Banjir Robohkan Sekolah, Kisah Pilu Dunia Pendidikan




Oleh Pina Purnama S., km 



Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, banjir yang melanda wilayah Bekasi, Jawa Barat, menyebabkan 114 gedung sekolah mengalami kerusakan.
Fasilitas pendidikan yang terdampak mencakup tingkat SD hingga SMA, baik di Kota maupun Kabupaten Bekasi.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengatakan, sekolah di Bekasi yang terdampak banjir Bekasi meliputi 90 SD, tujuh SLB, sembilan SMA, lima SMK, dan tiga SMP.

Untuk SD, di Kabupaten Bekasi ada 45 sekolah, begitu juga di Kota Bekasi, ada 45, totalnya 90 sekolah. SLB di Kabupaten Bekasi ada dua, di Kota Bekasi ada lima, totalnya tujuh. SMA ada empat di Kabupaten Bekasi dan lima di Kota Bekasi, totalnya sembilan. Kemudian, SMK ada lima di Kota Bekasi, dan SMP ada tiga di Kota Bekasi. Jadi, total keseluruhan ada 114 sekolah yang terdampak,"
(beritasatu.com/06/03/25) 

Kejadian banjir berulang tiap tahun nya tak sedikit memakan korban dan bangunan atau fasilitas vital untuk melayani kebutuhan publik rusak total, arus transportasi terhambat, bangunan rumah warga tergenang air aktivitas terganggu, hingga sekolah lumpuh total proses belajar terhambat.

hal ini banyak pemicu terutama daerah jakarta, rawan bencana pasalnya terdapat lahan yang harusnya di jadikan daya serap bagi air, fakta nya air sama sekali tak punya jalan pulang untuk menyerap melalui tanah atau pun punya drainase yang cukup baik untuk mengalirkan air karena banyak bangunan mall, bangunan wisata dengan adanya bangunan cor/ semen permanen, bisa jadi aktivitas manusia membuang sampah sembarangan di sungai menjadi kebiasaan di saat curah hujan tinggi ini sangat menghawatirkan timbul nya banjir. 

Mengapa Banjir 
Terus Berulang? 

Indonesia termasuk negara beriklim tropis yang curah hujan nya tinggi tentu saja hal ini bisa di pengaruhi oleh faktor alami dan faktor karena aktivitas manusia pasalnya paradigma  membangun infrastruktur hanya asas manfaat demi meraup keuntungan semata, tanpa manajemen amdal yang baik seperti membangun industri, mall, tempat wisata, dan tempat hiburan tanpa memperhatikan fungsi lahan hingga merusak lahan hutan, sawah sehingga daya serap air minim. 

Banyak di jumpai ada yang membuat rumah di pinggiran sungai serta kebiasaan membuang sampah tak tepat  hal ini dapat memicu daerah aliran sungai di cemari sampah maupun limbah industri   adapun sistem drainase yang kurang perawatan akan menimbulkan meminimalkan penampungan volume air 

Sementara itu faktor alami yang memicu banjir dari perubahan cuaca ekstrim, kenaikan permukaan air laut meningkat akibat perubahan iklim, penurunan kondisi lahan tanah akibat dari pengambilan air tanah yang berlebihan, curah hujan yang tinggi juga menjadi problematika yang harus segera di atasi agar tak terimbas oleh banjir yang setiap tahun nya terjadi. 

Sejatinya jika paradigma hari ini dipengaruhi gaya hidup sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan serta masih menerapkan sistem ekonomi liberalisme penyebab dari bencana walhasil kebebasan kepemilikan lahan, kebebasan berperilaku tanpa batasan hingga berdampak pada lingkungan rusak, jika tidak ada kerja sama dan kesadaran semua pihak baik individu, keluarga, masyarakat bahkan negara akan kah banjir ini segera teratasi? 

Sistem Islam Solusi 

Dalam sistem islam ketika kondisi di mana musim kemarau atau musim hujan dalam menyikapi upaya mitigasi bencana banjir karena perubahan cuaca ekstrim, langkah mitigasi yang harus dipersiapkan diantaranya ; 

Pertama; masyarakat di kondisikan dalam suasana keimanan dalam aktivitas pembangunan menggunakan paradigma islam dalam pembangunan untuk wilayah hulu harus dilestarikan seperti kawasan pegunungan, hutan, sawah, daerah aliran sungai untuk daya serap air harus di jaga, tak akan ada pembangunan seperti mall, bangunan wisata yang mengganggu drainase air, serta membangun telnologi bangunan rumah anti banjir 

Kedua; pemimpin dalam islam mengurusi urusan umat akan ada edukasi menyoal kesehatan darinase air, aktivitas membuang sampah di arahkan tidak boleh sembarangan, penggunaan plastik di minimalkan, tidak ada yg membangun rumah dekat sungai. 

Hanya dalam sistem islam kaffah upaya mitigasi dalam menangani banjir akan melahirkan kesadaran, kepedulian dan saling mengingatkan dalam kebaikan salah satu nya terwujud alam lestari, lingkungan bebas polusi sampah, sungai dan laut bersih.

Wallahualam bishawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak