Pemilu AS dan Dukungannya pada Israel



Oleh : Tri Silvia 
(Pemerhati Masyarakat) 



Beberapa waktu lalu, publik sempat dibuat heboh dengan berita ditembaknya Donald Trump (mantan Presiden Amerika) saat berpidato jelang pemilu di tengah warga Pennsylvania. Ramai media menganalisis kejadian tersebut, mereka bermain tebak-tebakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kejadian tersebut asli -mengingat adanya korban-, ataukah hanya sebuah konspirasi. 

Di luar hebohnya peristiwa Donald Trump, mundurnya Biden sebagai calon presiden menjadi babak baru hiruk-pikuk perpolitikan Amerika. Biden secara tidak terduga mengundurkan diri, untuk kemudian digantikan posisinya oleh Kamala Harris.

Di pemilu kali ini, isu Palestina-Israel mengemuka di tengah hiruk-pikuk publik mereka. Ada beberapa kritik yang dikemukakan oleh pemerintahan Biden terhadap apa yang dilakukan oleh Israel. Dan yang terbaru, terkait Rancangan Undang-undang (RUU) Pemerintah Israel yang menyatakan United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) sebagai organisasi teroris. UNRWA sendiri merupakan badan ataupun lembaga pengungsi yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Atas tuduhan tersebut, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Matthew Miller menyampaikan dengan jelas jika UNRWA bukan organisasi teroris dan mendesak pemerintah Israel dan lembaga parlemen nya untuk menghentikan proses pengesahan undang-undang tersebut. Selain itu, yang bersangkutan pun menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Israel kali ini jelas tidak akan banyak membantu. Sebab pihak Israel sendiri tidak memberi keleluasaan pada badan sosial manapun untuk memberi bantuan kemanusiaan pada warga sipil di jalur Gaza. (DetikNews, 25/7/2024) 

Selain tentang UNRWA, pemerintah Amerika pernah mengkritik Israel terkait penggunaan senjata yang mereka suplai. Pemerintah Amerika menilai adanya kemungkinan penggunaan senjata yang melanggar prinsip-prinsip hukum Internasional tentang hak asasi manusia (HAM). Dalam hal ini, meskipun tidak ada upaya untuk membuktikan pernyataan tersebut. Amerika sempat menahan satu paket senjata yang sedianya akan dikirimkan ke Israel.  (VoaIndonesia.com, 11/5/2024) 

Selain dua kritik di atas, ada beberapa kritikan lain yang digelontorkan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Biden saat ini. Sampai-sampai lawan politiknya saat itu Donald Trump mengejek Biden seperti orang Palestina yang sangat buruk dan lemah. Pertanda apakah ini? Apakah kaum Muslim akan berpihak kemudian atau akan mulai melunturkan kebenciannya pada Amerika Serikat. 

Menjadi hal yang sangat penting untuk kita telaah bersama mengingat AS sebagai negara adidaya, yang memproklamirkan diri sebagai penjaga perdamaian dunia. Keberpihakan mereka pastinya amat diperhitungkan. Oleh seluruh dunia, termasuk segelintir kaum muslimin tentu saja. Mereka menaruh sedikit harapan pada AS agar bisa menghentikan genosida di Palestina. 

Ada beberapa hal yang harus kita pahami bersama;
1. Berbagai kritik yang digelontorkan oleh pemerintah Amerika Serikat di bawah Biden tidak memiliki pengaruh apapun pada hubungan internasional antara Israel-Amerika. Nyatanya hingga hari ini, tak ada satupun kritik Amerika maupun lembaga di bawahnya yang diterima dan menghasilkan kebaikan bagi warga Gaza. 
2. Amerika tidak akan pernah bergeser dari sikap awal mereka untuk tetap berdiri bersama Israel. Artinya, kritik apapun yang keluar dari pemerintahan nya. Bukanlah sikap sebenarnya, melainkan pencitraan guna melanggengkan hegemoninya di mata dunia dan warganya tentu saja. 
3. Jikalaupun semua kritik yang dikeluarkan Biden berhasil diterima Netanyahu, Amerika sama sekali tidak bisa dijadikan penyelesai konflik antara Israel-Palestina. Sebab, solusi yang paling memungkinkan sekalipun, tetap tidak akan membawa kebaikan bagi saudara-saudara Palestina.
4. Amerika setali tiga uang dengan Israel. Tak ada kebaikan yang bisa dilihat darinya. Mereka sama-sama pembunuh berdarah dingin. Selain bertanggungjawab atas kematian ratusan ribu orang di Hiroshima-Nagasaki, Amerika pun bertanggungjawab atas hilangnya ribuan nyawa di Prancis. Begitupula yang terjadi pada umat muslim di Irak dan Afganistan. 

Artinya, jangan terburu-buru untuk memberikan penilaian positif pada Amerika. Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan Ustazah Iffah Ainur Rochmah (seorang aktivis muslimah) dalam World View: “Zion*s Anak Emas AS, Palestina Butuh Solusi Islam”, Sabtu (20-7-2024). Disampaikan di sana bahwa tidak boleh ada sedikit pun pandangan positif terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah AS kalau itu berkaitan dengan problem-problem yang dihadapi oleh kaum muslim. Umat tidak bisa mengharapkan apapun kepada Amerika saat ini. Apakah terkait mediasi guna mengendorkan serangan Israel ke Palestina, munculnya solusi perdamaian, apalagi kemerdekaan untuk Palestina. (MuslimahNews.com, 27/7/2024) 

Ustazah Iffah pun menghimbau umat agar menelisik pidato Ketua DPR AS Mike Johnson pada peringatan 76 tahun kemerdekaan Israel.

“Malam ini kita merayakan 76 tahun demokrasi yang berkembang pesat, 76 tahun kebebasan yang didapati di wilayah yang telah lama dijauhi, 76 tahun kemajuan, meskipun ada ancaman dan tantangan atau penentangan dari mereka yang berupaya mengembalikan Timur Tengah ke abad pertengahan.”

Petikan pidato tersebut jelas menggambarkan hubungan erat antara Amerika dengan Israel. Mereka menganggap bahwa lahirnya negara Israel adalah buah dari demokrasi yang mereka agung-agungkan. Dan itu adalah kemajuan. Jika ada pihak-pihak yang menghalangi dan menentang Israel maka dianggap ingin mengembalikan Timur Tengah ke abad pertengahan yang dikenal sebagai abad kegelapan untuk mereka. Ia bahkan menyebut soal pemenuhan janji ribuan tahun yang lalu.

“Janji yang telah disampaikan kepada Ibrahim, Ishak, dan Yakub. Janji yang selamat dari pengasingan Babilonia, kekhalifahan Islam, dan holocaust Nazi. Setelah lama mereka tidak bernegara dan mengalami penganiayaan, maka pada Mei 1948, sebuah negara baru lahir berdasarkan ajaran kebebasan dan keadilan dan perdamaian sebagaimana diajarkan oleh para nabi Yahudi,”

Sungguh, Amerika tidak bisa dipercaya sama sekali dalam hal ini. Jelas mereka memiliki kebencian yang mendalam pada Islam dan Kekhilafahan. Sampai-sampai mereka mensejajarkan Holocaust Nazi dengan Kekhilafahan Islam. Mereka sepertinya lupa atau sengaja melupakan ribuan kebaikan kekhilafahan pada dunia. Nazi jelas-jelas melakukan pembunuhan keji kepada orang Yahudi yang ada di wilayah nya tanpa menyisakan satupun dari mereka. Sedangkan Islam justru sebaliknya. Khalifah tidak pernah membiarkan satu kedzoliman pun terjadi di muka bumi, termasuk atas kaum Yahudi kala itu.

Dari seluruh pemaparan panjang ini, dapat disimpulkan bahwa kita tidak bisa berharap apapun kepada Amerika, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan umat Islam. Segala kritik yang disampaikan pemerintah AS hari ini hanya sekedar topeng belaka.

Meskipun pemberitaan menyebut bahwa Biden telah memundurkan diri dari bursa pencalonan presiden AS di Pemilu selanjutnya. Namun terkait sikap, Kamala Harris selaku pengganti Biden memiliki kesamaan. Cenderung membuat opsi mengambang dalam pembelaan terhadap Palestina, dan memberikan dukungan penuh pada Israel. Artinya, tak ada satupun calon yang benar-benar mendukung secara penuh kemerdekaan Palestina. Bahkan mereka secara konsisten, akan terus membantu Israel. 

Sungguh benarlah firman Allah Ta'ala yang artinya;
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka...” (QS. Al-Baqarah: 120)

Sungguh dalam ayat di atas dijelaskan bahwa kaum Kafir (Nashrani dan Yahudi) tidak akan pernah senang hingga seluruh kaum muslimin masuk ke agama-agama mereka. Dan apa yang terjadi di AS saat ini adalah upaya mereka untuk mempengaruhi sikap kaum muslimin dan orang-orang yang mendukung Palestina.

Dengan seperti itu, setidaknya mereka akan mendulang banyak dukungan suara dari personal rakyat dan para investor guna memenangkan kontestasi. Begitupun perhatian internasional dan kepercayaan dunia, akan kembali pada mereka. 

Kafir Harbi Fi'lan adalah istilah yang cocok bagi AS dan Israel hari ini. Dan hukum bagi kita kaum muslimin untuk berinteraksi dan menjalin hubungan diplomasi ataupun perdagangan dengan mereka adalah haram. Termasuk memberikan dukungan dan kecenderungan kepadanya.

Adapun dalil pengharamannya bisa dilihat di QS. Al-Maidah ayat 2, yang artinya;

"... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah : 2) 

Sungguh tak ada tempat bergantung dan berharap yang baik kecuali pada Allah SWT. Dan tak ada solusi yang lebih tepat untuk menyelesaikan masalah Palestina kecuali dengan jihad dan Khilafah. 

Wallahu A'lam bis Shawwab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak