Haji dan Persatuan Hakiki

Oleh : Ai Hamzah

Perhelatan akbar haji telah usai. Jemaah haji pun telah kembali ke tanah airnya masing masing. Menyisakan kenangan dan pengalaman berkumpul dengan umat Islam dari berbagai negara, ditempat yang sama dalam waktu yang sama. Tanpa melihat siapa dia dan dari mana dia. Semua mengucapkan talbiyah, mengagungkan nama Allah SWT. 

Kita dapati bahwa fakta di negara tercinta ini masih diselimuti berbagai permasalahan dalam urusan pelaksanaan ibadah haji. Namun tidak menyurutkan semangat penduduk muslim untuk menunaikannya, hingga ada yang harus menunggu belasan bahkan puluhan tahun untuk bisa berkunjung ke rumah Allah SWT sekalipun kuotanya terbatas. Ditambah biaya keberangkatan yang jumlahnya tidak sedikit, apalagi setelah ada pengurangan semakin menguatkan niat para calon Jemaah haji untuk ke tanah suci.

Polemik haji yang seolah tak berkesudahan ini menjadi salah satu penyebab hilangnya makna haji yang sesungguhnya, para calon haji dibuat khawatir, cemas, dan takut jika sewaktu-waktu kuota tidak tersedia atau sudah penuh, faktor administrasi pun menjadi kendala tersendiri yang mengakibatkan calon jemaah haji mengalami ‘gagal’ fokus atas tujuan beribadah haji itu sendiri. Tidak sedikit kita dengar pemberitaan adanya calhaj yang gagal berangkat karena faktor-faktor tersebut, bahkan ada yang mengalami depresi karena malu kadung sudah berpamitan pada keluarga dan handai tolan. Kerugian yang dialami tidak hanya materil tapi juga moril.

Prosesi haji adalah momentum dimana Allah mempertemukan umat Islam. Umat Islam yang terpetak-petak dari berbagai negara dengan ras yang berbeda, suku yang beragam, bahasa yang tidak sama melebur menjadi satu. Lingkaran thowaf, perjalanan sai, Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) mengajarkan betapa umat Islam itu adalah satu. Setiap lantunan bacaan memuji nama Allah SWT yang keluar dari mulut mereka adalah sama. Memuja dengan Tuhan yang sama yaitu Allah SWT.

Bersatunya umat dalam prosesi haji hendaknya mengajarkan kepada umat bahwa mereka adalah satu, umatan wahidah. Karena pertemuan itu bukan tanpa makna, tapi Allah memberikan sinyal bahwa kalian adalah satu kesatuan. Dimana pun berada, dengan warna kulit yang berbeda, ras yang bermacam-macam, kalian adalah umat yang satu. Kalian adalah umat yang bersaudara, tubuh kalian adalah satu. Maka jika tubuh itu sakit akan dirasakan sakitnya oleh tubuh yang lain. 

Sejatinya prosesi haji hendaknya mengingatkan umat Islam akan persatuan dan persaudaraan. Setiap tahun prosesi ini digelar, setiap tahun juga hanya sebagai ritual semata tanpa ada makna yang lebih jauh, sehingga implementasi makna tersebut tidak tampak setelah rangkaian ibadah ini selesai digelar. Seperti kepada Palestina, negeri Islam yang sampai detik ini masih dalam penganiyaan dan penindasan oleh negeri kafir Yahudi. Perjalanan Palestina yang sangat panjang berjuang sendirian tanpa ada uluran tangan dari saudaranya yang membela dan mempertahankannya. Belum lagi negeri Islam lainnya dengan kondisi yang sama. Dijajah, diananiya, disiksa, dikriminalisasi oleh negeri musuh-musuh Islam. Kemana umat Islam yang setiap tahun berkumpul dalam prosesi haji?

Padahal Allah sudah mengingatkan dalam Al Qur'an dan berfirman dalam surat Al Hujrat ayat 10;

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ ۝١٠

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.

Rosulullah Saw pun telah bersabda;

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا: أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ

Artinya: "Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal bagi kalian: kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah belah, dan saling menasihatilah dengan orang yang Allah jadikan pemimpin kalian" (HR. Muslim).

Kini dunia membuat umat ini lalai hingga tidak mengindahkan syari'at Allah. Masing-masing disibukkan dengan urusannya sendiri, minimnya empati yang tergerus oleh individualisme menjadi salah satu penyebab hilangnya rasa peduli hingga terputusnya tali silaturahmi. Jangankan pada saudara yang nun jauh di Palestina, pada saudara terdekat pun nafsi-nafsi. Persatuan menghilang, tercerai berai karena dipisahkan secara struktural oleh sistem kapitalisme. Oleh karena itu ketika ritual prosesi haji telah selesai, selesai jugalah semangatnya sampai disini. Tanpa membawa pulang makna yang terkandung secara mendalam didalamnya. Dipersatukannya umat dalam waktu yang sama, di tempat yang sama, pada akhirnya hanya sebatas prosesi yang begitu saja dilewati. Padahal makna haji mengandung makna persatuan umat yang hakiki. Yang seharusnya membawa spirit perjuangan dan kebangkitan Islam dimanapun berada sebagai  umatan wahidah, umat yang satu.

Wallahu’alam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak