Krisis Pelayanan Kesehatan, Angka Kematian Ibu Tinggi


Oleh ; Pina Purnama S.,Km 

Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menyebut, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia memperihatinkan. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum POGI Prof. Dr. dr. Budi Wiweko dalam peringatan Hari Kartini di Rumah POGI, Pegangsaan, Menteng, Jakarta.

Prof Budi menjelaskan, berdasar data yang dia peroleh, tercatat AKI mencapai 189 kasus per 100.000 kelahiran. Menurut dia, angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara. ”Di sisi lain, setiap tahun, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis, dengan lebih dari 21 ribu kematian. (Koranindopos.com/21/4/26)

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan perkembangan terbaru angka kematian ibu dan anak di Indonesia berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. angka kematian ibu melahirkan atau Maternal Mortality Rate (MMR) dalam SUPAS 2025 tercatat sebesar 144 per 100.000 kelahiran hidup. 

“MMR adalah kematian perempuan usia 15 sampai 49 tahun yang terjadi pada periode kehamilan, persalinan, atau 42 hari setelah persalinan per 100.000 kelahiran hidup,” Amalia menyoroti masih tingginya angka kematian ibu di kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. “Wilayah tersebut memiliki MMR tertinggi yaitu 317 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup,” ungkapnya.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah Jawa-Bali yang mencatatkan MMR sebesar 114 per 100.000 kelahiran hidup. “Artinya, kesenjangan antarwilayah masih sangat lebar, bahkan hampir tiga kali lipat,”
(Bloomberg Technoz.com/6/5/24)

Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih relatif tinggi di Indonesia merupakan tantangan besar dalam dunia kesehatan masyarakat. Masalah ini tidak berdiri sendiri, melainkan hasil dari akumulasi faktor medis, sosial, ekonomi, hingga geografis yang saling kait-mengait.
Secara garis besar, latar belakang tingginya AKI di Indonesia dapat dibagi menjadi dua faktor utama: faktor medis langsung dan faktor non-medis (sosial-kultural & sistemik).

Pemerintah sendiri terus berupaya menekan angka ini melalui berbagai program, seperti kewajiban persalinan di fasilitas kesehatan, standarisasi pemeriksaan kehamilan (minimal 6 kali kunjungan ANC), serta program Jaminan Persalinan (Jampersal) bagi masyarakat kurang mampu. Namun, percepatan penurunan AKI membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat, bukan hanya dari sisi medis semata.


Mengapa bisa terjadi kematian 
Ibu tinggi ? 

A. Sosial dan masalah ekonomi 

1. Ketimpangan Distribusi Tenaga Kesehatan: Dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Sp.OG) serta fasilitas Comprehensive Emergency Obstetric and Newborn Care (PONEK) masih sangat berpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa. Daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan sering kali kekurangan tenaga ahli.

2. Kurangnya Kualitas Antenatal Care (ANC): Pemeriksaan kehamilan secara rutin terkadang belum memenuhi standar kualitas minimum (seperti skrining ultrasonografi atau USG oleh dokter pada trimester pertama dan ketiga), sehingga potensi komplikasi terlambat dideteksi.
Status Nutrisi Ibu (Anemia dan KEK): Banyak ibu hamil di Indonesia yang menderita Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia (kurang sel darah merah). Ibu yang anemia jauh lebih rentan mengalami pendarahan hebat saat melahirkan.

3. Budaya dan Edukasi: Di beberapa daerah, kepercayaan terhadap dukun beranak yang belum bermitra dengan tenaga medis resmi masih kuat, atau ada tabu makanan tertentu yang justru membatasi asupan nutrisi penting bagi ibu hamil.

B. Faktor medis 

1. Pendarahan Hebat: Ini adalah penyebab nomor satu. Pendarahan pasca-persalinan (postpartum hemorrhage) sering kali terjadi sangat cepat dan fatal jika tidak segera ditangani dengan transfusi darah atau tindakan medis darurat.

2. Hipertensi dalam Kehamilan (Preeklamsia/Eklamsia): Kondisi tekanan darah tinggi yang disertai protein uria ini bisa memicu kejang (eklamsia) hingga kegagalan organ pada ibu hamil.

3. Infeksi: Terutama terjadi akibat proses persalinan yang kurang steril atau penanganan masa nifas yang tidak higienis.

C. Faktor Non medis 

1. Terlambat mengambil keputusan di tingkat keluarga untuk mencari pertolongan medis, sering kali karena faktor biaya, ketidaktahuan, atau harus menunggu izin dari kepala keluarga.

2. Terlambat mencapai fasilitas kesehatan karena kendala geografis, infrastruktur jalan yang rusak, atau minimnya transportasi darurat di daerah pelosok.

3. Terlambat mendapatkan penanganan medis yang adekuat di fasilitas kesehatan, baik karena keterbatasan alat, stok darah yang kosong, atau kurangnya tenaga spesialis (seperti dokter kandungan atau anestesi) di rumah sakit rujukan daerah.

Solusi Islam 

Pertama; negara dalam sistem Islam memposisikan pelayanan kesehatan adalah kewajiban bukan sekedar meraup keuntungan semata, sehingga masyarakat terlayani dalam sektor pelayanan kesehatan. 

Kedua; negara dalam sistem Islam di topang oleh ekonomi Islam dalam pembiayaan dan sarana prasarana bersumber dari Baitul mal secara gratis bagi masyarakat yang kurang mampu 

Ketiga ; Distribusi pelayanan yang tidak merata dari pusat hingga ke daerah, dalam sistem kapitalisme berbeda dalam sistem Islam akan terpenuhi fasilitas, sarana, SDM kesehatan, jaminan pelayanan kesehatan, administrasi yang mudah dan praktis, mengutamakan pelayanan. 

Wallahualambishawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak