Hegemoni Dolar dan Krisis Ekonomi Berulang : Bagaimana Pandangan Islam?


Oleh : Ummu Zeyn

Kurs dolar kembali menguat per Juni 2026 hingga mencapai angka 18.000.  Kenaikan ini adalah yang terbesar setelah mengalami kenaikan beberapa kali. Setiap kali nilai dolar menguat terhadap rupiah, berita yang muncul hampir selalu sama, diiringi dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, cicilan utang yang terus membengkak, daya beli masyarakat yang melemah, dan sederet berita yang menunjukkan indikasi kesengsaraan rakyat yang semakin bertambah.

Sementara disisi lain, pemerintah dan ekonomi arus utama biasa menjelaskan fenomena tersebut adalah sebagai gejolak pasar yang bersifat teknis, dan solusi yang ditawarkan biasanya bekisar pada stabilisasi moneter, pengelolaan suku bunga atau penyesuaian fiskal.

Namun, ada pertanyaan mendasar yang mungkin sering terbersit dalam benak tapi jarang kita ajukan dan kita bahas, yaitu : Mengapa kehidupan rakyat sebuah negeri harus bergantung pada mata uang negara lain? Mengapa menguatnya mata uang negara lain (dolar) dapat menyebabkan penderitaan jutaan manusia yang bahkan tidak pernah menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari?

Dalam perspektif Islam ideologis, kenaikan dolar tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis dan sekedar fenomena pasar, melainkan gejala dari ketergantungan struktural yang lahir dari dominasi sistem kapitalisme global. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan Islam tidak berhenti pada perbaikan teknis, tapi menyentuh akar masalah yang melahirkan problem tersebut.

Dolar dan Hegemoni Ekonomi Global

Dolar AS saat ini berfungsi sebagai mata uang cadangan dunia (global reserve currency). Sebagian besar perdagangan internasional, transaksi energi, utang luar negeri, dan cadangan devisa negara-negara di dunia menggunakan dolar.
Akibatnya, ketika dolar menguat, negara-negara berkembang menghadapi berbagai tekanan.

Utang luar negeri menjadi semakin membengkak.
Harga barang impor meningkat.
Biaya produksi dalam negeri naik karena ketergantungan pada bahan baku impor, inflasi meningkat, daya beli masyarakat menurun.

Dalam kondisi seperti ini, rakyatlah yang menanggung beban terbesar. Buruh, petani, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat berpenghasilan tetap harus membeli barang dengan harga yang terus naik sementara pendapatan mereka relatif stagnan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi dunia saat ini tidak dibangun atas asas kemandirian dan keadilan, tetapi atas asas dominasi dan ketergantungan. Negara-negara berkembang diposisikan sebagai pasar, pemasok bahan mentah, sekaligus konsumen produk-produk negara industri.

Mengapa Rakyat Selalu Menjadi Korban?

Dalam sistem kapitalisme, tujuan utama aktivitas ekonomi adalah pertumbuhan dan akumulasi keuntungan. Negara berfungsi sebagai regulator yang menjaga keberlangsungan pasar, bukan sebagai penanggung langsung kesejahteraan rakyat.

Ketika dolar naik, pemerintah sering mengambil langkah-langkah yang pada akhirnya kembali menambah beban bagi rakyat : Kenaikan harga BBM, pengurangan subsidi,peningkatan tarif layanan publik, penambahan pajak, pengetatan anggaran sosial.

Logika yang digunakan adalah menjaga stabilitas ekonomi makro. Akan tetapi, stabilitas makro sering dicapai dengan mengorbankan stabilitas kehidupan mikro rakyat.

Akibatnya muncul paradoks. Indikator ekonomi dapat terlihat baik di atas kertas, tetapi masyarakat merasakan kesulitan yang semakin berat dalam kehidupan sehari-hari. Pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat karena distribusi kekayaan terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Akar Masalah: Ketergantungan pada Sistem Kapitalisme Global

Dari sudut pandang Islam ideologis, persoalan utama bukan terletak pada naik atau turunnya dolar semata.
Dolar hanyalah simbol dari struktur ekonomi global yang dibangun di atas kapitalisme.

Ada beberapa karakteristik sistem ini yang melahirkan kerentanan permanen:
1. Sistem Uang Fiat Tanpa Nilai Intrinsik
Mata uang modern tidak lagi ditopang oleh emas atau perak. Nilainya bergantung pada kepercayaan pasar dan kekuatan politik negara penerbitnya.
Akibatnya, mata uang dapat mengalami fluktuasi ekstrem yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

2. Dominasi Sistem Utang
Perekonomian modern bertumpu pada ekspansi kredit dan utang. Negara berkembang sering terjebak dalam lingkaran utang luar negeri. Ketika dolar menguat, pembayaran pokok dan bunga utang menjadi lebih berat sehingga anggaran negara tersedot untuk melayani kreditur dibanding memenuhi kebutuhan rakyat.

3. Liberalisasi Perdagangan
Kapitalisme mendorong pembukaan pasar secara luas.
Akibatnya, banyak negara kehilangan kemandirian produksi dan bergantung pada impor untuk kebutuhan strategis seperti pangan, energi, obat-obatan, dan teknologi.

Ketika kurs dolar naik, ketergantungan tersebut berubah menjadi penderitaan ekonomi yang nyata.

4. Privatisasi Kekayaan Publik
Sumber daya alam yang seharusnya menjadi milik rakyat sering diserahkan kepada korporasi besar.
Negara kehilangan sumber pemasukan strategis sehingga semakin bergantung pada pajak dan utang.
Pada akhirnya rakyat harus membayar dua kali: sebagai pemilik sumber daya yang kehilangan haknya, dan sebagai pembayar pajak yang menanggung beban negara.

Perspektif Islam: Ekonomi untuk Kemaslahatan Manusia

Islam memandang ekonomi bukan sekadar aktivitas produksi dan konsumsi, melainkan bagian dari pengaturan kehidupan yang bertujuan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam paradigma Islam, negara tidak boleh menyerahkan nasib rakyat kepada mekanisme pasar semata. Negara berkewajiban menjadi pengurus (ri'ayah) yang menjamin kebutuhan dasar masyarakat.

Karena itu, solusi Islam tidak terbatas pada kebijakan moneter, melainkan mencakup perubahan paradigma pengelolaan ekonomi secara menyeluruh.

Solusi yang Islam tawarkan diantaranya :
1. Membangun Kemandirian Ekonomi Nasional
Islam mendorong negara untuk memiliki kemampuan produksi yang kuat dalam sektor-sektor strategis seperti pangan, energi, air, industri dan teknologi penting.

Dengan demikian, ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara signifikan sehingga gejolak kurs tidak langsung menghantam kehidupan rakyat.

2. Pengelolaan Kepemilikan Umum untuk Kepentingan Rakyat
Dalam fikih ekonomi Islam, sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak termasuk kategori kepemilikan umum.
Seperti tambang besar,migas,hutan dan sumber air

Keuntungan dari sektor ini harus dikembalikan kepada rakyat melalui pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang terjangkau. Dengan pemasukan besar dari sektor tersebut, negara tidak perlu bergantung pada utang maupun pajak yang memberatkan masyarakat.

3. Menghapus Ketergantungan pada Sistem Riba
Islam mengharamkan riba karena menciptakan ketimpangan dan eksploitasi. Sistem ekonomi yang bertumpu pada utang berbunga membuat negara maupun individu terperangkap dalam beban finansial yang terus membesar.

Penghapusan mekanisme riba akan mengurangi tekanan struktural yang selama ini memperkuat dominasi lembaga keuangan global.

4. Stabilitas Moneter Berbasis Nilai Riil
Secara historis, Islam menggunakan emas dan perak sebagai standar moneter.
Tujuannya bukan romantisme sejarah, melainkan menjaga kestabilan nilai tukar dan mencegah manipulasi moneter yang berlebihan.

Prinsip utama yang dapat diambil adalah bahwa uang harus memiliki keterkaitan kuat dengan nilai riil sehingga tidak mudah menjadi instrumen spekulasi.

5. Distribusi Kekayaan yang Adil
Islam tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga distribusi kekayaan.
Adanya perintah zakat,larangan penimbunan,larangan monopoli, adanya pengaturan kepemilikan, serta kewajiban negara memenuhi kebutuhan dasar rakyat.

Semua aturan itu berfungsi untuk mencegah kekayaan beredar hanya di kalangan elite ekonomi.
Dengan distribusi yang lebih merata, masyarakat memiliki daya tahan lebih kuat terhadap gejolak ekonomi global.

Kenaikan dolar yang berulang kali menimbulkan kesengsaraan rakyat bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan gejala dari struktur ekonomi global yang menempatkan banyak negara dalam posisi ketergantungan terhadap kekuatan finansial internasional.

Selama akar masalah berupa ketergantungan ekonomi, dominasi utang, sistem uang fiat yang rentan, dan penguasaan sumber daya oleh kepentingan kapital besar tidak disentuh, maka gejolak kurs akan terus berulang dengan korban yang sama: rakyat kecil.

Islam menawarkan perspektif yang berbeda. Solusi yang diajukan bukan sekadar stabilisasi nilai tukar atau penyesuaian kebijakan fiskal, melainkan pembangunan sistem ekonomi yang berlandaskan kedaulatan, keadilan distribusi, pengelolaan kekayaan publik untuk kemaslahatan masyarakat, serta penghapusan mekanisme eksploitasi yang bersumber dari riba dan ketergantungan struktural.

Dengan demikian, persoalan kenaikan dolar tidak dipandang sebagai masalah teknis semata, melainkan sebagai bagian dari pertarungan paradigma antara sistem yang menjadikan manusia sebagai objek pasar dan sistem yang menempatkan kesejahteraan manusia sebagai tujuan utama pengelolaan ekonomi.

Wallahu A'lam Bi Ash-Shawwab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak