Ironi AKI Tinggi Saat Jumlah Dokter Kandungan Surplus

Ana

Angka kematian ibu (AKI) lndonesia tertinggi di Asia Tenggara, padahal jumlah dokter kandungan surplus. Kebanyakan dokter kandungan terkonsentrasi di kota-kota besar, sedangkan di daerah 3T seperti Papua, jumlahnya sangat minim. Ini karena tingkat kesejahteraan dan fasilitas daerah 3T jauh jika dibandingkan dengan kota besar. Seperti yang ditulis Liputan6.com, Jakarta- Tangis pecah di jalur pegunungan Desa Ratte, Kecamatan Tubbi Taramanu (Tutar), Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Di tengah jalan berlumpur, licin, berbatu, puluhan warga bergantian menandu seorang ibu hamil yang tengah berjuang menuju pertolongan medis. Ibu muda itu adalah Masni (27) . Pada Sabtu 16 Mei lalu , ia harus dibawa sejauh 9 kilometer menuju titik yang bisa dilalui kendaraan. Kondisi jalan tak mampu menjangkau kampung mereka. Namun kenyataan pahit yang harus mereka telan,  meski sudah melalui perjalanan 4 jam ditandu lewati hutan dan sungai, bayi tak selamat.

Pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti menyatakan, tingginya angka kematian ibu di tengah surplus dokter obgin merupakan paradoks yang sangat memprihatikan. "Kematian ibu di banyak daerah menjadi bukti bahwa jumlah dokter obgin yang sudah lebih dari kebutuhan tidak akan berarti tanpa adanya pemerataan," ungkapnya (Muslimah News). Inilah gambaran potret buram ketimpangan yang terjadi di negeriku tercinta, upaya pemerataan dokter kandungan, misalnya dengan program WKDS, saat ini tidak bisa dilakukan karena ini tidak bisa dianggap melanggar HAM.

AKl tinggi menunjukkan negara gagal melundungi nyawa ibu. Ini berdampak pada kelangsungan hidup anak, kesehatan dalam kapitalisme hanya di anggap sebagai komoditas sehingga dipenuhi untuk tujuan materi (keuntungan), bukan untuk pelayanan rakyat. Kapitalisme hanya peduli pada jumlah tenaga kesehatan, tetapi abai dalam distribusinya sehingga tidak menyelesaikan masalah. Negara hanya menjadi regulator, bukan pengurus rakyat. Distribusi dokter kandungan menjadi salah satu penyebab tingginya AKI. Namun, sebenarnya persolan nya sistematis, yaitu terkait jaminan pemerataan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan infrastruktur kesehatan (ketersediaan faskes, RS, dokter, perawat, bidan, dll)

Bagaimana negeri yang melimpah sumber daya alamnya ini harus menghadapi kerusakan pada generasi penerus di karenakan AKI yang kian hari sangat memprihatikan, bukankah mereka yang tinggal jauh dari kota juga ingin merasakan apa yang dinamakan nyaman menikmati fasilitas dari Pemerintah yang sering dijanjikan saat pemilihan Presiden dan wakil-wakilnya. Mereka hanya menginginkan suara rakyat demi melanggengkan kedudukannya di kursi jabatan yang selanjutnya menghisap habis darah dan keringat rakyatnya melalui pajak. Rakyat yang seharusnya mendapatkan pelayanan yang memuaskan justeru harus menggigit jari yang membuat jurang ketimpangan antara si miskin dan si kaya, di kota dan di pelosok daerah makin melebar tak terkendali.

Selama negeri kita terus menerapkan sistem kapitalis jangan berharap rakyatnya akan terlayani dengan baik, hukum syari'at diabaikan sementara hukum buatan manusia diagungkan dan dilaksanakan dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam kasus AKI ini lslam memosisikan kesehatan adalah kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara, negara menyediakan fasilitas kesehatan, infrastruktur, dan nakes dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata. Tidak boleh ada daerah yang kekurangan layanan kesehatan. Khilafah juga membangun infrastruktur (seperti jalan) untuk memudahkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Khilafah membiayai sektor kesehatan dari baitulmal sehingga tersedia gratis.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak