Oleh Siska Juliana
Peringatan HUT RI ke-79 tinggal menunggu hari. Tentu saja perayaan ini disambut meriah oleh seluruh masyarakat Indonesia. Terutama bagi para pejabat pemerintahan. Apalagi peringatan tahun ini terasa spesial, sebab untuk pertama kalinya upacara peringatan kemerdekaan Indonesia akan diadakan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam peringatan ini, segala sesuatu dipersiapkan dengan baik. Salah satunya yaitu dengan menyewa mobil untuk memenuhi kebutuhan kendaraan di IKN, yaitu untuk para pejabat dan tamu kenegaraan.
Hanya saja, harga sewa mobil melonjak lebih dari 100 persen di IKN. Misalnya harga sewa Fortuner Rp5 juta, HiAce Rp15 juta, dan Alphard yang mencapai Rp25 juta per hari.
Menurut Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Rental Mobil Daerah Indonesia (Asperda) Kalimantan Timur Damun Kiswanto, meningkatnya harga sewa mobl disebabkan oleh kurang tersedianya mobil di IKN, sehingga harus mendatangkan dari daerah lain, seperti Surabaya, Jakarta, Sidoarjo, Semarang, Solo, Makassar, Bali, dan Palu.
Ia mengungkapkan biaya pengiriman dari luar kota dan luar pulau bisa mencapai Rp13 juta untuk satu unit. (otomotif.kompas.com, 08/08/2024)
Dari fakta di atas, dapat dilihat bahwa pemerintah rela menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk transportasi para pejabat ke perayaan HUT RI. Apalagi mobil yang disewa merupakan mobil mewah.
Hal ini berpotensi melukai hati rakyat, terutama rakyat kecil. Di saat kesulitan hidup bertubi-tubi melanda masyarakat. Mulai dari kesulitan mencari pekerjaan, harga bahan makanan pokok yang meroket, mahalnya layanan pendidikan dan kesehatan, serta masih banyak lagi.
Selain itu dengan menyewa mobil mewah, menunjukkan jika para penguasa suka hidup dalam kemewahan. Mirisnya, semua kemewahan itu dibiayai oleh pajak dari rakyat.
Inilah watak asli kapitalisme, di mana materi dan kesenangan jasadi yang menjadi tujuannya. Asas kapitalisme adalah sekuler yaitu memisahkan aturan agama dari kehidupan. Alhasil, setiap perilaku individu tidak terikat aturan agama, akan tetapi sesuai dengan kehendaknya sendiri. Gaya hidup bebas dan mewah telah menjadi kebiasaan.
Dengan begitu, perilaku penguasa dalam kapitalisme senantiasa membawa kesengsaraan bagi masyarakat. Penguasa hanya berfungsi sebagai regulator saja, sebab kebijakan yang diambil sering kali berpihak kepada para oligarki. Sedangkan pada rakyat sendiri sangat minim simpati.
Oleh karena itu, kerusakan dan kesengsaraan hidup yang ditimbulkan oleh kapitalisme harus segera diakhiri. Solusinya yaitu dengan menerapkan Islam secara kafah di bawah institusi negara.
Islam merupakan ideologi (mabda) yang sahih karena berasal dari Allah Swt. Sebagai sebuah ideologi, Islam tidak hanya mengatur ibadah mahdah saja, akan tetapi dapat mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Islam memandang bahwa penguasa atau khalifah merupakan raa'in (pengurus) dan junnah (pelindung) rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda,
"Imam adalah raa'in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR. Bukhari)
Khalifah sebagai raa'in merupakan hukum syariat yang hukumnya wajib. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
"Tidaklah seorang manusia yang diamanati Allah Subhanahu wa Taala untuk mengurus urusan rakyatnya, lalu mati dalam keadaan ia menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya." (HR. Bukhari)
Dalam hadis itu dijelaskan ancaman yang diberikan kepada penguasa yang tidak melayani rakyatnya dengan baik, yaitu diharamkan surga baginya.
Peradaban Islam telah mencontohkan bagaimana sikap khalifah dalam mengurusi rakyatnya. Misalnya pada saat kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.
Dijelaskan dalam Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir meriwayatkan dari Thariq bin Syihab bahwa ketika Umar bin Khattab ra. datang ke salah satu daerah kekuasaannya yaitu negeri Syam. Kemudian beliau disambut oleh Gubernur Syam, Abu Ubaidah ra., para tokoh, dan rakyat di pintu gerbang Kota Damaskus.
Beliau turun sendiri dari tunggangannya, menuntun sendiri untanya. Lalu mengepit kedua sepatu di ketiaknya untuk menyeberangi sungai kecil. Abu Ubaidah bertanya kepadanya mengapa khalifah melakukan ini di saat para tokoh dan pembesar Syam menyambutnya.
Khalifah Umar membentaknya dan berkata, "Wahai Abu Ubaidah, sesungguhnya engkau dahulu adalah bangsa yang hina, rendah, dan miskin, kemudian Allah muliakan kalian dengan Islam. Jika kalian mencari ketinggian martabat dengan selain Islam, niscaya Allah akan rendahkan derajat kalian."
Dari kisah tersebut, Khalifah Umar memberi teladan sikap sederhana yang seharusnya dilakukan oleh penguasa. Jika penguasa menggunakan syariat Islam dalam berperilaku, maka rakyat tidak akan dibuat sengsara dengan adanya penyewaan mobil-mobil mewah untuk kenyamanan penguasa dan kawanannya.
Oleh karena itu, hanya dengan penerapan Islam secara kafah, penguasa dapat melayani dan mengurus kebutuhan rakyatnya dengan baik, serta memberikan kesejahteraan yang teramat sangat. Wallahu'alam bishshawab.
Tags
Opini
