Oleh : Islah Nurhidayah
Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, Gen Z justru menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menyimpan masalah secara pribadi, Gen Z kini melihat kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan secara keseluruhan.
Kesadaran ini tercermin dari cara mereka merespons masalah emosional. Hampir setengah dari Gen Z yang mengalami gangguan kesehatan mental mengaku percaya pada layanan profesional seperti konsultasi, terapi, hingga penggunaan obat sebagai cara untuk pulih. Sikap terbuka ini menandai perubahan signifikan dalam cara generasi muda memandang kerentanan emosional—bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai hal yang wajar dan perlu ditangani. ( 08 April 2026 goodstats.id )
Beberapa survey menunjukan bahwa Gen Z di indonesia adalah kelompok yang banyak mengalami berbagai kecemasan dan gangguan kesehatan mental. Tekanan nya bersumber dari berbagai arah, mulai dari pengaruh media sosial yang isinya orang pamer pencapaian, lingkungan sosial, hingga ekspetasi keluarga yang menuntut kesuksesan serta kehidupan sempurna. Tanpa mereka sadari hal tersebut meimbulkan perbandingan diri, dan tekanan sosial.
Akibatnya banyak Gen Z yang kehilangan arah, karena tidak ada tujuan besar yang membuat kuat saat terjatuh. Banyak pemuda yang merasa "masa depan tuh kaya gimana sih?" Rasa ketidakpastian ini membuat otak terus overthinking, cemas dan berujung capek secara mental. Kegelisahan ini menimbulkan gangguan tidur dan kelelahan mental. Karena tidak ada sama sekali tujuan besar yang membuat kuat disaat terjatuh.
Karena dalam sistem kapitalisme, tolok ukur keberhasilan seseorang hanya diukur dari 3 hal. Pertama : banyak nya harta yang dimiliki. Kedua : seberapa terkenal (popularitas). Ketiga : gaya hidup mewah. Sedangkan nilai nilai agama, dan akhlak mulai terabai, karena orientasi hidup berubah menjadi mengejar materi.
Hal ini lah yang pelemahkan potensi Gen Z. Padahal pada kenyataan nya Gen Z sangatlah peduli isu sosial, kesehatan mental, melek teknologi, kritis dalam berpolitik serta kreatif. Tetapi seringkali energinya terkuras habis untuk hal hal yang sama sekali tidak memberikan ketenangan.
Namun kecemasan dan sikap kritis mereka menujukan bahwa hati dan akal mereka masih peka dan berfungsi. Gen Z adalah generasi yang memiliki kepedulian yang tinggi, mereka berani bersuara dan tidak ingin sekedar mengikuti sistem yang tidak hanya rusak, tetapi juga merusak.
Jika diarahkan dengan benar, mereka akan menjadi kekuatan besar untuk perubahan, dan kebangkitan peradaban.
Ketika seorang pemuda memahami bahwa hidup mereka memiliki misi, maka ia tidak akan pernah goyah oleh sebuah kegagalan. Karena ia memiliki akhlak, standar halal-haram serta orientasi akhirat yang menenangkan jiwa.
Penguatan ini di mulai dari keluarga, mesjid, sekolah serta pembinaan iman agar gen Z memiliki pondasi keimanan yang kokoh.
Di dalam islam, negara memiliki kewajiban untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyatnya, termasuk memastikan pendidikan terjangkau serta lapangan pekerjaan yang halal. Sehingga pemuda terlindungi dari pemikiran dan gaya hidup yang merusak. Dengan begitu pemuda akan tumbuh menjadi kuat dan produktif, tanpa tekanan.
Jika negara berfungsi sebagaimana mestinya, maka pemuda akan merasa aman, dihargai, dan memiliki masa depan yang jelas.
Ketika pemuda memiliki visi besar dan bergerak bersama. Maka, tugas kita adalah mengarahkan pemikiran nya terhadap pemahaman islam secara kaffah, pengembanan mabda islam, serta kepedulian terhadap kondisi ummat.
Dengan diterapkannya islam secara kaffah, maka kegelisahan Gen Z akan berubah menjadi kekuatan. Energi "Resistensi" mereka, akan jadi perubahan. Mereka tidak hanya lagi bertahan hidup, tetapi juga menjadi pemimpin peradaban.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
Tags
Opini