Oleh: Sarah Fauziah Hartono
Hari Guru Nasional yang dirayakan setiap tanggal 25 November, menjadi hari penting untuk mengingat jasa-jasa mereka dalam mendidik penerus generasi.
Perayaan Hari Guru Nasional tahun 2024 dilangsungkan tema "Guru Hebat, Indonesia Kuat" (liputan6.com, 22/11/2024). Tema ini berlatarbelakang menggambarkan dedikasi guru hebat yang sudah mencurahkan waktu, ilmu, tenaganya untuk membimbing dan membina murid.
Namun, tidak semua guru menjalankan peran sebagai "guru hebat", malah banyak yang berbuat bejat terhadap anak didiknya. Misalnya saja kasus penangkapan seorang guru SD di Grobogan, setelah melakukan pelecehan seksual terhadap siswinya yang baru menginjak kelas satu SD (detik.com, 14/10/2024).
Itu hanya salah satu kasus dari sekian banyaknya perbuatanguru yang tidak mencerminkan pendidik hebat. Kenapa itu bisa terjadi?
Guru, sebagai pilar peradaban, sering kali diabaikan dalam sistem Sekulerisme-Kapitalisme. Mereka menghadapi gaji rendah, minim perlindungan, dan tekanan hidup yang mendorong perilaku kontraproduktif.
Sistem kapitalisme memandang guru sebagai alat produksi, bukan pendidik berperan strategis. Pendidikan kehilangan nilai ruhiah karena orientasi materi, yang memperparah kondisi guru dan generasi.
Lingkungan yang tercipta dari sistem ini pun membuat mereka melupakan konsekuensi sebagai hamba yang akan diperhitungkan segalanya, juga hilang rasa kasih sayang terhadap anak didik sehingga membuat mereka terbutakan nafsu.
Islam menawarkan solusi melalui sistem Khilafah yang memuliakan guru. Dalam sistem Islam, guru mendapat gaji besar (setara miliaran rupiah), fasilitas pendidikan gratis, perlindungan hukum, dan seleksi ketat untuk memastikan kualitasnya.
Murid diajarkan menghormati guru dengan adab yang luhur, dan kebutuhan dasar publik seperti kesehatan serta pendidikan disediakan gratis.
Juga adanya sanksi yang jelas untuk para pelaku kejahatan. Sanksi yang bisa menjerakan dan membuat orang lain enggan melakukannya.
Hanya dengan kembali pada syariat Islam secara kafah, kesejahteraan dan kehormatan profesi guru dapat terwujud, sekaligus menciptakan generasi yang cerdas dan bertakwa.
Tags
Opini
