‎Derita Sunyi Anak Gaza, Luka yang Membungkam Suara

‎Derita yang dialami anak-anak Gaza terus mengetuk hati nurani dunia. Di tengah gempuran yang tak kunjung berhenti, mereka bukan hanya kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman, tetapi juga kehilangan sebagian dari dirinya. Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk menyampaikan bahwa hampir setiap anak di Gaza mengalami trauma berat. Bahkan sebagian anak kehilangan kemampuan berbicara akibat tekanan psikologis yang begitu dahsyat. 
‎Trauma yang membungkam suara anak-anak Gaza adalah gambaran nyata betapa dalam luka yang mereka tanggung selama ini. Masa kecil yang seharusnya dipenuhi keceriaan berubah menjadi hari-hari yang dipenuhi ketakutan, ledakan, kehilangan, dan ketidakpastian. Kondisi ini menunjukkan bahwa penderitaan yang mereka alami bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga penghancuran mental dan emosional yang meninggalkan bekas panjang bagi generasi yang akan datang. 
‎Sungguh menyedihkan, di saat penderitaan tersebut terus berlangsung, dunia tampak belum mampu menghentikan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Berbagai kecaman dan bantuan kemanusiaan belum cukup untuk mengakhiri penjajahan dan kekerasan yang terus menimpa rakyat Gaza. Anak-anak yang tidak berdosa tetap menjadi korban dari konflik yang berkepanjangan. 
‎Oleh karena itu, penderitaan anak-anak Palestina tidak boleh dipandang sebagai persoalan kemanusiaan yang memerlukan bantuan sesaat. Akar masalahnya harus diselesaikan yaitu dengan berakhirnya penjajahan dan terwujudnya keamanan bagi rakyat Palestina di tanah mereka sendiri. Umat Islam harus terus menumbuhkan kepedulian, persatuan, dan kesadaran untuk membela saudara-saudaranya yang tertindas dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran Islam. 
‎Semoga penderitaan yang membungkam suara anak-anak Gaza segera berakhir, dan mereka dapat kembali menjalani masa kecil yang penuh harapan, kedamaian sebagaimana anak-anak lainnya di seluruh dunia. 
‎Umi Hafizha 
‎Bogor

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak