Oleh : Ummu hilal El-Rumi
Terbongkarnya kasus mega korupsi pertamina yang mengoplos pertamax dgn pertalite membuat publik terperangah. Betapa tidak, kerugian negara yang ditaksir mencapai hampir 1 kuadriliun ini ditilap oleh segelintir pejabat PT. Pertamina Patra Niaga yang bekerja dalam tata kelola minyak mentah selama kurun waktu lima tahun, mulai dari tahun 2018-2023. Korupsi bersama ini yang menjadi bancakan para elit pejabat pertamina bukanlah hal yang aneh dalam sistem demokrasi liberal.
Selama kurun waktu yang lama tersebut, rakyat selaku konsumen dibohongi dan dibodohi, dengan membeli pertamax padahal yang diberikan adalah pertalite dengan harga yang berbeda.
Inilah watak pejabat dalam sistem demokrasi. Rakus dan gelap mata saat menggenggam jabatan yang mentereng dan menggiurkan. Hilanglah sudah integritas negeri di tangan para koruptor kelas kakap ini. Jiwa nasionalisme dan Pancasilais menguap entah kemana.
Rakyat hanya menjadi penonton dan korban.
Para koruptor yang sudah ditangkap harus mempertanggungjawabkan kejahatan mereka kepada rakyat Indonesia.
Bukan hanya dihukum, tapi juga harus dimiskinkan supaya mereka jera dan segera bertobat.
Sampai keluar pernyataan dari Presiden Prabowo bahwa ada wacana akan membuang para koruptor negeri ini ke pulau terpencil.
Islam memandang bahwa tindakan korupsi bukanlah tindak pencurian. Karena mereka mengambil/menilap uang dari tangan mereka sendiri dengan kekuasaan yang mereka miliki, bukan dari tempat yang tersembunyi.
Maka hukuman yang pantas bagi koruptor adalah dengan mengenakan hukuman ta'zir sesuai dengan keputusan hakim dalam wilayah negara Islam.
Apakah hakim akan menghukum koruptor dengan memotong salah satu tangan atau kedua tangan atau yang lainnya.
Hukuman ini pantas didapatkan sebagai jawabir dan jawazir, supaya di dunia pelaku jera dan tidak ada orang lain yang akan melakukan kejahatan yang sama dan di akhirat tidak akan disiksa karena sudah ditebus dosanya di dunia.
Pada faktanya, pejabat dalam sistem Islam, mereka adalah orang-orang yang amanah dalam menjalankan tugasnya. Mereka adalah pribadi yang bertakwa dan takut kepada Allah SWT. Mereka mengurus urusan umat dengan penuh tanggungjawab dan takut akan hisab di yaumil akhir kelak jika berlaku dzalim terhadap rakyat yang dipimpinnya.
Wallahu a'lam.