Palestina, Retorika Tanpa Tindakan Nyata




Oleh : Sri Setyowati
(Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)



Zionis Yahudi kembali melancarkan serangan darat besar-besaran di Gaza Utara pada 5 Oktober 2024. Pengeboman dilakukan di berbagai lokasi, terutama di sekitar Rumah Sakit Al-Awda dan Rumah Sakit Kamal Adwan. Zionis menargetkan bangunan yang tersisa di beberapa wilayah tersebut dengan dalih mencegah berhimpunnya kembali kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Namun, masyarakat Palestina menyebut niat Zionis Yahudi sebenarnya adalah untuk menduduki kembali Gaza Utara dan mengusir warga Palestina yang masih bertahan di sana. Zionis Yahudi terus menghalangi pengantaran bantuan kemanusiaan, seperti pangan, obat-obatan, dan bahan bakar yang penting untuk bertahan hidup. Masyarakat Palestina di Gaza Utara kini terancam kelaparan dan kematian.

Setelah lebih dari 80 hari agresi tanpa henti terhadap Gaza Utara, jumlah korban telah melampaui 4.800 orang termasuk orang yang hilang, lebih dari 12.500 terluka, dan lebih dari 1.900 orang ditahan. Agresi Zionis Yahudi yang terus berlangsung tersebut menargetkan manusia dan infrastruktur, menghancurkan elemen penting kehidupan seperti rumah sakit, sekolah, rumah tinggal, dan fasilitas vital lainnya. Akibat serangan Israel yang terus berlanjut di jalur Gaza, lebih dari 45.000 orang yang sebagian besar perempuan dan anak-anak di Gaza meninggal dunia dan menyebabkan wilayah tersebut hancur total.

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana  Menteri Zionis Yahudi Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Zionis Yahudi  juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkannya di wilayah tersebut. (republika.co.id, 28/12/2024)

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 yang berlangsung di Kairo, Mesir, pidato Presiden Prabowo pun menyoroti lemahnya solidaritas di antara negara muslim terkait isu-isu penting seperti Palestina, Lebanon, dan Suriah. Beliau mengingatkan negara-negara Islam (OKI) agar bersatu dalam mendukung Palestina merdeka. Menurut Prabowo, meskipun banyak negara muslim mengeluarkan pernyataan dukungan, langkah nyata untuk menciptakan perubahan masih minim. (beritasatu.com, 20/12/2024)

Meskipun ICC dan ICJ menggugat, Zionis Yahudi tidak kunjung menghentikan agresi genosidanya ke jalur Gaza. Banyak pemimpin muslim termasuk Indonesia yang mengucapkan simpati, mengutuk, mengecam dan semacamnya, tetapi tentu saja tidak dapat menyelesaikan  terhadap krisis yang menimpa rakyat Palestina. Hingga saat ini belum ada sikap tegas mereka untuk melakukan aksi nyata mengusir Zionis Yahudi dari bumi Palestina. Padahal mereka mempunyai kekuatan militer besar yang bisa dipakai untuk menyelamatkan Palestina dengan menghancurkan Zionis Yahudi. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi,  beberapa penguasa Arab dan muslim tetap menjalin hubungan diplomatik dengan Zionis Yahudi. Karena itu tanpa pengiriman pasukan, pembelaan terhadap Palestina hanyalah sekedar retorika.

Sekat nasionalisme menjadikan muslim antar negara tidak merasa Palestina adalah saudara seaqidah yang wajib dibela. Masing-masing negara sibuk dengan urusan masing-masing tanpa peduli dengan saudaranya yang sedang terzalimi bahkan mereka berkekutu dengan kezaliman tersebut karena takut kehilangan dukungannya. Mereka menuduh para pejuang Islam seperti Hamas yang sedang berusaha membebaskan tanah airnya sebagai kelompok teroris. 

Perlawanan kaum muslim Palestina adalah jihad fi sabilillah, bukan tindakan terorisme seperti yang dipropagandakan Zionis Yahudi dan negara-negara Barat. Para pejuang Palestina mengangkat senjata untuk mempertahankan negeri muslim dari serangan kaum kuffar dan mengusir mereka. Ini adalah pelaksanaan firman Allah SWT, "Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian." (TQS Al-Baqarah [2]: 191)

Ketakberdayaan para pemimpin dunia dan lembaga-lembaga internasional menunjukkan kegagalan sistem kapitalisme demokrasi dalam mewujudkan dunia yang aman dan berkeadilan. Karena itu, Palestina butuh solusi hakiki yaitu jihad dan khilafah dengan khalifah sebagai pemimpinnya. Khalifah akan memobilisasi kaum muslim untuk berjihad melawan Zionis Yahudi. Khilafah juga akan menyatukan negeri-negeri muslim yang terpecah-pecah akibat konsep nation state (negara bangsa) menjadi satu kekuatan besar yang akan disegani dan ditakuti dunia termasuk Zionis Yahudi.

Wallahu a'lam bi ash-shawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak