Meraih Gelar Takwa di Bulan Suci Ramadan




Oleh: Julia Ummu Adiva Farras



Tak terasa memasuki 10 hari pertama di Bulan Ramadhan, bulan bertabur nya pahala, karena di 10 hari pertama Allah SWT memberikan limpahan rahmat, Rahmat Allah turun bagi siapapun yang ingin meraihnya dengan memperbanyak amalan-amalan, sebab amalan tersebut akan Allah lipat gandakan. Hal ini termaktub dalam sebuah hadits:
"Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. barangsiapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan 70 kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan." (HR. Bukhari-Muslim).”

Sebagaimana yang kita ketahui amalan yang langsung menembus ke Allah, yakni puasanya seorang muslim di bulan Ramadhan yang mulia ini Allah sendiri yang mengganjar bagi mereka yang rela menahan lapar dan haus sepanjang hari karena-Nya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda:
"Setiap amalan kebaikan anak Adam (manusia) akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah Ta’ala berfirman 'Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi'.” (HR. Bukhari)

Selanjutnya, 10 hari kedua dibulan ramadhan terkenal dengan Maghfiroh yang dimana ampunan Allah terbuka luas bagi siapapun yang bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah. Tempat dimana untuk mengevaluasi diri.

Setelah mendapati 2 fase tersebut, maka memasuki fase terakhir yakni 10 hari terakhir ialah tempat dimana 
dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan memohon ampunan serta rahmat dari Allah SWT. Karena keutamaan 10 hari terakhir Ramadan adalah terbebasnya dari api neraka, serta turunnya malam Lailatul Qadar, malam yang mulia yang sungguh memiliki keistimewaan.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam yang ke sembilan tersisa, malam yang ke tujuh tersisa, malam yang ke lima tersisa,” (HR. Bukhari).

Karena itu, seorang muslim sangat menggebu-gebu ketika memasuki 10 hari terakhir, bukan justru melempem dan berbalik arah untuk berburu fashion atau justru disibukkan dengan hal yang tidak bermanfaat. Seharusnya lebih giat dan gigih untuk beribadah, terutama ibadah malam pada 10 hari terakhir Ramadhan diibaratkan seperti malam 1.000 bulan.

Dahulu pada masa Rasulullah Saw, beliau bersama umat melaksanakan puasa di mulai sejak 2 Hijriyah, Rasulullah Saw sekaligus penguasa dan pemimpin ketika itu mengatur ibadah wajib maupun sunnah terselenggara dengan amat sangat tersusun dan baik. 
Dimana seorang pemimpin memberikan suri tauladan kepada rakyatnya, setiap waktu sangat terasa nuansa islami, maka ini merupakan momentum perbaikan diri untuk lebih baik terutama dalam meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan dengan sesuai tuntunan syariat pastinya. Sebab, tempaan selama 30 hari kedepan akan membentuk habits dan kepribadian seorang muslim dalam meraih gelar taqwa yang hakiki dengan menerapkan aturanNya dalam semua aspek kehidupan. Semua itu tidak akan tercipta dengan suasana yang kondusif yang islami di bawah payung Daulah Islamiyyah.
Wallahu-a'lam bish-shawab[].

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak