Banjir Datang, Jangan Salahkan Alam



Oleh. Lilik Yani (Muslimah Peduli Umat)

Banjir lagi banjir lagi atau lagi-lagi banjir. Ah, sama saja intinya rakyat menderita karena bencana terulang setiap tahun, tapi pemimpin tak juga menemukan solusi untuk mengatasi tradisi tahunan ini.

Tradisi kok banjir, siapa yang mau mengalami. Sungguh menjadi masalah besar yang harus segera diatasi. Bukan saling mencari kambing hitam yang tak akan menemukan jalan keluar. Yang pasti jangan menyalahkan alam, curah hujan misalnya. Buktinya banjir kali ini tak dibarengi curah hujan tinggi, tapi mengapa banjir tetap melanda negeri?

Dilansir dari Kompas.com – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengungkapkan, banjir yang melanda wilayah Bekasi pada awal Maret 2025 bukan semata-mata disebabkan cuaca ekstrem. Ia menegaskan, perubahan lingkungan juga berkontribusi terhadap parahnya dampak banjir tersebut.

Dwikorita menjelaskan bahwa pada tahun 2020, curah hujan di Bekasi mencapai 236 mm per hari dan menyebabkan banjir besar. Namun, curah hujan pada awal Maret 2025 jauh lebih rendah, berkisar antara 103-141 mm per hari, tetapi banjir yang terjadi justru lebih tinggi. (12/3/25)

Evaluasi Tata Kelola Air

Berkaca dari banyaknya kejadian banjir akhir-akhir ini, mengingatkan pentingnya evaluasi tata kelola air dan penataan wilayah untuk menghindari dampak banjir yang semakin buruk. Untuk itulah hendaknya pemerintah dan masyarakat lebih waspada terhadap daerah yang berpotensi terdampak meskipun curah hujan tidak tinggi. 

Kita juga harus mewaspadai zona-zona yang barangkali curah hujannya tidak tinggi. Seperti area Puncak, area Pantura itu menjadi kewaspadaan, meskipun hujan tidak tinggi, namun bisa berpotensi mengalami hambatan yang sangat mengganggu. Kejadian banjir Bekasi pada Maret 2025 ini dapat menjadi pelajaran berharga, terutama dalam persiapan menghadapi arus mudik Lebaran mendatang. 

Demi keamanan masyarakat, seharusnya pemerintah segera mengambil tindakan, mencari solusi terbaik agar bencana banjir, tanah longsor dan lainnya tidak lagi terulang di negeri ini.

Jika fakta yang terjadi, berbagai bencana itu terjadi berulang setiap tahun, tanpa ada tindakan yang berarti demi keamanan rakyat. Masihkah percaya pada pemimpin yang setiap periode hanya bergantung oknum tanpa merubah sistemnya..

Kapitalis sekuler benar-benar kejam dan harus dibasmi. Sistem yang hanya menguntungkan sebagian kecil orang atau kelompok berduit. Sementara rakyat umumnya bukannya menjadi sejahtera karena pergantian oknum pemimpin baru, tapi ternyata jarak memisahkan antara yang kaya dan miskin semakin menganga.

Bencana Datang, Jangan Salahkan Alam

Bencana alam akan selalu datang, silih berganti, tidak memilih dia seorang beriman atau kafir, kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, besar ataupun kecil. Kalau Allah SWT sudah berkehendak (takdir), tidak ada yang dapat menghalangi, apalagi menentangnya.

Manusia hanya menjalani hidup di dunia ini sesuai dengan kodratnya. Tujuan hadirnya manusia di muka bumi, semata-mata menghamba kepada Allah SWT, seperti dalam Alquran Surah Az-Dzariyat: 56, “Tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Hujan yang turun dengan curah tinggi dalam waktu yang lama sebagian orang mengeklaim menjadi penyebab terjadinya bencana di muka bumi. Dampaknya tanah longsor dan pemukiman penduduk banjir, harta benda terendam, kendaraan hanyut, bahkan dapat merenggut nyawa manusia.

Padahal, ketika hujan turun seharusnya bersyukur, karena hal itu menunjukkan rahmat Allah SWT sedang turun ke bumi. Umat Muslim dituntut untuk berdoa. "Allahumma shoiban nafi'an, Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat,"(HR. Bukhari).

Musibah alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, apalagi gelombang tsunami, semua kehendak Allah SWT. Tak ada seorang manusia pun yang dapat memprediksi pasti musibah yang akan datang.

Manusia hanya bisa memprediksi dan berusaha meskipun dengan teknologi, tapi ingat penentu akhir Yang Maha Kuasa. Teknologi yang dibangga-banggakan orang dapat ini dan itu, hanya sebagai alat bantu semata bukan penentu. Ketika kita kufur jelas ada dampaknya, ketika kita bersyukur pasti ada manfaatnya.

Ketika musibah datang menimpa kita, tidak sepantasnya menyalahkan alam apa yang disebut bencana alam, apalagi yang menciptakan alam tersebut. Kita lupa siapa yang menciptakan alam dan manusia dari tidak ada menjadi ada.

Bencana Datang Karena Ulah Manusia

Ketika Allah SWT menurunkan hujan di bumi sesuai dengan kadarnya, tidak lebih dan tidak kurang. Penyebab banjir dan tanah longsor bukan karena hujan yang curah tinggi dan lama, akan tetapi karena ulah manusia yang serakah dengan mengubah ritme alam yang sedang dikelolanya.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” (QS. Ar-Rum: 41).

Kita lihat banyak hutan-hutan digunduli sehingga tidak dapat bervegetasi, satwa hutan diburu sehingga memutuskan jalur simbiosis mutualisme, buang sampah di saluran (kanal/kali) air sehingga sempitnya arus turun air , bibir pantai direklamasi dibuat perumahan, kantor, mal atau hotel sehingga hilangnya ruang gerak air.

Daerah-daerah resapan air seperti rawa dan sawah disulap menjadi perkebunan besar atau pertambakan yang terbentang luas yang berdampak tangkapan air hilang. Semua atas keserakahan manusia mulai dari pucuk pimpinan hingga rakyat biasa, tanpa sedikitpun memedulikan dampak negatifnya.

Masihkah kita menyalahkan alam? Siapa yang patut disalahkan? Manusia salah bukan alam. Alam sudah banyak memberikan kehidupan manusia. Alam selalu bertasbih kepada Rabb-Nya. Tapi, manusia memang tamak dan serakah kepada alam. 

Solusi Banjir Menurut Islam

Agar kejadian banjir ini tidak terulang terus menerus, maka perlu ada upaya yang ditempuh dengan serius dan sungguh-sungguh baik itu dari rakyat terlebih pemerintah. Terutama pemerintah, perlu mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam mengatasi banjir.

Dalam negara yang menerapkan sistem Islam, untuk mengatasi banjir dan genangan, negara memiliki kebijakan canggih dan efisien. Kebijakan tersebut mencakup sebelum, ketika, dan pasca banjir. Kebijakan untuk mencegah terjadinya banjir adalah sebagai berikut;

Pertama, pada kasus banjir yang disebabkan karena keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan air, baik akibat hujan, gletsyer, rob, dan lain sebagainya, maka negara akan menempuh upaya-upaya sebagai berikut.

1. Membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan, dan lain sebagainya. Di masa keemasan Islam, bendungan-bendungan dengan berbagai macam tipe telah dibangun untuk mencegah banjir maupun untuk keperluan irigasi. Di Provinsi Khuzestan, daerah Iran selatan misalnya, masih berdiri dengan kokoh bendungan-bendungan yang dibangun untuk kepentingan irigasi dan pencegahan banjir.

2. Negara akan memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air (akibat rob, kapasitas serapan tanah yang minim dan lain-lain), dan selanjutnya membuat kebijakan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah-wilayah tersebut

3. Negara membangun kanal, sungai buatan, saluran drainase, atau apa namanya untuk mengurangi dan memecah penumpukan volume air; atau untuk mengalihkan aliran air ke daerah lain yang lebih aman. Secara berkala, mengeruk lumpur-lumpur di sungai, atau daerah aliran air, agar tidak terjadi pendangkalan.
4. Membangun sumur-sumur resapan di kawasan tertentu. Sumur-sumur ini, selain untuk resapan, juga digunakan untuk tandon air yang sewaktu-waktu bisa digunakan, terutama jika musim kemarau atau paceklik air.

Kedua, dalam aspek undang-undang dan kebijakan, negara akan menggariskan beberapa hal penting seperti kebijakan tentang master plan, mengeluarkan syarat-syarat tentang izin pembangunan bangunan, membentuk badan khusus yang menangani bencana-bencana alam yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan.
 
Alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana, menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai daerah cagar alam yang harus dilindungi, menetapkan kawasan hutan lindung, dan kawasan buffer yang tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan izin, terus menerus mensosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta kewajiban memelihara lingkungan dari kerusakan.

Demikian Islam mengatur semua masalah dengan sangat rapi dan penuh pertimbangan. Semua aktivitas orientasinya adalah rida Allah. Jadi hanya solusi yang sesuai aturan Allah yang diterapkan. Dengan begitu maka keamanan dan kesejahteraan masyarakat yang diharapkan, bukan keuntungan individu atau golongan semata.

Wallahualam bissawab



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak