Oleh: Nayla Adzkiya Amin
Palestina adalah negara yang menjadi sasaran empuk Zionis hingga kini. Palestina bersimbah darah tanpa henti, penduduk Palestina dianggap Zionis bukan sebagai manusia yang layak diberi kehidupan. Parahnya hal itu bersamaan dengan upaya seluruh dunia yang gencar menyuarakan human rights. Tetapi, jika isu yang dibawa adalah isu Palestina, maka organisasi sebesar PBB pun bungkam. Pemimpin di negeri mayoritas muslim juga memalingkan wajah, tak peduli.
Sungguh miris, korban terus berjatuhan hingga kurang lebih mencapai 400.000 dan didominasi oleh perempuan serta anak-anak. Kesejahteraan yang buruk, bom, dan rudal setiap hari menghantui mereka, begitu pula dengan krisis air, krisis makanan, dan krisis fasilitas kesehatan. Jelas ini adalah penyiksaan yang kejam.
Atas keperihan itu, banyak sekali umat muslim bahkan umat seluruh dunia menginginkan keadilan bagi mereka. Berbagai cara telah dilakukan, tetapi problem yang utama adalah individu tidak memiliki kuasa yang besar sehingga tidak mampu untuk mengusir para penjajah. Bantuan yang sudah diberikan oleh individu-individu nyatanya hanya mampu menjadi bantuan sementara, tetapi yang utama adalah mereka perlu dimerdekakan.
Apalah artinya bantuan materi dan makanan jika mereka tidak memiliki kemerdekaan. Kita sebagai saudara muslim belum mampu membuat mereka merdeka, sedangkan Zionis terus mendapat pasokan dan arahan untuk menghabisi saudara kita.
Hendaknya kaum muslim juga mampu menyuplai senjata dan pasukan professional penggerak senjata. Jika tidak begitu, bukankah kita terlihat sekali sebagai jiwa-jiwa bermental rapuh? Mental yang hanya diam melihat perbuatan buruk yang menimpa saudara kita.
Semua negeri bungkam, mereka selalu berpikir bahwa itu bukanlah urusan mereka karena itu bukanlah negara mereka. Jika pemimpin negeri muslim terus memilih bungkam tanpa ada aksi nyata, haruskah kita juga diam? Hanya karena mereka bukanlah penduduk dari negeri kita.
Maka dari itu, tugas kita adalah menyadarkan umat untuk menuntut keadilan dengan kepemimpinan Islam. Kita butuh politik Islam untuk melindungi martabat seluruh umat muslim di dunia, termasuk penduduk Palestina.
Dalam islam, keselamatan seorang muslim adalah meraih sejahtera di dunia dan akhirat. Politik Islam memiliki cara mulia dalam memperlakukan manusia, sebagaimana Islam adalah rahmat untuk seluruh alam.
Sayangnya, umat muslim terpecah-belah dan terkotak-kotak atas nama negara, hingga melupakan saudara di belahan bumi yang lain. Bukankah persaudaraan paling erat adalah persaudaraan karena iman dan taqwa? Itulah persaudaraan yang tak pernah habis bahkan sampai maut memisahkan.
Dengan segala hal yang terjadi, politik Islamlah satu-satunya yang mampu menyelesaikan permasalahan Palestina. Hanya dengan penerapan Islam kafahlah akan terbangun struktur Islam, kekuatan, dan dengan kepemimpinan Islam mudah bagi negara untuk mengirimkan pasukannya untuk menggilas Zionis hingga ke akar.
Sungguh hanya dengan bersatunya kaum muslim di seluruh dunia atas di bawah kepemimpinan Islamlah kita akan menggapai kedamaian hakiki dan jauh dari segala tindak penindasan yang sebagaimana saudara kita di Palestina rasakan.
Sudah saatnya kaum muslim dunia bersatu, menyeru, dan bergegas untuk meraih kemenangan hakiki dengan menerapkan Islam secara kafah di muka bumi. Sebab sebagaimana janji Allah, “Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath: 1). Dengan menggenggam aturan-Nya maka Allah akan membukakan jalan dan menjadi sebaik-baik penolong.
Wallahu a’lam bishshawab
Tags
Opini
