Oleh: Shifa Nurul Aini, Ciparay Kabupaten Bandung.
Generasi Z kerap digambarkan sebagai generasi yang dekat dengan teknologi, kreatif, dan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan. Namun, di balik berbagai kemudahan teknologi dan derasnya arus tren digital, generasi ini menghadapi persoalan yang tidak sederhana, mulai dari tekanan ekonomi, tuntutan gaya hidup, hingga ketidakpastian masa depan.
Laporan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa 48% Gen Z secara global merasa tidak aman secara finansial. Sebanyak 52% mengaku hidup dari gaji ke gaji, sementara 37% mengalami kesulitan memenuhi biaya hidup setiap bulan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan finansial menjadi salah satu kekhawatiran utama generasi muda saat ini.
Ironisnya, tekanan ekonomi tidak selalu membuat konsumsi berhenti. Di tengah kondisi finansial yang sulit, aktivitas seperti self-reward, healing, nongkrong, mengikuti tren, hingga membeli barang yang diinginkan tetap menjadi bagian dari kehidupan sebagian Gen Z. Konsumsi bahkan terkadang dijadikan sarana untuk memperoleh hiburan dan kepuasan setelah menjalani rutinitas yang melelahkan.
Fenomena tersebut semakin kuat dengan kehadiran media sosial. Berbagai tren gaya hidup, barang bermerek, destinasi wisata, kuliner, hingga aktivitas hiburan dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Paparan yang terus-menerus dapat menimbulkan FOMO (fear of missing out), yaitu rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang populer atau dilakukan oleh orang lain.
FOMO dapat mendorong seseorang melakukan konsumsi bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan untuk mengikuti lingkungan. Akibatnya, kebahagiaan berpotensi dikaitkan dengan kemampuan membeli sesuatu, mengunjungi tempat tertentu, mengikuti tren, atau memperoleh pengakuan dari media sosial.
Di sisi lain, tekanan ekonomi yang dihadapi Gen Z tidak selalu dapat dipandang sebagai persoalan individu. Biaya kebutuhan hidup yang meningkat, persaingan memperoleh pekerjaan, serta tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, tempat tinggal, dan kehidupan sehari-hari membuat sebagian anak muda merasa harus berjuang sendiri menghadapi berbagai persoalan tersebut.
Dalam pandangan kritis terhadap sistem kapitalisme, kebutuhan masyarakat banyak diserahkan kepada mekanisme pasar. Kemampuan seseorang dalam memenuhi berbagai kebutuhan akhirnya sangat dipengaruhi oleh daya beli dan pendapatan yang dimilikinya. Kondisi ini dapat menjadi beban tersendiri bagi generasi muda yang baru memasuki dunia pendidikan tinggi atau dunia kerja.
Tekanan tersebut juga dapat diperkuat oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menempatkan kebebasan individu dan pencarian kesenangan sebagai bagian penting dalam kehidupan. Aktivitas seperti self-reward dan healing pada dasarnya tidak selalu bermakna negatif. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan menjadi pelarian dari persoalan hidup, aktivitas tersebut dapat berkembang menjadi pola konsumtif.
Persoalan yang lebih mendasar adalah ketika seseorang kehilangan arah mengenai tujuan hidup. Jika tujuan hidup hanya dikaitkan dengan pencapaian materi, popularitas, kenyamanan, dan kesenangan, seseorang dapat mengalami kekosongan ketika berbagai hal tersebut tidak mampu memberikan kepuasan yang diharapkan.
Islam menawarkan cara pandang yang berbeda mengenai tujuan kehidupan manusia. Kehidupan di dunia tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar kesenangan dan kenikmatan materi, tetapi untuk beribadah kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt.:
«“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)»
Pemahaman terhadap tujuan hidup tersebut dapat membentuk cara pandang seorang Muslim terhadap dunia. Bekerja, memperoleh penghasilan, menikmati makanan, beristirahat, bepergian, dan menggunakan harta merupakan bagian dari kehidupan yang diperbolehkan selama dilakukan sesuai dengan ketentuan Islam. Namun, semua itu tidak seharusnya menjadi tujuan akhir kehidupan.
Dalam konsep Khilafah, negara dipandang memiliki tanggung jawab dalam mengurus kebutuhan rakyat. Sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum dikelola untuk kemaslahatan masyarakat. Negara juga memiliki tanggung jawab menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Selain aspek ekonomi, Islam juga memberikan perhatian terhadap pembentukan kepribadian generasi melalui akidah dan pendidikan. Media pun idealnya dimanfaatkan untuk menyebarkan ilmu, memberikan edukasi, dan membangun ketakwaan, bukan semata-mata menjadi sarana promosi konsumsi dan gaya hidup.
Dengan demikian, persoalan yang dihadapi Gen Z tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengajak mereka berhemat atau melarang aktivitas healing. Persoalannya juga berkaitan dengan cara pandang terhadap kehidupan, tujuan yang ingin dicapai, serta kondisi sosial dan ekonomi yang melingkupinya.
Gen Z membutuhkan bukan hanya kehidupan yang nyaman, tetapi juga arah dan tujuan hidup yang jelas. Dalam perspektif Islam, kebahagiaan tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi yang dimiliki atau kesenangan yang dapat dinikmati. Kebahagiaan hakiki terletak pada keberkahan hidup dan upaya meraih keridaan Allah Swt.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Tags
Opini