By : Ummu Al Faruq
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencetak rekor paling lemah terbaru. Per Jumat (12/06) kurs dolar menyentuh Rp17.778,85. Masyarakat makin bersiap mengencangkan ikat pinggang karena sejumlah pakar meneropong harga kebutuhan sehari-hari bakal ikut terdampak.
Ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor, nilainya mencapai 70%.
Impor ini tersebar pada industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan pribadi.
Hampir sebagian besar semua barang jadi dari sektor industri ini ada di halaman rumah, di dalam laci lemari, kamar, dapur di rumah kita.
Dengan nilai tukar rupiah yang makin melemah, harga-harga bahan baku impor ini terkerek naik karena transaksinya menggunakan dollar AS.
Selain impor bahan baku, Indonesia juga masih impor sekitar 20% barang modal. Contohnya, mesin-mesin pabrik, robot industri, pesawat, kereta sampai peralatan laboratorium.
Selain itu sebanyak 9% Indonesia masih impor barang konsumsi. Misalnya, buah, daging, baju dan sepatu, ponsel, laptop, kosmetik dan skincare, sampai kedelai–yang diketahui impornya lebih dari 90%.
"Ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal," kata Teuku Riefky, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI).
Di tengah kondisi ini, ada dua kemungkinan yang dilakukan produsen: menaikkan harga barang atau terpaksa memangkas keuntungan—meskipun di lapangan yang nampak lebih menaikkan harga atau mengurangi porsi produk.
"Implikasinya terhadap masyarakat sehari-hari adalah tentu biaya hidup yang akan semakin mahal," katanya.
Di Mana Kepekaan Pemerintah?
Mirisnya melemahnya rupiah ini seolah dipandang sebelah mata oleh pemimpin kita. Dikatakan bahwa rakyat desa tidak pakai dolar. Tapi ketika dolar menguat efek domino yang diciptakan membuat masyarakat panik. Karena kondisi ini membuat naiknya harga barang, biaya produksi, ongkos perjalanan, dan cicilan utang korporasi.
Keluhan itu juga dirasakan oleh para peternak ayam dan sapiperah. Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Pemindo), Kusnan, mengatakan masyarakat desa memang tidak bertransaksi langsung menggunakan dollar AS.
Tetapi kebanyakan dari mereka bekerja di sektor non formal seperti UMKM. Salah satunya adalah para peternak ayam dan sapi. Karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku produksi, termasuk sektor peternakan, akibatnya harga pakan dan obat-obatan ternak ikut meningkat (Kompas.com, 19/05/2026).
Penguatan dolar terhadap rupiah juga disebabkan memanasnya kondisi politik global. Seperti perang As dengan Iran. Tapi yang dibutuhkan masyarakat adalah kepekaan dari pemerintah atas kondisi ini untuk meredakan gejolak efek domino dari kondisi geopolitik dunia.
Mirisnya prioritas APBN terkadang dinilai lebih berpihak pada proyek infrastruktur dan proyek skala nasional. Seperti makan bergizi gratis. Sudah tahu kalau program ini banyak menuai kritik, tapi tetap harus dijalankan sesuai aturan.
Dibandingkan memberikan bantuan kepada UMKM yang bisa menyerap tenaga kerja, pemerintah malah melakukan belanja besar-besaran.
Seperti pengadaan kendaraan bagi petugas MBG. Pengangkatan satuan tugas dan jabatan-jabatan baru yang tidak jelas arah dan tujuan pembentukannya. Langkah ini hanya menambah beban biaya pemerintah yang harus mengeluarkan gaji, tunjangan, dan biaya birokrasi yang makin banyak.
Ini membuktikan bahwa pemerintah tidak memprioritaskan urusan rakyat. Keegoisan dan haus akan jabatanlah yang mereka dahulukan. Seolah tidak ada di kamus mereka untuk menjadikan rakyat sebagai pemenang dalam pertarungan krisis ekonomi. Malah pemerintah memeras rakyat dengan aneka pajak. Logika keuntungan pribadi mengalahkan logika membela rakyat.
Perang hanya bertindak sebagai katalisator atau faktor penguat yang mempercepat atau memperparah krisis yang sudah ada. Tapi akar semua ini adalah dari sistem kapitalisme yang bertanggung jawab menciptakan kezhaliman dari segala dimensi.
Disisi lain sistem ini melahirkan penguasa berwatak pengusaha. Pandangan mereka terhadap rakyat sebatas untung rugi. Bukan berasas pada prioritas dan amanah jabatan. Jiwa sekulerisme menjadi daya dorong yang kuat untuk bebas berperilaku sesuai dengan egonya.
Pada akhirnya masyarakat harus menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut. Justru kebijakan yang dibuat semakin memperburuk keadaan.
Keunggulan Sistem Mata Uang Berbasis Emas.
Islam menetapkan sistem mata uang berbasis emas. Sistem ini lebih stabil dan adil sehingga dari aspek ekonomi akan aman dan jauh dari krisis. Emas dan perak sudah lama dipakai sebagai sistem mata uang sejak masa Rasulullah Saw. Keduanya menjadi mata uang paling stabil yang pernah ada, bahkan terhadap nilai barang-barang konsumtif.
Pakar ekonomi syariah Dwi Condro Triono menjelaskan bahwa dalam sistem Islam, segala sesuatu yang akan digunakan sebagai mata uang, harus memenuhi tiga syarat:
Pertama, mata uang tersebut harus dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai suatu barang dan jasa, yaitu sebagai penentu harga dan upah.
Kedua, dikeluarkan oleh otoritas yang bertanggung jawab menerbitkan mata uang tersebut dan ini bukan badan yang tidak diketahui keberadaannya (majhûl).
Ketiga, mata uang tersebut harus tersebar luas dan mudah diakses oleh masyarakat luas dan tidak eksklusif hanya untuk sekelompok orang tertentu saja.
Kondisi melemahnya rupiah akan terus berulang selama negeri ini menerapkan ideologi kapitalisme, yang mana sistem ekonominya berbasis ribawi dan fiat money.
Sedangkan jika menerapkan sistem Islam, kondisi perekonomian akan lebih stabil dan kuat karena ditopang sistem ekonomi Islam berbasis emas dan perak yang memiliki beragam keunggulan, baik dari aspek bahannya, jangka waktu penggunaannya, dan nilainya.
Wallahu'alam bishowwab.
Tags
Opini