Robeknya Topeng Kemanusiaan Dunia


Oleh: Nettyhera
(Pengamat Kebijakan Publik)


Jeritan kemanusiaan kembali menggema dari tragedi yang menimpa para aktivis Global Sumud Flotilla 2.0. Mereka datang bukan membawa senjata, melainkan bantuan dan solidaritas untuk rakyat Gaza yang selama berbulan-bulan hidup dalam blokade, kelaparan, dan ancaman bom. Namun, yang mereka dapatkan justru penyiksaan, penghinaan, hingga kekerasan seksual dari militer Israel. Fakta ini sekali lagi memperlihatkan bahwa kejahatan Israel terhadap Palestina dan siapa pun yang membelanya telah mencapai titik yang sangat mengerikan. 

Pernyataan resmi penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 pada Jumat, 22 Mei 2026, mengungkap adanya sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, yang dialami para relawan selama penahanan oleh militer Israel. Sebagian relawan juga ditembak menggunakan peluru karet dari jarak dekat dan mengalami patah tulang akibat kekerasan fisik. Media Al Jazeera pada 22 Mei 2026 turut melaporkan kesaksian para aktivis yang mengalami perlakuan brutal selama berada dalam tahanan militer Israel. 

Kesaksian para aktivis asal Indonesia semakin memperlihatkan betapa biadabnya perlakuan tersebut. Dalam laporan iNews TV tanggal 22 Mei 2026, para relawan WNI mengaku dipukuli, disetrum, dan diteriaki sebagai “teroris” selama ditahan. Bahkan, pemerintah Kanada menyebut telah menerima laporan mengenai “perlakuan mengerikan” terhadap warganya, sedangkan pemerintah Jerman dan Spanyol mengonfirmasi bahwa sejumlah relawan mengalami luka serius. BBC Indonesia pada Mei 2026 juga memberitakan bagaimana misi kemanusiaan tersebut berujung pada penangkapan dan tindakan represif aparat Israel terhadap para aktivis internasional. 

Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa. Ini adalah potret nyata dari watak kolonialisme modern yang selama puluhan tahun melindungi Israel. Dunia seolah dipaksa menyaksikan bahwa siapa pun yang mencoba membantu Palestina dapat diperlakukan secara tidak manusiawi tanpa ada konsekuensi berarti bagi pelakunya. 


Kebal karena Dilindungi

Kejahatan Israel terhadap aktivis kemanusiaan lahir dari rasa kebal hukum yang terus dipelihara oleh dukungan negara-negara Barat. Selama ini Israel mendapatkan perlindungan politik, ekonomi, dan militer dari kekuatan besar dunia, terutama Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Dukungan tersebut melahirkan keberanian untuk terus bertindak represif karena mereka yakin tidak akan mendapatkan hukuman yang setimpal. 

Inilah yang disebut impunitas, yaitu kondisi ketika pelaku kejahatan merasa aman karena memiliki perlindungan kekuatan besar. Israel telah berkali-kali melakukan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, mulai dari pengeboman rumah sakit, pembantaian warga sipil, pembunuhan jurnalis, hingga blokade pangan terhadap Gaza. Namun, semua itu nyaris tidak pernah menghasilkan hukuman nyata. 

Sistem internasional hari ini terbukti sangat timpang. Hukum internasional sering kali hanya berlaku bagi negara-negara lemah, sedangkan negara yang didukung kekuatan besar dapat bertindak sesuka hati. Perserikatan Bangsa-Bangsa berulang kali mengeluarkan resolusi terkait Palestina, tetapi semuanya seperti macan tanpa taring. Ketika kepentingan geopolitik Barat bermain, keadilan pun lumpuh. 


Wajah Asli Dunia Global 

Tragedi yang menimpa para aktivis Global Sumud Flotilla menunjukkan bahwa dunia internasional sebenarnya gagal melindungi prinsip kemanusiaan yang selama ini mereka gaungkan sendiri. Aktivis kemanusiaan yang secara hukum internasional termasuk nonkombatan seharusnya mendapatkan perlindungan. Akan tetapi, Israel justru memperlakukan mereka dengan penyiksaan dan penghinaan. 

Kondisi ini memperlihatkan bahwa hukum internasional lahir dari sistem global yang dikendalikan kepentingan negara-negara besar. Akibatnya, hukum tidak lagi berdiri di atas keadilan, melainkan di atas kepentingan politik dan ekonomi. Selama Israel menjadi bagian dari kepentingan strategis Barat di Timur Tengah, pelanggaran terhadap Palestina akan terus dibiarkan. 

Dampak dari kejahatan ini tidak hanya dirasakan oleh para korban langsung. Dunia sedang menyaksikan lahirnya normalisasi kekerasan terhadap siapapun yang membela Palestina. Ketika relawan kemanusiaan saja dapat diperkosa, dipukuli, dan disiksa tanpa hukuman berarti, maka pesan yang ingin dibangun sangat jelas, yaitu menebar rasa takut kepada siapa saja yang ingin membantu Gaza. 

Situasi ini juga memperlihatkan kegagalan para penguasa negeri Muslim. Di saat rakyat Gaza terus dibantai dan para aktivis kemanusiaan disiksa, sebagian besar pemimpin negeri Muslim justru memilih diam atau sekadar mengeluarkan pernyataan diplomatis tanpa tindakan nyata. Tidak sedikit negara Muslim yang masih menjalin hubungan ekonomi dan politik dengan pihak-pihak yang mendukung Israel. 

Padahal, Palestina bukan hanya persoalan kemanusiaan biasa. Palestina adalah tanah yang dijajah. Persoalan utama di sana adalah keberadaan penjajahan yang dilindungi kekuatan global. Karena itu, solusi yang hanya berupa bantuan kemanusiaan jelas tidak cukup. Bantuan pangan memang penting untuk menyelamatkan korban, tetapi tidak akan pernah mampu menghentikan penjajahan. 


Jejak Peradaban Islam

Akar persoalan Palestina adalah bercokolnya entitas penjajah di tanah kaum Muslim. Selama penjajahan itu masih ada, maka pembantaian, blokade, dan kekerasan akan terus berulang. Oleh sebab itu, solusi hakiki menurut Islam adalah mengakhiri penjajahan tersebut secara total. 

Dalam sejarah Islam, perlindungan terhadap warga sipil dan nonkombatan merupakan prinsip yang sangat dijaga. Rasulullah ﷺ melarang pembunuhan terhadap perempuan, anak-anak, orang tua, tenaga medis, dan siapa pun yang tidak terlibat perang. Bahkan pohon dan tempat ibadah pun tidak boleh dirusak tanpa alasan syar’i. Ini menunjukkan bahwa Islam memiliki aturan perang yang sangat manusiawi, jauh berbeda dengan praktik brutal yang dilakukan Israel saat ini. 

Pada masa Kekhilafahan Islam, keamanan para utusan, pedagang, dan warga nonkombatan dijamin negara. Kehormatan perempuan juga dijaga dengan sangat serius. Sejarah mencatat bagaimana Khalifah Al-Mu’tashim bergerak mengirim pasukan besar hanya karena mendengar seorang perempuan Muslimah dilecehkan. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kehormatan umat benar-benar dijaga oleh negara. 

Bandingkan dengan kondisi hari ini ketika perempuan-perempuan aktivis kemanusiaan dilecehkan, tetapi dunia Muslim hanya sibuk mengeluarkan kecaman tanpa tindakan nyata. Inilah akibat ketika umat Islam kehilangan institusi politik yang melindungi mereka secara global. 


Jalan Pembebasan 

Islam memandang bahwa penjajahan adalah kezaliman yang wajib dihilangkan. Karena itu, jihad disyariatkan untuk membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan dan melindungi kaum tertindas. Jihad bukan tindakan brutal tanpa aturan sebagaimana propaganda Barat, melainkan perjuangan terorganisasi yang memiliki aturan syariat yang jelas. 

Palestina membutuhkan pembebasan, bukan sekadar bantuan sementara. Gaza membutuhkan perlindungan nyata, bukan hanya simpati internasional yang mudah dilupakan setelah berita berganti. Karena itu, umat Islam harus menyadari pentingnya persatuan politik dalam institusi Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. 

Khilafah bukan sekadar simbol romantisme sejarah, melainkan institusi politik yang memiliki kewajiban menjaga darah, kehormatan, dan tanah kaum Muslim. Dengan kekuatan politik dan militer yang bersatu, penjajahan seperti yang terjadi di Palestina tidak akan dibiarkan berlangsung selama puluhan tahun. 

Tragedi Global Sumud Flotilla telah membuka mata dunia bahwa kejahatan Israel bukan lagi sekadar konflik biasa, melainkan kejahatan kemanusiaan sistematis yang dilindungi tatanan global kapitalistik. Selama sistem internasional tetap tunduk pada kepentingan negara kuat, keadilan hanya akan menjadi slogan kosong. 

Karena itu, umat Islam tidak boleh berhenti pada rasa marah dan sedih semata. Kesadaran politik harus dibangun bahwa akar persoalan Palestina adalah penjajahan yang dijaga sistem kapitalisme global. Solusi hakiki tidak cukup hanya dengan diplomasi dan bantuan kemanusiaan, tetapi membutuhkan perubahan mendasar melalui jihad dan tegaknya Khilafah yang akan melindungi Palestina serta seluruh negeri Muslim dari kezaliman penjajah. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak