Oleh.Tety Kurniawati ( Anggota Akademi Menulis Kreatif)
Hari Pers Nasional (HPN) yang diperingati 9 Februari 2019 lalu telah meninggalkan polemik terkait penyerahan Anugerah Medali Kemerdekaan Pers. Medali tersebut diberikan kepada Presiden Jokowi yang menurut Margiono, Penanggung Jawab HPN 2019 merupakan pejabat tertinggi negara yang dianggap tidak pernah mencederai kebebasan pers. ( Kompas.com 9/2/19)
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyatakan bahwa penghargaan tersebut tidak sesuai dengan praktik kemerdekaan pers di lapangan. Fadli memberikan contoh paling baru adalah isu pemberian remisi terhadap pembunuh wartawan Radar Bali meskipun pada akhirnya Jokowi mencabut remisi itu.
Fadli Zon juga menyoroti fenomena "blackout" terhadap pemberitaan yang merugikan Jokowi. Dia menyayangkan pemberian medali ini karena seolah menyanjung penguasa. Padahal, seharusnya lembaga pers harus mengedepankan fungsi kontrol mereka terhadap pemerintah. ( Kompas.com 11/2/19)
Pendapat senada disampaikan Wakil Sekretaris Departemen Dalam Negeri Partai Demokrat, Abdullah Rasyid yang menilai sebagai pilar demokrasi, pers sudah mulai doyong dan hampir roboh. Menurutnya, di tahun politik ini berita-berita anti penguasa hampir tidak mendapat tempat. Jikapun dimuat sudah berubah lunak bahkan jauh dari realita di lapangan. (rmol.co 11/2/19)
Fakta tersebut kiranya makin mempertontonkan keberpihakan yang telanjang dari media saat ini. Musim politik yang diharapkan mampu menjadi momen unjuk independensi dan netralitas media. Justru makin menyuburkan praktek keberpihakan.
Terang dan jelas. Bagaimana korporasi media saat ini tak lagi menjalankan fungsi dan peran utamanya untuk melayani kepentingan publik. Prioritasnya lebih melayani kepentingan pemilik media (modal). Daripada menjaga ruang publik yang netral.
Faktor pemilik media yang mempunyai afiliasi dengan partai politik. Mempengaruhi kebijakan media hingga tataran konten medianya. Aroma intervensi bahkan terendus dalam produk berita. Alhasil, media tak lebih hanyalah alat mencapai dan melanggengkan kekuasaan.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Stuart Hall, bahwa media merupakan sarana paling penting dari kapitalisme abad ke-20 untuk memelihara hegemoni ideologis dan kepentingan. Media juga menyediakan kerangka berpikir bagi kelompok dominan yang terus menerus berusaha mempertahankan, melembagakan, melestarikan kepenguasaan demi menggerogoti, melemahkan, dan meniadakan potensi tandingan dari pihak-pihak yang dikuasai.
Inilah wajah asli media mainstream dalam tatanan sistem demokrasi neolib yang syarat kebebasan. Standar perilaku yang disandarkan pada materi dan kemanfaatan. Memberi konsekuensi pembatasan peran negara sebagai pengatur media. Seiring suburnya kapitalisme yang menjadikan media sebagai lahan bisnis yang berorientasi keuntungan. Akibatnya konten berita media hanya berpihak pada pihak yang paling mampu memberi nilai ekonomis tertinggi. Bukan pada kepentingan rakyat yang hakiki.
Ketika media berelasi ekonomis maupun kemanfaatan dengan kekuasaan. Jadilah media sebagai corong penguasa. Alat penarik simpati pendulang suara. Tak ada lagi netralitas, hanya tersisa keberpihakan yang nyata.
Media massa dalam Islam memiliki fungsi strategis mencabut ide-ide sekuler sekaligus mempropagandakan nilai-nilai keislaman. Membongkar kesesatan pemikiran dan ideologi diluar Islam beserta cara busuk yang digunakannya untuk menjerumuskan manusia pada kehinaan.
Guna membangun masyarakat Islami yang kokoh. Media Islam berfungsi edukasi, menjelaskan tuntunan hidup yang benar berdasarkan syariah hingga upaya peningkatan kualitas hidup dengan pemanfaatan iptek. Media juga berperan sebagai sarana informasi, persuasi serta wadah berekspresi publik dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar maupun memuhasabahi penguasa.
Maka wajib bagi setiap muslim untuk menyerukan pentingnya keberadaan media yang merujuk pada aturan Islam. Media yang hanya bisa terwujud kala semua syariat Illahi diterapkan kembali dalam kehidupan. Saat itulah dengan dukungan media, masa peradaban yang mulia akan kembali umat nikmati. Wallahu a'lam bish showab.