Minyak Oplosan, Menipu di Tengah Kesulitan




Oleh ; Pina Purnama S., km 



Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman minta tiga produsen perusahaan Minyakita disegel dan ditutup, jika terdapat bukti pelanggaran, setelah produk mereka ditemukan tidak sesuai takaran, yang dijual di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

"Volumenya tidak sesuai, seharusnya 1 liter tetapi hanya 750 hingga 800 mililiter. Ini adalah bentuk kecurangan yang merugikan rakyat, terutama di bulan Ramadhan saat kebutuhan bahan pokok meningkat,” kata Mentan di sela melakukan inspeksi mendadak (sidak), di Pasar Lenteng Agung jakarta. 
Selain volume yang tidak sesuai, harga jualnya juga melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Meskipun di kemasan tertulis harga Rp15.700 per liter, minyak ini dijual dengan harga Rp18.000 per liter.
(tirto.id/8/03/25) 

Berita yang mencuat mengenai minyak Kita oplosan berdampak pada kepercayaan masyarakat pada kualitas produk disamping harga murah kualitas terjamin menjadi sandaran bagi pencari nafkah di bidang olahan makanan, namun kini akibat kondisi ekonomi yang tak menentu di tengah kondisi masyarakat di hadapkan pada kelangkaan gas, kasus pagar laut berdampak pada lahan pekerjaan warga sulit, banjir, longsor, bahan pokok menjelang rhamadan naik. 

hal ini melahirkan ketidakpercayaan pada peran negara dalam mengontrol mafia jahat demi meraup keuntungan besar bisa sampai lolos dan ahirnya terkuak, pihak perusahaan minyak oplosan pun citra pengelolaan, pendistribusian produk, menjadi kurang baik ditengah masyarakat, serta dampak kerugian yang di terima mengancam keadaan kesehatan masyarakat umum yang mengonsumsi nya apakah layak di konsumsi serta kecurangan takaran menjadi sumber kekecewaan Pada penjual minyak yang jujur maupun konsumen. 

Problematika Minyak Oplosan 

Berita yang viral di media sosial mengenai hal oplosan minyak di duga adanya kebebasan praktik pengelolaan, distribusi oleh pihak perusahaan maupun regulasi dalam aktivitas pemasaran produk oleh negara kurang ketat di hadapan kaum konglomerat akibat dari diterapkannya  sistem ekonomi liberalisme lahir kebebasan berperilaku, kebebasan kepemilikkan, maupun kebebasan berekspresi, yang tumbuh subur di sistem demokrasi. 

Akar masalah ini terjadi disebabkan adanya kesempatan motivasi meraup keuntungan besar, lemahnya pengawasan di pasar, rantai pasokan distribusi produsen ke konsumen panjang menyulitkan pengawasan, penegakan hukum yang tidak jera, kesenjangan persediaan minyak terbatas sedangkan permintaan konsumen tinggi serta fluktuasi harga bahan mentah di pasar global. 

Solusi Islam 

Sistem dalam islam terutama pemimpin nya khalifah sangat memperhatikan pelayanan publik terkait ketersediaan bahan pangan menerapkan sistem ekonomi islam dalam pengelolaan nya untuk menjaga stabilnya persediaan bahan pokok di tengah permintaan tinggi dalam islam diantaranya : 

pertama; kebijakan khalifah dalam distribusi bahan pangan maupun produksi nya di awasi oleh petugas Qhadi hisbah mengontrol kondisi pasar agar tak ada kecurangan dalam penimbunan, proses pengoplosan bahan pangan, harga eceran yang menentukan standarnya di kembalikan ke pasar agar tak terjadi kekacauan harga di pasaran. 

Kedua; Kemandirian suatu negara mengelola sumber daya alam mandiri agar tak terkena imbas harga fluktuasi bahan pangan dunia agar menjamin ketersediaannya mencukupi kebutuhan bagi masyarakatnya serta menjadi terbuka nya lapangan pekerjaan bagi warga. 

Ketiga; Pengawasan dan penegakan hukum yang kuat di dalam islam buktinya ketegasan itu lahir dari keimanan yang merupakan tanggung jawab dunia dan akhirat dalam menjalankan tugas melayani kebutuhan publik akan ada sanksi tegas bila ada kecurangan di pasar. 

Wallahuallam bishshawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak