Al-Qur'an sebagai Pedoman Hidup Individu, Masyarakat, dan Negara



Oleh: Windy Febrianti 



Setiap bulan Ramadan kaum muslim biasanya menyelenggarakan peringatan Nuzulul Qur'an. Tentu karena Al-Qur'an Allah SWT ini diturunkan pada bulan Ramadhan seperti dikutip di dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

وَاِ ذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَا بَةً لِّلنَّا سِ وَاَ مْنًا ۗ وَا تَّخِذُوْا مِنْ مَّقَا مِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّى ۗ وَعَهِدْنَاۤ اِلٰۤى اِبْرٰهٖمَ وَاِ سْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّآئِفِيْنَ وَا لْعٰكِفِيْنَ وَا لرُّکَّعِ السُّجُوْدِ


"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ism'ail, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang itikaf, orang yang rukuk, dan orang yang sujud!""
*(QS. Al-Baqarah 2: 185)

Pada 16 Ramadan 1446 Hijriah Kementrian Agama menggelar 350 ribu khataman Al-Qur'an. Program ini bertajuk Indonesia Khataman Al-Qur'an di Sulsel di pusatkan di Aula kantor Wilayah kemenag Sulsel Makassar (metrotvnews.com). Di Cibinong, Wakil Bupati Kabupaten, Jaro Ade dan masyarakat sekitar juga melakukan peringatan Nuzulul Qur'an yang diselenggarakan di Masjid Agung Nurul Faizin, Cibinong. Dalam peringatan Nuzulul Qur'an ini Jaro Ade menyampaikan pentingnya kegiatan Nuzulul Qur'an ini untuk mengingatkan umat Islam akan peran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. 
Ia juga menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah pedoman hidup yang harus terus dipelajari, dipahami, dan diamalkan (kabarindoraya.com, 16/3/2025).

Setiap tahun masyarakat dan juga aparatur negara Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam selalu memperingati Nuzulul Qur'an. Akan tetapi sampai saat ini umat Islam masih hidup di bawah aturan yang tidak bersumber dari Al-Qur'an, melainkan dari akal manusia. 

Saat ini hampir diseluruh penjuru dunia menganut sistem Demokrasi kapitalisme. Sistem ini menjadikan akal manusia sebagai sumber aturan kehidupan. Padahal, manusia adalah makhluk lemah. Sehingga berpotensi adanya pertentangan dan berkonsekuensi lahirnya permasalahan. 
Al-Qur’an tidak hanya wajib menjadi pedoman bagi setiap individu dan masyarakat muslim. Akan tetapi Al-Qur’an pun wajib menjadi pedoman dalam kehidupan bernegara. Ini karena Al-Qur’an adalah mukjizat paling agung yang Allah Swt. turunkan kepada manusia. Allah Swt. berfirman, “Andai Al-Qur’an ini Kami turunkan di atas gunung, kamu (Muhammad) pasti akan menyaksikan gunung itu tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah. Perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka mau berpikir.” (QS Al-Hasyr 59:21).

Namun hari ini, justru individu
Yang berpegang pada Al-Qur'an dan mengajak untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai aturan hidup dianggap radikal. Dalam sistem ini, prinsip kedaulatan di tangan rakyat menjadikan manusia sebagai penentu hukum, berdasar hawa nafsu dan kepentingannya Berpegang pada Al Qur’an sejatinya konsekuensi keimanan dan harusnya terwujud pada diri setiap muslim.  

Apalagi jika ingin membangun peradaban manusia yang mulia, Al Qur’an harus menjadi asas kehidupan. Namun hari ini Al Qur’an diabaikan meski peringatan nuzulul Qur’an setiap tahun diadakan, bahkan oleh negara. 

Umat harus menyadari kewajiban berpegang pada Al qur’an secara keseluruhan dan memperjuangan untuk menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dalam semua aspek kehidupan Dibutuhkan dakwah kepada umat yang dilakukan oleh jamaah dakwah ideologis untuk membangun kesadaran umat akan kewajiban menerapkan Al Qur’an dalam kehidupan secara nyata, tidak hanya bagi individu, namun juga oleh masyarakat dan negara.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak