Oleh Salis F. Rohmah
Sakit rasanya mendengar pelecehan seksual terjadi lagi dan lagi di lingkungan pendidikan. Lebih menyayat hati lagi, ketika diketahui bahwa pelakunya adalah guru. Para guru bejat itu muncul lagi dengan inisial baru di tempat yang berbeda. Mereka yang harusnya menjadi tauladan bagi anak didiknya, namun ternyata malah menyalahgunakan posisinya mencederai generasi. Hingga para anak didik mereka sendiri banyak yang menjadi korban. Astaghfirullah. Rusak parah pendidikan di negeri ini.
Sekolah harusnya menjadi tempat aman bagi anak didik belajar memahami kehidupan. Sekolah harusnya menjadi kepercayaan orang tua menitipkan anaknya agar bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Namun jika lingkungan pendidikan penuh dengan tangan-tangan kotor berpikiran cabul, kemana lagi pembentukan generasi ini diharapkan.
Sayangnya beberapa oknum cabul tersebut kerap kali muncul, menandakan bahwa bukan hanya sekedar salah individunya saja. Nyatanya penerapan sistem demokrasi sekuler mengakibatkan masalah cabang pada pendidikan. Ide sekuler yang diemban negara dan masyarakat hari ini mendorong orang berbuat semaunya. Ketaqwaan individu bukan sesuatu yang mudah diupayakan dalam sistem ini. Bagaimana tidak? Jika agama bukanlah standar dalam kehidupan bermasyarakat.
Alih-alih bertaqwa, media liberal hari ini mempertontonkan hal tak senonoh dengan leluasa. Aksesnya pun juga dibuat mudah. Negara seakan tidak berani memberhangus habis hal-hal yang tidak mendidik tersebut. Industri kapitalis sekuler membuat negara enggan melakukannya karena cuan yang didapat menjadi tujuan yang utama.
Sistem pergaulan sekuler juga meniscayakan kebebasan. Tak heran jika manusia hari ini memandang lawan jenis tak jauh untuk melampiaskan nafsu. Tidak ada aturan yang melarang apalagi mencegah adanya pelecehan seksual. Hukuman diberlakukan jika ada yang merasa terganggu. Namun kalau sudah terjadi seperti ini, bukankah terlambat jadinya? Mental generasi yang hancur akankah mampu memunculkan generasi emas ke depan?
Sistem pendidikan sekuler babak belur mendidik generasi. Apalagi jika kurikulumnya memang tidak mengedepankan ketaqwaan menjadi tujuan. Bisa kita lihat hari ini, betapa banyak permasalahan yang terjadi juga dilakukan oleh pelajar.
Negeri ini harus bangkit dari kegelapan. Solusi tuntas yang mengangkat akar masalah mutlak diberlakukan. Apalagi demokrasi sekuler telah nyata-nyata membuat kerusakan di berbagai sisi. Sudah sepatutnya kita mencontoh Nabi Muhammad dalam mengatur negeri. Diperlukan Wahyu Ilahi untuk mengatur masyarakat sebagai individu maupun warga negara. Islamlah yang menjadi jawaban bagi negeri jika ingin bangkit dari keterpurukan selama ini.
Islam memiliki mekanisme untuk mencegah pelecehan seksual. Penerapan sistem pendidikan Islam misalnya, menjadikan aqidah Islam sebagai basis pendidikan. Sehingga pendidikan bertujuan melahirkan generasi emas yang takut kepada Tuhannya. Tidak hanya sekedar berprestasi tapi generasi yang memikirkan kebermanfaatan diri bagi umat. Maka lahirlah generasi yang akan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Fasilitas kebaikan akan banyak dijumpai. Media yang mengedukasi bukan malah menodai. Pergaulan juga diatur dengan Islam bahkan mencegah adanya berduaan lawan jenis atau campur baur yang tidak dibenarkan. Jangankan hal tersebut, mekanisme menutup aurat adalah salah satu cara mencegah adanya pelecehan seksual. Hingga sistem sanksi yang tegas bagi pelaku pelecehan. Semua itu akan menutup celah adanya pelecehan seksual yang marak terjadi.
Setidaknya ada tiga pilar yang membuat tata aturan tersebut dapat dijalankan dan dijaga. Pilar tersebut adalah ketaqwaan individu, kontrol dari masyarakat dan penerapan sistem Islam yang dilakukan negara. Individu, masyarakat dan negara harus saling bahu membahu mengontrol syariat. Dengan begitu Islam akan lahir konkret menjadi penyelesai pelecehan seksual. Tidak hanya itu, bahkan hadir sebagai Rahmatan Lil 'alamin.
Wallahu a'lam bishshawab.
Tags
Opini
