Maulid: Kembali kepada Risalah Rasulullah

Oleh. Fatimah Az Zahro 

Jika Maulid hendak dijadikan momentum kebangkitan umat, maka kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus dikembalikan kepada makna ittiba’ yang sebenarnya.

Umat harus memahami Islam sebagai risalah yang mengatur seluruh kehidupan, bukan sekadar kumpulan ibadah ritual. Akidah menjadi dasar, syariat menjadi pedoman, dan penerapan Islam secara menyeluruh menjadi konsekuensi dari keimanan.

Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An’am: 162)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa penghambaan kepada Allah tidak berhenti pada ibadah ritual. Seluruh kehidupan seorang Muslim seharusnya diarahkan untuk mendapatkan keridaan-Nya.

Karena itu, umat membutuhkan perubahan paradigma. Kapitalisme-sekuler yang menjadikan materi dan kebebasan sebagai orientasi kehidupan harus dikritisi dengan pemikiran Islam. Umat perlu dibina agar memahami akidah dan syariat secara mendalam serta memiliki kesadaran untuk menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan.

Dalam konteks perjuangan politik Islam, metode Rasulullah ﷺ juga harus dipahami secara tepat. Dakwah dimulai dengan pembinaan individu melalui tatsqif, dilanjutkan dengan interaksi bersama masyarakat (tafa’ul ma’al ummah) untuk membangun kesadaran, kemudian memperoleh kekuasaan melalui jalan yang sesuai dengan metode dakwah Rasulullah ﷺ agar Islam dapat diterapkan secara menyeluruh.

Perjuangan tersebut harus dilakukan dengan dakwah dan cara-cara damai, bukan dengan tindakan kekerasan terhadap masyarakat.

Tujuannya adalah menghadirkan kehidupan yang menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah Swt.:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Dengan demikian, Maulid tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan tentang seberapa meriah perayaannya. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah seberapa jauh umat mengikuti risalah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan mereka.

Cinta kepada Nabi ﷺ bukan sekadar memperbanyak shalawat pada satu momentum, tetapi menjadikan beliau sebagai teladan dalam akidah, ibadah, akhlak, dakwah, dan perjuangan menegakkan kehidupan yang tunduk kepada Allah.

Maulid seharusnya menjadi momentum untuk mengenal Rasulullah ﷺ lebih dalam, mencintainya dengan benar, mengikuti risalahnya, dan membangun kembali kesadaran umat agar Islam tidak berhenti sebagai ajaran yang diyakini, tetapi menjadi pedoman kehidupan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak