Kabur ke Luar Negeri, Solusikah?


Oleh : Siti Sopianti


Kondisi Indonesia kini semakin kacau balau. Adanya harapan baru tentang antusiasnya dipimpin oleh kepala negara baru ternyata sirna sudah. Awal tahun baru saja masyarakat digemparkan oleh situasi tentang langkanya gas melon di pasaran. Alhasil rakyatpun kesulitan hingga dibuat mengamuk karenanya. Belum lagi kekecewaan tentang program makan gratis, dan juga adanya pemutusan kerja di berbagai instansi pemerintah maupun pabrik. Dan yang membuat rakyat kecewa isu IKN ( Ibu Kota Negara )yang seolah keberadaannya disesalkan oleh berbagai pihak sebagai proyek yang mubazir. Belum lagi tentang kasus pagar laut yang entah siapa pelakunya sehingga mengancam para nelayan dalam mencari penghidupan. 

Semua permasalahan tersebut mengundang murka dan kecewa masyarakat. Bahkan kini tagar #KaburAjaDulu ramai menggemparkan warganet melalui media sosial, termasuk di X atau Twitter.

Tagar tersebut memicu rakyat untuk berlomba-lomba studi dan mencari nafkah ke luar negeri dan memutuskan pergi dari Indonesia, negeri yang kita cintai. 

Adanya tagar tersebut mengundang warganet untuk berbagi lowongan kerja, beasiswa, les bahasa, serta pengalaman berkarier dan kisah hidup di luar negeri. Mereka bersemangat untuk mengadu nasib dengan harapan terhindar dari tekanan pekerjaan, pendidikan, maupun problematika sehari-hari di dalam negeri (kompas.com.5/02/2025).

Munculnya trend demikian tidak lain karena sistem kapitalis sekuler bercokol di negeri ini. Sistem inilah yang mendorong manusia untuk menstandarkan hidup hanya pada materi semata. Sehingga mereka berbondong - bondong ingin meraih kehidupan yang lebih nyaman dengan dijanjikan kelimpahan materi yang banyak. Tanpa memikirkan resiko serta dampak yang akan ditanggung. Terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga. Tentu bukan hal mudah jika harus berpisah menjalin hubungan jarak jauh. Sehingga terkadang mengusik ketahanan keluarga. Anak kadang kehilangan sosok ayah atau ibu dalam melalui proses tumbuh kembangnya. 

Selain akibat sistem kapitalis sekuler, Kondisi di atas terjadi karena pengaruh digitalisasi di sosial media. Dengan iming -iming jika hidup di negara lain lebih menjanjikan. Ini merupakan angin segar bagi mereka yang memiliki semangat berjuang yang tinggi. Belum lagi dengan kualitas pendidikan yang kurang bermutu di dalam negeri, ditambah seliweran banyaknya info tawaran beasiswa ke luar negeri di negara maju semakin menggiurkan untuk segera hijrah keluar Indonesia.  

Banyaknya peluang berkarir di luar negeri baik kerja kantoran maupun buruh kasar dengan gaji yang menjanjikan di negara maju. Trend ini dilatarbelakangi fenomena brain drain yang menjadi isu krusial dalam konteks globalisasi/liberalisasi ekonomi yang semakin menguat. Hal tersebut menimbulkan kesenjangan diantara negara maju dan negara berkembang, sehingga terciptalah ketidakadilan dalam hal sumber daya dan kesempatan serta peluang. 

Hal ini membuktikan wajah kegagalan kebijakan politik ekonomi kapitalis sekuler di dalam negeri. Sehingga masyarakat jauh dari kata sejahtera. Kesenjangan ekonomi tersebut tak hanya terjadi di dalam negeri, namun juga di seluruh dunia. 

Hal tersebut jauh dengan sistem ajaran Islam, yang mewajibkan negara membangun kesejahteraan rakyat, dan mewajibkan negara memenuhi kebutuhan masyarakat yang asasi bagi setiap warganegara individu per indvidu. Baik mereka kaya maupun miskin semua dipenuhi kebutuhannya oleh negara.  

Ada banyak mekanisme yang harus dilakukan negara untuk mengayomi masyarakatnya. Termasuk dalam menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki baligh. Baik di sektor pertanian, perdagangan, industri dan jasa dengan pengelolaan sumber daya alam yang Allah limpahkan kepada kaum muslimin.
Selain itu, strategi pendidikan dilakukan pula oleh negara untuk menyiapkan sumber daya manusia yang beriman dan siap membangun peradaban untuk negaranya. Dan negara juga peduli dalam menjamin kehidupan mereka sebagai warga negara. 

Tegaknya aturan Islam di dunia akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan mewujudkan dunia yang adil dan Sejahtera.

Oleh karenanya, terjawab sudah bahwa pergi kabur ke luar negeri bukanlah solusi terbaik. Hidup di negeri orang dengan budaya, agama dan kebiasaan yang berbeda tentulah bukan hal yang mudah. Belum lagi soal bahasa yang sering memicu terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Ketahanan keluarga pun di pertaruhkan disini. Dan konsekuensi terberat untuk kita yang muslim adalah khawatirnya kita wafat di negeri orang. Terlebih negara tersebut bukan mayoritas muslim. Oleh karenanya, solusi terbaik atas semua permasalahan di dunia ini adalah dengan diterapkannya aturan Islam dalam skala Internasional. Wallohualam bissowab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak