Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi




Oleh: Zuxy

Berdasarkan berbagai penelitian terbaru, Generasi Z atau Gen Z merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi. Dibandingkan generasi sebelumnya, mereka hidup di tengah pusaran perubahan teknologi yang sangat cepat, arus informasi yang tidak pernah berhenti, serta tuntutan kehidupan yang semakin tinggi. Berbagai tekanan tersebut membuat banyak remaja merasa mudah cemas, stres, bahkan kehilangan semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kondisi psikologis ini membuat Gen Z sering dijuluki sebagai "generasi stroberi" sebuah istilah yang menggambarkan buah yang tampak indah di luar, namun mudah rapuh, rentan terhadap tekanan, dan gampang menyerah ketika menghadapi kesulitan fisik maupun mental. Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Menteri Kesehatan RI bahkan sempat memaparkan data yang mengejutkan bahwa sekitar 28 juta penduduk di Indonesia terdeteksi memiliki masalah kejiwaan (kompas.com 11/07/26).

Lonjakan gangguan kecemasan dan depresi pada generasi muda ini kian nyata jika melihat kunjungan ke fasilitas kesehatan (rspp.co.id 11/07/26). Banyak dari mereka yang terjebak dalam rasa kesepian akut hingga krisis identitas yang mendalam (puskesmasperampuan-dikes.lombokbaratkab.go.id 11/07/26).

Jika dibedah lebih dalam, beberapa faktor utama yang mendorong kondisi tersebut antara lain:
* Kehilangan Makna Hidup: Banyak remaja tidak memiliki pegangan hidup atau keyakinan yang kuat, sehingga mereka mudah kehilangan arah dan tujuan hakiki dalam menjalani kehidupan.
 *Media Sosial sebagai Standar Kebahagiaan, dalam sistem kapitalisme yang materialistik, kebahagiaan sering diukur dari materi, kekayaan, dan pencapaian fisik yang dipamerkan di media sosial. Akibatnya, remaja terdorong untuk terus memburu validasi visual, merasa kurang, dan hobi membandingkan nasib dengan orang lain.
 *Budaya Individualisme. Arus modernisasi mengikis interaksi sosial yang hangat. Hubungan antarmanusia menjadi mekanis dan lemah, yang pada akhirnya memicu rasa terisolasi dan kesepian mendalam (*bbc.com 22/11/25*).
 *Ketidakpastian Masa Depan. Sulitnya memperoleh lapangan kerja, tingginya biaya hidup, dan persaingan yang tidak sehat melahirkan kecemasan akut terhadap hari esok.

Dengan demikian, fenomena depresi pada Gen Z bukan sekadar persoalan kesehatan mental individu atau kurangnya self-care, melainkan indikator adanya kerusakan sistemik yang lebih luas.

Untuk mengubah kondisi dari depresi menuju resistensi (ketahanan mental yang kuat), diperlukan perubahan yang menyeluruh. Perubahan ini tidak bisa bertumpu pada lingkungan keluarga dan pendidikan saja, melainkan membutuhkan kebijakan negara yang mendasar. 

Sistem Islam memiliki jaminan mutakhir untuk memutus rantai keterpurukan ini. Dalam Islam, negara wajib menyediakan pemenuhan kebutuhan dasar termasuk pendidikan gratis yang tidak hanya fokus pada pencapaian akademik atau mencetak pekerja industri. Kurikulum Islam didesain untuk menanamkan karakter dan kepribadian Islam (aqliyah dan nafsiyah). 

Dengan landasan akidah yang kokoh, generasi muda dididik untuk memahami hakikat ujian hidup, sehingga mereka memiliki benteng mental yang tangguh dan tidak mudah rapuh layaknya stroberi. Lebih dari itu, dibutuhkan kehadiran negara yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh (kaffah).

Negara akan menghapus iklim kapitalistik yang serba komersial dan individualis, lalu menggantinya dengan atmosfer masyarakat yang saling peduli. Berubahnya tatanan ini akan melahirkan generasi yang memiliki keimanan yang kokoh, mental yang kuat, serta siap menghadapi berbagai tantangan zaman. Gen Z tidak lagi menjadi korban peradaban, melainkan bertransformasi menjadi agen perubahan (agent of change) yang membawa kemajuan dan kontribusi besar bagi peradaban yang jauh lebih baik.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak