Oleh : Nurfillah Rahayu
( Forum Literasi Muslimah Bogor)
Kenaikan PPN menjadi 12 persen yang akan ditetapkan pada Januari 2025 sudah tidak bisa ditarik meskipun berbagai pihak mengajukan keberatan.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis merupakan salah satu alasan tarif pajak pertambahan nilai atau PPN 12 persen resmi berlaku mulai 1 Januari 2025.(beritasatu.com/16 Desember 2024)
Lagi lagi alasan makan bergizi gratis dijadikan alasan. Padahal jika pemerintah ingin memberikan makan bergizi gratis tidaklah elok jika diambil dari uang rakyat dengan cara paksaan seperti ini. Karena kenaikan PPN tetap diberlakukan. Meski pemerintah memberikan batasan barang-barang yang terkena kenaikan PPN, namun sejatinya kebijakan tersebut tetap memberatkan rakyat. Bahkan meski ada program bansos dan subsidi PLN, penderitaan rakyat tak terelakkan.
Ini adalah contoh kebijakan penguasa yang populis otoriter. Pemerintah merasa cukup sudah memberikan bansos, subsidi listrik, dan menetapkan barang-barang tertentu yang terkena PPN. Padahal kebijakan tersebut tetap membawa kesengsaraan pada rakyat. Protes rakyat dalam bentuk petisi penolakan kenaikan PPN diabaikan. Sistem demokrasi yang katanya bisa memberikan keputusan berdasarkan hasil musyawarah nyatanya tak dapat mengubah keputusan yang semakin menyulitkan rakyat ini.
Padahal Rasulullah SAW jelas membenci pemimpin zalim juga dijelaskan dalam salah satu hadits. Disebutkan, Rasulullah SAW turut mendoakan keburukan bagi pemimpin tersebut.
Seperti dalam Hadits Riwayat berikut ini :
"Wahai Allah, barangsiapa yang memimpin suatu urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka maka susahkanlah dia." (HR Muttafaq 'alaih)
Ancaman bagi pemimpin zalim sudah diperingatkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya. Sebaliknya, Rasulullah SAW lebih menekankan kewajiban bagi seorang pemimpin dengan mengayomi rakyatnya.
Makna zalim dalam Al-Qur'an juga dapat diebut sebagai bengis, kejam, tidak punya belas kasihan, dan tidak adil.
Untuk itu dibutuhkan Sistem yang sempurna mengatur kehidupan. karena
Islam menjadikan penguasa sebagai raa’in dan junnah. Islam menetapkan bagaimana profil penguasa dalam Islam dan juga mengatur bagaimana relasi penguasa dengan rakyatnya.
Penguasa dalam Islam wajib mengurus rakyat dan mewujudkan kesejahteraan individu per individu.
Islam mewajibkan penguasa membuat Kebijakan yang tidak menyulitkan hidup rakyat. Sehingga Suara rakyat tidak terbaikan, dengan demikian kesejahteraan akan didapatkan oleh seluruh rakyat.
Wallahua'lam Bishowab
Tags
Opini