Oleh: Siti Maisaroh, S.Pd.
(Pegiat Literasi)
Ramai di media sosial, Presiden Jokowi mengajak para influencer untuk melakukan kunjungan ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Di antara para influencer itu adalah Raffi Ahmad dan Nagita Slavina serta Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Totalnya ada 14 influencer. Mereka ikut Presiden Jokowi meresmikan Jembatan Pulau Balang dan meninjau pembangunan jalan tol menuju IKN.
Setelah kunjungannya ke IKN, para influencer tersebut menyampaikan pujiannya terhadap proyek IKN. Mereka sepakat bahwa IKN tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi juga menawarkan potensi besar sebagai pusat inovasi dan destinasi masa depan bagi Indonesia (Setneg, 8-8-2024).
Bisa dipastikan pujian mereka akan dilihat oleh jutaan pengikutnya dan membawa warna baru pada opini publik tentang IKN. Opini positif ini menggeser berbagai sengkarut pembangunan IKN, seperti tentang target pembangunan yang tidak tercapai, mundurnya Ketua dan Wakil Ketua Otorita IKN, tidak adanya minat investor asing di IKN, sulitnya air bersih, penyingkiran masyarakat adat, serta masalah lainnya.
Salah satu persoalan besar pembangunan IKN adalah tidak adanya investor asing yang masuk ke IKN, padahal pembangunan IKN butuh biaya besar, yakni Rp466 triliun. Sebelumnya Jokowi mengatakan ada ratusan investor asing yang akan masuk ke IKN. Namun, kini pernyataan itu dibantah oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Ia mengakui bahwa belum ada investor asing yang masuk ke IKN.
Bahlil berdalih, belum ada investor asing yang masuk ke IKN karena infrastruktur untuk masuk ke klaster pertama belum selesai. Klaster pertama IKN merupakan kawasan inti pemerintahan. Jika tidak ada investasi yang masuk, APBN akan terkuras untuk merealisasikannya.
Terkesan sangat jelas, pencitraan Presiden Jokowi dengan memboyong para influencer. Bagaimana tidak, mereka disana hanya sebentar, mereka tidak turun ke pemukiman warga yang terdampak akan pembangunan IKN. Mereka tidak sempat mendengar keluhan hati warga lokal yang kesusahan mendapatkan air bersih, bahkan kehilangan lahan dan tempat tinggal.
Sementara yang tersorot oleh kamera para influencer adalah sebatas kemegahan pembangunan IKN, tetapi sama sekali tidak menyinggung kalau uang yang digunakan adalah dari APBN yang salah satu sumbernya adalah dari hasil pajak.
Demikianlah, pemerintah gagal mendatangkan investor asing untuk membiayai pembangunan IKN. Kegagalan itu berusaha ditutupi dengan jurus pencitraan melalui para influencer. Kedatangan para influencer itu merupakan bentuk kepanikan Jokowi karena pembangunan IKN tahap pertama belum selesai, padahal masa jabatan Jokowi tinggal menghitung hari.
Upaya Jokowi mendatangkan banyak influencer ke IKN mendapatkan kritik keras dari publik karena dinilai menghamburkan anggaran. Bisa diperkirakan, pemerintah harus memberi bayaran pada masing-masing influencer yang nominalnya bisa mencapai ratusan juta rupiah per orang. Itu belum termasuk transportasi berangkat hingga pulang. Begitu juga akomodasi selama di lokasi, seperti penginapan, konsumsi, dan lainnya.
Demikianlah wajah penguasa di negara kapitalisme, tak sayang menghambur-hamburkan uang rakyat hanya untuk nama baik (pencitraan). Tak peduli seberapa menderitanya rakyat, tak peduli dengan jeritan rakyatnya.
Hal ini sangat jauh berbeda jika kita menerapkan sistem Islam. Dimana pemimpinnya yang bertakwa tidak akan bermudah-mudah dalam menggunakan anggaran negara.
Sebagaimana dahulu Khalifah Umar bin Abdul Aziz, selain hidupnya yang sederhana, beliau juga sangat berhati-hati dan teliti dalam menggunakan anggaran negara, sekecil apapun. Al kisah, tatkala putranya masuk ke ruangan kerja beliau untuk membicarakan sesuatu hal, beliau yang sedang sibuk merampungkan pekerjaan langsung bertanya pada putranya, perihal apakah yang akan dibicarakan, karena anaknya menjawab urusan keluarga, maka sang Khalifah langsung mematikan lampu di ruang kerjanya yang minyaknya menggunakan anggaran negara, beliau lalu memanggil pembantunya untuk mengambil lampu diruangan lain yang minyaknya menggunakan uang pribadi beliau.
Disini kita bisa mengambil pelajaran dari sang Khalifah, kalau uang negara adalah suatu yang hanya boleh diperuntukkan bagi kemaslahatan rakyat, bukan kepentingan pribadi, keluarga atau kolega. Wallahu a'lam bishowab.
