Oleh: Nettyhera
Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Setiap tahun, umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan penuh semangat. Namun, pertanyaannya: apakah puasa yang kita jalankan sudah benar-benar membawa perubahan? Mengapa masih banyak kezaliman, korupsi, dan ketidakadilan di negeri ini meskipun mayoritas penduduknya berpuasa setiap tahun?
Puasa: Latihan untuk Menjadi Pribadi Bertakwa
Allah SWT telah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari segala bentuk maksiat. Rasulullah saw. menyebut puasa sebagai junnah (perisai), yang melindungi seorang Muslim dari kemaksiatan dan siksa neraka.
Namun, kenyataan yang kita lihat hari ini bertolak belakang. Banyak orang berpuasa, tetapi tetap melakukan korupsi, menipu, dan berbuat zalim. Banyak yang menjalankan ibadah, tetapi tetap melanggar hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa puasa yang dijalankan belum benar-benar membentuk ketakwaan yang hakiki.
Ketiadaan Kepemimpinan Islam: Sebuah Kehilangan Besar
Selain puasa sebagai perisai individu, umat Islam juga membutuhkan perisai yang lebih besar, yaitu kepemimpinan Islam. Rasulullah saw. bersabda:
"Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai. Kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR Muslim)
Dahulu, ketika umat Islam memiliki kepemimpinan Islam, keadilan ditegakkan, hukum Islam diterapkan, dan kemaksiatan dapat dicegah. Namun, sejak runtuhnya Khilafah pada tahun 1924, umat kehilangan pelindungnya. Akibatnya, umat Islam terpecah-belah, tunduk pada sistem sekuler, dan kehilangan kekuatan untuk menegakkan syariat Islam secara menyeluruh.
Bangkit Kembali dengan Islam
Ramadhan ini harus menjadi momentum untuk kembali kepada Islam secara menyeluruh. Kita harus memahami bahwa Islam bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang sistem kehidupan yang mengatur segala aspek kehidupan manusia.
Mari kita jadikan puasa sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan membangun kesadaran bahwa Islam harus ditegakkan secara kâffah. Kita tidak bisa hanya berharap perubahan datang dari individu, tetapi juga membutuhkan sistem yang benar untuk menegakkan hukum Allah.
Jika kita ingin melihat perubahan nyata, maka kita harus memperjuangkan tegaknya kembali kepemimpinan Islam yang akan melindungi dan menegakkan keadilan di tengah umat. Hanya dengan cara ini, puasa kita akan benar-benar menjadi perisai yang melindungi kita, baik di dunia maupun di akhirat.