Tolok Ukur Generasi Unggul Versi Kapitalisme dan Versi Islam

Oleh : Yayat Rohayati

Tahun ajaran 2026/2027 resmi menjadi awal penerimaan siswa baru Sekolah Manusia Unggul (Maung). Sekolah Maung, gagasan dari Gubernur Jawa Barat ini merupakan program jalur pendidikan khusus di tingkat SMA dan SMK yang dirancang untuk menjaring siswa dengan kemampuan prestasi akademik dan non akademik (Kompas.com, 28/5).

Gubernur Jawa Barat yang sering disapa KDM mengatakan bahwa sekolah Maung adalah perubahan dari sekolah favorit zaman dulu. Biasanya di satu kabupaten/kota ada SMA atau SMK yang jadi sekolah favorit siswa, dimana penerimaan NEM-nya tertinggi. Sekarang, ia menggagas ide sekolah Maung untuk membangun kembali sekolah favorit itu tapi dengan kualifikasi tertentu, yakni anak-anak berprestasi akademik dan non akademik. Adapun persyaratan dan seleksinya lebih ketat dari sekolah biasa. 

Ketua DPRD Kabupaten Karawang, Endang Sodikin menyambut baik gagasan ini, meskipun menurutnya akan berpotensi memunculkan kecemburuan sosial (tvberita.co.id, 22/5).

Alih-alih untuk menyolusi, yang ada kastanisasi dalam pendidikan. Potensi kecemburuan sosial pun sudahlah pasti. Sebab dalam program ini hanya sekolah-sekolah terpilih yang bisa jadi sekolah Maung dengan seleksi prestasi, sarana, juga tenaga pendidik. Padahal, sejatinya pendidikan merupakan kebutuhan pokok setiap individu masyarakat dalam sebuah negara. Jadi, semua warga berhak memendapatkan sarana dan prasarana yang sama dalam pendidikan. Tak ada diskriminasi. 

Generasi unggul yang diciptakan dari sistem sekarang adalah generasi berstandar barat, siap bersaing secara nasional maupun global. Tolok ukur generasi unggul lebih dikaitkan dengan keberhasilan duniawi dan capaian materi. Seseorang dianggap unggul apabila memiliki kompetensi yang tinggi, produktif, mampu bersaing, dan mencapai kesuksesan secara ekonomi maupun sosial, tanpa dibekali dengan pembinaan akidah. Karena sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya mengatur perkara ibadah atau hubungan individu dengan pencipta. Sedangkan dalam aspek kehidupan lainnya tak memerlukan aturan agama. 

Selain itu pendidikan dalam sistem hari ini hanya sebatas mentransfer ilmu. Generasi yang lahir dari sistem ini adalah generasi siap kerja, atau yang mampu menghasilkan materi, tanpa dibarengi pembinaan akidah. Alhasil lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam akidah. 

Padahal, dalam Islam pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sejalan dengan tujuan penciptaan manusia di dunia ini, yakni  mewujudkan manusia yang tunduk kepada Allah Swt. Oleh karena itu tujuan pendidikan dalam IsIam tidak sekedar melahirkan saintis peradaban. Akan tetapi, tercipta generasi bershaksiyah IsIam (berkepribadian IsIam), dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir (aqliyah) dan bersikap (nafsiyah). Sehingga setiap perbuatan didorong oleh kesadaran iman, bukan semata karena takut hukuman atau karena materi atau manfaat. 

Dalam Islam kewajiban menuntut ilmu banyak ditegaskan dalam al-qur'an maupun hadist. 

Allah Swt. berfirman:

"......Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (TQS. Al-Mujadilah:11). 

Kemudian Rosulullah saw bersabda:

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim" (HR.Ibnu Majah). 

Oleh karena itu, negara wajib menjamin dan memastikan semua warga mendapat pendidikan yang sama tanpa diskriminasi. Infrastruktur pendidikan yang terbaik diberikan oleh negara. Kemudian IsIam juga begitu memuliakan para guru, oleh karena itu pembayaran gaji guru akan diberikan yang terbaik. 

Dengan adanya tujuan pendidikan yang shohih, fasilitas terbaik dari negara, dan guru-guru yang dimuliakan, maka generasi unggul akan terwujud di tengah-tengah umat, yakni generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap IsIami (bershaksiyah IsIam). Bukan hanya memikirkan duniawi tapi akhirat juga menjadi prioritas. 

Wallahu a'lam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak