Tanpa Junnah, akankah Derita Umat Islam Berakhir?



Oleh Rosma Asfary Tamira, M.Pd



Berbagai peristiwa tragis seolah enggan pergi dan terus menghantui umat Islam di seluruh dunia. Sebagaimana derita dan kepedihan yang terus dirasakan oleh umat muslim di Palestina, Uighur, Rohingya, Suriah dan negeri-negeri Muslim lainnya. Tiada hentinya mereka mendapatkan penderitaan dan siksaan hingga harus menumpahkan darah dan air mata setiap harinya. Namun dengan banyaknya darah kaum muslimin yang telah tertumpah, akankah dapat menggerakkan empati para penguasa negeri muslim? Mirisnya hingga detik ini pun mereka masih saja tetap bungkam. Bungkamnya para penguasa negeri muslim disebabkan karena tumbuh suburnya paham nasionalisme dan juga adanya berbagai kepentingan untuk negara mereka, seperti kepentingan politik, ekonomi dan sebagainya, sehingga menyebabkan mereka menutup mata dan hati atas tragedi kemanusiaan yang sedang menimpa saudara-saudara seiman mereka.

Umat Islam Senantiasa Teraniaya

Muslim rohingya telah lama menjadi korban genosida di Myanmar, negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Mereka terus diburu dan dianiaya hanya karena mereka memiliki akidah yang berbeda. Bahkan, baru-baru ini terjadi serangan pesawat nirawak atau drone terhadap muslim rohingya yang melarikan diri dari Myanmar dan telah menewaskan 150 orang muslim rohingya.

Hal menyedihkan yang sama juga masih terus terjadi terhadap saudara Muslim kita di bumi Palestina. Mereka terus menerus dibombardir dengan serangan udara oleh tentara zionis hingga tidak ada satu tempat pun di Palestina yang dirasa cukup aman oleh warganya. Bahkan hampir setiap hari kita mendengar dan melihat berita mengenai derita Palestina. Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan, sedikitnya 39.790 orang telah tewas dan 92.002 orang terluka di Jalur Gaza akibat serangan Israel sejak Oktober 2023. (https://kompas.com). Serangan terbaru zionis terjadi pada hari Sabtu pagi, 10 Agustus 2024. Mereka menyerang sebuah sekolah yang menjadi tempat pengungsian di kota Gaza. Serangan tersebut terjadi ketika warga Gaza sedang melakukan sholat subuh dan berhasil menewaskan 93 orang warga Gaza.

Walaupun zionis Israel sudah mendapatkan peringatan dari PBB untuk melakukan gencatan senjata namun hal tersebut nampaknya tidak memberikan pengaruh apapun. Mereka tetap berani menyerang dan menghancurkan Palestina. Hal ini disebabkan karena mereka terus mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Inggris. Kedua negara adidaya tersebut berdiri dibelakang Israel dan terus memberikan dukungan baik dana untuk perang maupun pasokan senjata untuk tentara zionis. Konflik Palestina ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai perang karena yang dilawan tentara zionis bukanlah tentara militer Palestina melainkan warga sipil.



Umat Membutuhkan Junnah (Perisai) sebagai Pelindung

Semua konflik yang sedang terjadi di beberapa negeri muslim saat ini bukan semata persoalan kemanusiaan saja tetapi juga persoalan agama karena kaum muslimin tidak boleh membiarkan pembantaian umat Islam di manapun. Nasib umat akan terus terpuruk selama tidak ada junnah bagi kaum muslimin di manapun sehingga kaum muslimin akan selalu ditindas di mana saja.

Sungguh berbeda dengan umat Islam yang mulia dan terhormat sejak Rasulullah membangun negara Islam di Madinah. Yang dilakukan Rasulullah saat mendengar ada seorang laki-laki muslim dibunuh di pasar Bani Qoinuqa. Ia dikeroyok oleh orang-orang Yahudi, maka Rasulullah tidak tinggal diam. Sebagai kepala negara, beliau bersikap tegas dengan mengusir orang-orang Yahudi Qoinuqa dari Madinah. Kebaikan terus berlanjut hingga saat Khilafah runtuh. 

Sungguh umat sangat membutuhkan junnah atau perisai, sebagaimana Nabi memerintahkan agar dengan perisai itu akan mampu melindungi umat ini. Maka para ulama telah sepakat untuk menegakkan Al Imam atau Khalifah. Khalifah inilah yang akan menerapkan syariah Allah dan dengan syariah-Nya inilah kebaikan-kebaikan akan dirasakan oleh seluruh umat manusia. Keadilan akan tegak dan kedzaliman akan disingkirkan.

Lemahnya kaum muslimin saat ini karena umat tidak bersatu. Umat harus disatukan dalam satu institusi bersama, seperti pada masa dulu, dalam naungan Khilafah. Untuk membangun kesadaran umat akan pentingnya persatuan umat membutuhkan keberadaan kelompok dakwah Islam ideologis, seperti Hizbut Tahrir. Tujuan dibentuknya kelompok dakwah Islam ideologis adalah untuk membangkitkan kembali umat Islam dengan kebangkitan yang benar melalui pemikiran yang tercerahkan.

Sejatinya segala persoalan yang terjadi di negeri-negeri muslim adalah karena umat Islam telah meninggalkan syariahnya. Islam tidak lagi dijadikan solusi atas segala persoalan. Oleh karena itu, solusi dari segala persoalan yang ada pada kaum muslimin adalah dengan menegakkan kembali syariah Islam secara kaffah. Dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah, umat akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, kenikmatan duniawi yang diridhai Allah SWT dan kenikmatan akhirat yang abadi kelak. Hal ini hanya dapat terwujud ketika Khilafah Islam dapat ditegakkan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak