Gencatan Senjata, Ilusi Kejam dan Mematikan


Oleh. Maftucha S. Pd
(Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam) 

"Gencatan senjata Palestina-Israel yang telah disepakati pada Oktober 2025 lalu hanyalah bualan. Nyatanya Israel tetap melakukan pembunuhan atas warga Gaza. Bukti nyata bahwa gencatan senjata hanyalah ilusi bagi Palestina yang telah terjajah."
 
Korban Berjatuhan Saat Gencatan Senjata

Gencatan senjata seharusnya menjadi kabar gembira bagi warga Palestina terutama. A wilayah Gaza karena perang akan mereda. Akan tetapi setiap hari kita masih menyaksikan bagaimana Israel terus mengusir, menyiksa, dan membunuh warga Gaza. 

Dari laman CNN Indonesia mengabarkan bahwa rata-rata Israel membunuh satu anak Palestina setiap harinya. UNICEF mencatat anak-anak Palestina terbunuh saat berada di rumah, sekolah, atau saat bermain diluar ruangan. Mereka adalah anak-anak! Apa yang salah dengan mereka? 

Tercatat sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025 terdapat 1.007 korban jiwa dan 3.165 luka-luka akibat serangan yang dilakukan Israel. Kenyataan bahwa jumlah korban yang sedemikian banyak dan terjadi saat gencatan senjata adalah bentuk penipuan berulang yang didiamkan oleh dunia. 

Selain anak-anak yang menjadi korban kebrutalan, Israel juga membunuh tim medis dan wartawan yang meliput kejahatan mereka. Para dokter yang berjibaku menyelamatkan para korban ditangkap secara tidak adil dan diperlakukan layaknya penjahat. Mereka disiksa hingga ada yang syahid. Begitu juga dengan wartawan, tidak peduli apakah wartawan itu lokal atau asing. 

Dunia, terutama negeri-negeri Arab selalu lupa bahwa Gaza dan Israel sudah puluhan kali melakukan gencatan senjata. Namun, Israel selalu melanggarnya dan dunia-pun tidak memberi sanksi tegas kepada Israel. 

Meredam dalam Sunyi

Gencatan senjata seharusnya membawa kebahagian, tapi tidak bagi warga Gaza. Gencatan senjata hanyalah alat bagi Israel dan sekutunya yakni AS untuk meredakan berita agar tidak sampai ke telinga kita. 

Ketika wacana gencatan senjata dimunculkan, secara otomatis opini dunia internasional terkait penjajahan ini akan reda. Opini dunia internasional menjadi berkurang. Namun, apa yang sesungguhnya terjadi? Di tengah gencatan senjata Israel justru semakin leluasa mengusir dan membunuh warga Gaza. 

Dunia tidak benar-benar memihak kepada rakyat Palestina, mereka berada di ketiak AS. Selama ada AS dan kepentingannya di Timur Tengah maka konflik Palestina Israel akan terus dipelihara. 

Tidak Ada Proyek Dua Negara

Selain gencatan senjata, wacana dua negara selalu dijadikan solusi agar peperangan ini segera berakhir. Padahal Netanyahu sendiri tidak pernah mau menerima solusi tersebut. Laman Serambinews.com melaporkan bahwa melalui unggahan di media sosial Netanyahu menyatakan bahwa tidak akan ada negara Palestina yang berdiri di antara Laut Mediterania dan Sungai Yordan.
 
Target Israel jelas, yakni membangun Israel Raya di wilayah Palestina, wilayah sah umat Islam yang telah ditempati oleh mereka selama ratusan tahun. 

Israel dengan tegas mengatakan bahwa mereka akan mengendalikan sepenuhnya keamanan di wilayah Gaza. Hingga kini warga Gaza hanya menempati 34 persen saja wilayah di Gaza, itupun mereka masih terus dibombardir di wilayah pengungsian.

Berharap pada solusi yang digagas oleh AS atau Israel sama artinya dengan menyerahkan nyawa rakyat Palestina kepada penjajah. Penjajah tetaplah penjajah yang akan merampas tanah yang bukan hak milik mereka. 

Usir Israel dari Bumi Palestina 

Siapa-pun tahu bahwa Israel adalah pihak asing yang diterima secara baik sebagai pengungsi oleh rakyat Palestina. Zionis dahulunya mengalami genosida oleh pemerintah nazi Jerman. 

Eksodusnya zionis ke Palestina sebenarnya juga tidak murni sebagai pengungsi. Jika kita belajar sejarah bagaimana zionis bisa mendaratkan kakinya di Palestina, semuanya by design. Deklarasi Balfour tahun 1917 adalah awal bencana bagi rakyat Palestina. 

Inggris dan sekutunya yang pada waktu perang dunia pertama mengalami kemenangan atas Ottoman sepakat membagi-bagi wilayah di Timur Tengah. Termasuk memberikan Palestina kepada komunitas Zionis. 

Maka, solusi satu-satunya untuk mengembalikan kemerdekaan rakyat Palestina adalah mengusir penjajah dan sekutunya. Mengusir penjajah seperti Israel tentu tidak bisa hanya mengandalkan rakyat Palestina untuk berjuang sendirian. 

Umat Islam di manapun mereka berada adalah satu tubuh, maka umat ini harus bersatu melawan penjajah yang telah merusak bagian dati tubuh ini. Umat membutuhkan Khalifah untuk memimpin jihad. 

Jika umat ini memiliki kepemimpinan tunggal yakni Khilafah Islamiyah maka dengan mudah Israel akan bisa dilumpuhkan. Kekuatan inilah yang selalu ditakuti oleh musuh-musuh Islam seperti AS, Israel, dan sekutunya. 

Semoga umat Islam sadar bahwa tidak akan ada kemuliaan selain mengambil Islam dan menerapkannya dalam kehidupan secara menyeluruh. Wallahu a'lam bishawab. []

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak