Gen Z, dari Depresi Menuju Resistensi




Oleh : Isna

Generasi Z di Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan kesehatan mental yang serius. Berbagai survei menunjukkan bahwa generasi ini merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan dan gangguan mental. Faktor pemicunya sangat beragam, mulai dari paparan media sosial yang intens, tekanan sosial, hingga ketidakpastian karier dan masa depan. Fenomena "generasi cemas" ini tidak hanya terjadi di dalam negeri, melainkan sudah menggejala di seluruh dunia. Banyak dari mereka yang bersikap skeptis terhadap masa depan karena sulitnya mencari lapangan kerja dan tingginya biaya hidup. Sebanyak 60% Gen Z di Indonesia bahkan secara spesifik merasa cemas akan masa depan mereka, terutama terkait masalah finansial dan karier (goodstats.id 07/07/26).

Jika dikaji lebih dalam, kecemasan massal ini merupakan dampak langsung dari krisis berlapis yang lahir dari peradaban sekuler-kapitalistik. Dalam sistem ini, potensi besar pemuda dilemahkan secara sistematis melalui gaya hidup hedonistik dan konsumtif yang merusak jati diri mereka. Di sisi lain, negara dinilai abai dalam melakukan riayah terhadap generasi muda. Alih-alih mendapatkan ruang aman dan dukungan emosional, Gen Z justru kerap mendapatkan stigma buruk dari generasi di atasnya. Gelombang kecemasan ini kian diperparah oleh tekanan ekonomi yang menyeluruh, di mana ratusan juta Gen Z di seluruh dunia saat ini harus menghadapi kenyataan pahit berstatus menganggur atau terjebak dalam ketidakpastian kerja (kompas.id 07/07/26).

Namun, di balik kesehatan mental yang rapuh, terdapat sisi lain yang menarik, sikap kritis dan ketidakpercayaan terhadap sistem membuat Gen Z mulai bertransformasi menjadi gelombang resistensi. Kesadaran akan bobroknya sistem saat ini memicu mereka untuk melakukan perlawanan terhadap status quo. Kondisi depresi dan kecemasan ini bisa menjadi titik balik krusial. Ketika rasa tidak nyaman itu diarahkan pada jalur yang benar, Gen Z memiliki potensi besar untuk bangkit dan menjadi motor penggerak perubahan menuju tatanan kehidupan yang lebih ideal.

Di sinilah Islam hadir membawa jawaban sistemik atas krisis yang melanda generasi modern. Penerapan Islam secara kaffah terbukti secara historis mampu menghadirkan Rahmatan lil 'Alamin pada tatanan yang membawa ketenangan jiwa sekaligus keselamatan hidup. Pada masa kejayaan Islam, pemuda tidak dibiarkan tumbuh dalam kehampaan eksistensial. Mereka ditempa dengan landasan akidah yang kokoh sehingga memiliki Syakhshiyah Islamiyah yang kuat, sekaligus menguasai berbagai bidang sains dan keilmuan mutakhir.

Semua itu dapat terwujud karena kehadiran negara yang berfungsi mutlak sebagai pelindung dan pelayan umat. Negara dalam sistem Islam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar mulai dari pendidikan gratis, lapangan kerja yang berkah, hingga jaminan kesehatan secara adil dan merata, sehingga faktor-faktor pemicu depresi sistemik dapat dihilangkan. Oleh karena itu, langkah krusial hari ini adalah menyadarkan Gen Z untuk tidak sekadar meratap atau terjebak dalam lingkaran depresi. Mereka harus diarahkan untuk memahami dan mengemban mabda Islam, serta menumbuhkan kepedulian hakiki terhadap kondisi umat. Dengan mengubah energi kecemasan menjadi energi perjuangan ideologis, masa depan emas yang mandiri dan sejahtera bukan lagi sebatas angan-angan, melainkan sebuah kepastian yang nyata.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak