis atas nama diplomasi.

Lebih menyedihkan lagi, solusi yang ditawarkan dunia internasional hanyalah perundingan tanpa akhir. Sejak Perjanjian Oslo hingga berbagai negosiasi lain, Palestina justru semakin kehilangan tanahnya. Setiap kesepakatan yang dibuat hanya menjadi alat bagi Zionis untuk memperkuat cengkeraman mereka. Bukankah ini cukup menjadi bukti bahwa solusi Barat tidak akan pernah berpihak pada umat Islam?


Jangan Lagi Tertipu Narasi Perdamaian

Sudah saatnya umat Islam berhenti berharap pada solusi yang diberikan oleh penjajah dan pendukungnya. Zionis adalah muhariban fi’lan, musuh yang secara aktif memerangi umat Islam. Mereka tidak akan pernah berhenti menindas kecuali ada kekuatan yang mampu menghentikan mereka. Sejarah telah membuktikan bahwa penjajahan hanya bisa dilawan dengan kekuatan, bukan dengan negosiasi yang tidak berujung.

Ketika Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Al-Quds dari tentara Salib, ia tidak melakukannya dengan perundingan kosong, melainkan dengan persiapan militer yang matang di bawah kepemimpinan Islam yang kuat. Hari ini, umat Islam membutuhkan hal yang sama—kepemimpinan yang akan menyatukan mereka dalam perjuangan sejati.


Penegakan Khilafah: Satu-Satunya Solusi Hakiki

Penegakan kembali Khilafah bukan sekadar wacana utopis, tetapi qadhiyah mashiriyah, perkara hidup dan mati bagi umat Islam. Selama kaum Muslimin tercerai-berai dalam batasan negara bangsa dan tunduk pada kepentingan asing, mereka tidak akan mampu menghadapi Zionis dan sekutunya. Palestina akan terus dijajah, dan Al-Quds akan tetap berada di bawah cengkeraman musuh.

Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk bangkit, bukan hanya dengan doa dan kecaman, tetapi dengan langkah nyata menuju persatuan dan perjuangan sejati. Jika kita benar-benar ingin melihat Al-Quds bebas, maka tidak ada jalan lain selain kembali kepada Islam sebagai ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk strategi perjuangan dalam menghadapi penjajah.

Cukup sudah masa di mana umat Islam hanya menjadi penonton penderitaan saudaranya di Palestina. Saatnya kita bergerak, menyadarkan umat, dan berjuang untuk mengembalikan kejayaan Islam di bawah satu kepemimpinan yang akan membebaskan Al-Quds dengan cara yang benar.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak