Oleh: Fitria Fadhlia Nur Syamsi
Aktivis Muslimah
Koeksistensi adalah hubungan sosial yang didasarkan pada kebersamaan dalam eksistensi, kepentingan dan nasib bersama. jelas bahwa koesistensi adalah untuk mereka yang memiliki perbedaan, baik besar atau mendasar, karena orang-orang yang memiliki kesepahaman dan kesamaan secara otomatis akan hidup bersama-sama. (opac.fah.uinjkt.ac.id, 04/03/2025)
Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik dari kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh, maka peganglah erat-erat. (Quutul Qulub, 2/17).
Sebagai seorang muslim tentu kita harus detail memilih dan menentukan siapa yang menjadi sahabat kita, itulah cerminan diri kita. Persahabatan Seorang muslim dengan muslim lainnya bukanlah sekedar koeksistensi atau eksis bersama sama mencari kenyamanan dan kesenangan yang didominasi oleh hawa nafsu, yang justru bersama melakukan hal yang tidak bermanfaat atau justru bersama dalam kemaksiatan. Sehingga kebersamaan tidak menghasilkan kebaikan apapun kecuali kesia-siaan semata.
Tentu, hal ini harus dihindari oleh seorang muslim. Persahabatan sesama muslim harus senantiasa dikaitkan dengan visi misi kehidupannya sebagai seorang muslim, shahabat yang saleh yang akan membersamainya dalam taqorrub ilallah dan meninggikan pemikirannya dengan islam, serta bertujuan untuk mencapai posisi kemuliaan. Sehingga menghasilkan kebaikan di dunia dan akhirat bagi keduanya dan inilah yang harus senantiasa di upayakan.
Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang buruk bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan tukang besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan tukang besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)
Hadits di atas menyebutkan bahwa teman yang baik (shalih) maupun teman-teman yang buruk keduanya sama-sama memiliki pengaruh terhadap kehidupan kita.
Hal tersebut selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Maka seorang muslim, terlebih bagi seorang pengemban dakwah harus memperhatikan circle pertemanannya. Sebeb, tantangan dakwah yang dihadapi tidaklah ringan dan mudah, support dari circle pertemanan sangat penting bagi setiap pengembannya. Bersama sama dalam circle dakwah akan menjadi safety net (jaring pengaman) yang menjaganya dalam ketaatan. Ketika seorang pengemban dakwah bertemu sahabat-sahabatnya, 1 dari 2 kebaikan berikut yang seharusnya terjadi, diantaranya: pertama, dia akan mendapat penjagaan dan nasehat ketaatan dari saudaranya yang lebih sholeh, lalu yang kedua yakni dia akan memberi nasihat ketaatan dan menjaga saudaranya yang belum mendapat ilmu.
Bahkan ketika belajar dari Nabi Musa AS, yang menempuh dakwahnya. Beliau meminta kepada Allah SWT agar diberikan teman saat menghadapi Firaun. Beliau meminta Nabi Harun AS untuk membantunya, mengingatkannya, dan menguatkannya. Nabi Musa AS berkata,
Allah Swt. berfirman, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan ia kekuatanku dan jadikanlah ia sekutu dalam urusanku supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingat Engkau.” (QS Thaha: 25—34).
Begitu pula, uswatun hasanah kita yaitu Nabi Muhammad SAW, pun membutuhkan sahabat untuk membantu menguatkan dalam mengemban dakwahnya, padahal kita tahu para nabi dan rasul Sudah dikaruniai mukjizat dan berbagai kelebihan, apalagi kita??. Bersahabat dengan sesama pengemban dakwah, tidak hanya menjadikan beban dakwah lebih ringan, mereka juga akan Senantiasa saling menjaga dalam ketaatan.
Sebagaimana sabda Rasul SAW, “Kami tidak pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami mendengar sabda Nabi saw., ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’ Kalau begitu, aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Dalam persahabatan yang dijalin Karena Allah, tidaklah selalu menyenangkan dan nyaman. Namun, ada saat yang sulit dan tidak menyenangkan karena berkomitmen untuk tidak bersepakat dalam kemaksiatan kepada Allah.
Ibnu Hazm pernah berkata, “Orang-orang yang bersedia mengkritikmu, berarti ia peduli tentang persahabatan denganmu. Sementara mereka yang menyembunyikan kesalahanmu, sesungguhnya mereka tidak peduli apa pun tentang kamu.”
Tidak mudah dalam memberi nasehat apalagi mengkritik sahabat, ada kekhawatiran harmoni yang sudah terjalin justru menjadi rusak, ada resiko kerekatannya yang sudah dibangun menjadi renggang. Oleh karena itu, hanya sahabat yang memiliki ilmu tsaqofah islam yang akan ikhlas dan mampu memberi tausiyah dan nasehat ketaatan, bukan orang yang mengkritik berdasarkan pendapat dan tendensi pribadinya. Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki pemahaman islam dapat memberikan nasihat yang benar?. Pastilah nasehat tersebut berasal dari hawa nafsunya semata yang tentu tidak jelas kebenarannya.
Jangan berkecil hati jika nasihat dan kritik tertuju padamu karena perbuatan maksiat kita atau karena kecacatan amal sholeh yg kita lakukan, ataupun tenggelam dalam ketersinggungan. Bangkitlah untuk segera menyadari kekeliruan, lalu segera mohon ampun kepada Allah serta berterimakasih kepada para sahabat yang telah berjalan disamping kita dan mencegah kita dari jatuh dengan menunjukkan kesalahan kita dengan ahsan.
Saat penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu saat di dunia, mereka pun bertanya kepada Allah, “Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami. Sewaktu di dunia kami selalu bersama. Kami salat bersama, kami puasa bersama mereka, dan kami berjuang bersama mereka. Dan Allah pun berfirman, “Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walaupun sekecil zarah.” (HR Ibnu Mubarak dalam kitab Az-Zuhd).
ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ
Firman Allah Swt., “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf: 67).
Akhilla’ adalah teman dekat, tetapi tidak semua teman dekat adalah orang saleh dan bertakwa. Ada teman dekat yang tidak shalih dan fasik, yang mereka saat di dunia bersahabat, namun kelak di akhirat akan saling menghujat, saling menyalahkan, ketika mereka di hadapan di Mahkamah Allah.
Ketika yang satu ditanya, “Mengapa kamu tidak sholat, puasa, zakat, tidak berdakwah, tidak taat?” Ia menjawab, “Aku mau sholat, tetapi sama si Fulan diajak nongkrong. Mau puasa, tetapi diajak Fulan makan. Mau dakwah, dihalangi….”
Maka, mereka saling menimpakan kesalahannya di hadapan Allah. Mereka akhirnya sama-sama diseret ke neraka. Itu diceritakan dalam QS. Al Baqoroh 2: 166
إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِینَ ٱتُّبِعُوا۟ مِنَ ٱلَّذِینَ ٱتَّبَعُوا۟ وَرَأَوُا۟ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ
“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.”
Sebaliknya, persahabatan dengan orang saleh dan bertakwa karena Allah, akan abadi. Di dunia saling membantu, menjaga, dan melindungi. Di akhirat pun sama. Mereka saling memberi syafaat satu sama lain.
Ketika kita bersahabat dalam taat di dunia, saat nanti di surga, kita akan mencari sahabat kita, “Di manakah ia? Aku tidak melihatnya di surga?” Maka, ia cari. Ketika ia ada di neraka, ia akan memohon kepada Allah agar dikeluarkan karena mereka dulu bersama-sama di jalan ketaatan.
Untuk itu sebagai seorang muslim, marilah kita renungkan ulang siapa yang kita jadikan sahabat dalam hidup kita. Sahabat mewakili pemikiran kita, mewakili visi, misi, dan perasaan kita. Renungkan secara mendalam, jangan-jangan sahabat yang selama ini kita miliki adalah cermin dari keburukan diri kita. Karena itu, Jika kita tak mampu memberi nasehat ketaatan kepadanya, maka carilah seseorang yang bisa memberi nasehat ketaatan kepadamu untuk menjadi shahabatmu. Islam telah mengajarkan siapa saja manusia yang layak kita jadikan sebagai sahabat. Beberapa hadist berikut memberikan gambaran tentang sahabat dalam pandangan Islam.
“Sahabat yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambah ilmu agama, melihat gerak geriknya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga adalah orang yang baik terhadap tetangganya.” (HR Hakim).
“Di sekitar ‘Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang berpakaian dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada, hingga para Nabi dan syuhada pun iri kepada mereka. Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah saw. menjawab, mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (HR Tirmidzi).
Sahabat yang baik adalah yang selalu berusaha meluruskan saat kita tersesat, bukan yang selalu membenarkan kita. Sahabat yang baik selalu mendoakan sahabatnya tanpa diketahui. Sahabat yang baik adalah yang selalu berkumpul dengan orang baik.
Persahabatan yang akan mengantarkan seseorang ke surga Allah Taala hanya bisa ditemukan jika berada dalam lingkaran yang sama, lingkaran ketaatan pada-Nya. Kunci dari ukhuwah yang melahirkan berkah terletak pada kesamaan pemikiran, perasaan dan tingkah laku (suluk) dalam kehidupan Islam.
Wallahu A’lam Bisshowab
Tags
Opini
