Oleh : Hany Rofiqoh,
Muslimah Peduli Generasi, Ciparay Kab.Tangerang.
Mendadak menjadi trending topik di jagat media sosial tagar Indonedia Gelap. Tagar ini merupakan tindak lanjut dari aksi yang dilakukan oleh mahasiswa pada tanggal 20 Februari lalu. Diberitakan terdapat ribuan mahasiswa yang berasal dari beberapa kampus berkumpul dan melakukan orasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta. Kerumunan mahasiswa menyampaikan aspirasi yang mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah, diantaranya adalah efisiensi anggaran (cnnindonesia.com,20/2/2025). Aksi mahasiswa tersebut menuntut pencabutan atas Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 terkait penetapan pemangkasan anggaran yang dianggap telah merugikan rakyat selain itu juga pencabutan pasal yang terdapat dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pertambagan Mineral dan Batubara (RUU Minerba) bagi perguruan tinggi untuk terlibat bisnis tambang (tirto.id, 18/2/2025).
Pada tanggal 17 februari 2025 Sebanyak 1.623 Mahasiswa gabungan dari berbagai instansi dikerahkan untuk mengawal unjuk rasa yang digelar aliansi dan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Mahasiswa unjuk rasa dilokalisir di Kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. (beritasatu.com, 17/12/2025)
Aksi ini dilakukan sebagai respons terhadap berbagai keputusan pemerintah yang dianggap menyengsarakan rakyat dan mengancam masa depan generasi muda—salah satunya adalah pemotongan anggaran di sejumlah sektor. Beberapa para akademisi mengatakan krisis kepercayaan kepada pemerintah bisa lebih besar apabila tidak ada perubahan dalam kebijakan pemerintah dalam waktu dekat. "Paling tidak aksi demonstrasi ini akan terus menjadi guncangan buat pemerintahan Prabowo yang secara faktual sudah merosot nilai dukungannya," kata akademisi dan sejarawan Andi Achdian (bbc, 21/02/2025).
Aksi mahasiswa menolak kebijakan yang dianggap merugikan rakyat patut kita apresiasi. Meski tidak sedikit juga pihak yang memandang sebelah mata aksi ini karena melihat tidak ada urgensitasnya. Tagar “Indonesia Gelap” juga menjadi indikasi bahwa kondisi negeri ini penuh dengan karut marut. Banyak persoalan muncul di sekitar kita yang jelas merugikan namun dipandang lumrah karena ditopang oleh undang-undang.
Isu yang disuarakan juga lekat dengan keberlangsungan hidup rakyat, seperti kelangkaan gas melon, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan juga pemangkasan anggaran bagi program sosial dan kesejahteraan rakyat. Tuntutan peserta aksi juga menyoroti problematika dalam aspek pendidikan, kesehatan dan juga lapangan pekerjaan. Aksi tidak hanya dilakukan di ibukota tetapi juga dilakukan di beberapa daerah lainnya.
Dengan demikian, cukup sudah menjelaskan kesalahan sistem sekuler kapitalisme, dalam membangun negara. Sistem ini hanya melahirkan pemimpin boneka yang tunduk pada kepentingan para oligarki. Demokrasi misalnya, dengan slogan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Sementara yang membuat hukum adalah manusia, jadi sudah pasti akan membuka lebar kerusakan di negeri ini.
Mengganti kepemimpinan saja tanpa merubah sistemnya, justru akan membuat Indonesia semakin gelap. Pemimpin terpilih hanya melanjutkan kerusakan demi kerusakan dari pemimpin sebelumnya.
Inilah sistem yang telah dirancang penjajah Barat untuk menjadikan negeri ini rusak dan penuh dengan problem. Kebijakan yang lahir dari sistem ini bukan menjadi solusi atas masalah negeri ini tapi justru solusi tambal sulam yang menggerogoti negeri ini dengan banyaknya polemik problem. Jika aksi yang dilakukan mahasiswa dan elemen masyarakat hanya ingin mengembalikan demokrasi, tentunya ini sama saja akan menjadi Indonesia gelap. Namun, jika arah perjuangan perubahan mahasiswa ini untuk menjadikan Indonesia menjadi terang, maka harus mengganti sistem hari ini dengan sistem yang terang yakni sistem Islam kaffah.
Islam memberi harapan dan solusi untuk menerangi Indonesia dan seluruh dunia dari kegelapan. Kepemimpinan dalam Islam adalah tanggung jawab dunia dan akhirat. Rasulullah SAW. bersabda :
“Imam adalah raa’in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).
Jadi, para pemimpin dalam Islam tahu betul amanah yang ada di pundaknya. Sudah tercatat dalam sejarah peradaban Islam, sosok pemimpin dalam Islam sangat berhati-hati dalam menjalankan amanah ini. Inilah yang menghantarkan mereka di setiap kebijakannya berlandaskan hukum Allah SWT. dan sunnah Nabi SAW. Ganti pemimpin tanpa mencabut akar masalah kerusakannya, adalah sebuah kesia-siaan. Saatnya mengembalikan kehidupan umat dengan cahaya hukum Islam untuk menerangi semua aspek kehidupan.
Sistem Islam kaffah inilah yang hanya akan menjadi solusi satu-satunya untuk negeri ini. Maka, mulailah dari sekarang perjuangkan untuk menegakkan sistem Islam kaffah dalam naungan Khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah. Adapun, kebijakan yang dikeluarkan oleh Khalifah adalah kebijakan yang akan memihak rakyat, tentunya sesuai dengan syariat Islam. Khalifah sebagai pengurus dan pelayanan rakyat akan bertanggung jawab penuh dalam pemenuhan kebutuhan pokok rakyatnya, justru rakyat tidak akan dibebani dengan masalah yang berat yang bukan menjadi tanggungannya.
Sistem Islam kaffah ini tidak akan bisa diterapkan dalam sistem demokrasi, karena demokrasi adalah sistem kufur buatan manusia, sedangkan Islam adalah sistem yang datang dari Maha Pencipta manusia yaitu Allah SWT. Hukum yang lahir dari sistem Islam akan memberikan keadilan bagi seluruh umat manusia, sedangkan hukum jahiliyah akan melahirkan hukum yang dzalim yang menyengsarakan manusia. Langkah yang harus dilakukan kita sebagai kaum muslimin yaitu mulai menyatukan langkah perjuangan bersama dengan kelompok ideologis. Sebuah partai politik Ideologis yang teguh untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya sistem Islam kaffah dalam institusi khilafah. Harus diyakini oleh seluruh kaum muslimin bahwasanya Khilafah akan kembali tegak sebagai bisyarrah dari Rasulullah SAW. Maka, solusi sejati bagi negeri ini bukanlah hanya pergantian kepemimpinan dalam sistem yang rusak, melainkan sistemnya ganti dengan sistem Islam yang sempurna.
Wallahu a'lam bish shawwab.
Tags
Opini
