(Pengamat Kebijakan Publik)
Ibadah haji kembali menjadi perhatian dunia pada tahun 2026. Jutaan kaum Muslim dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci dengan pakaian yang sama, bacaan talbiyah yang sama, dan tujuan ibadah yang sama. Pemandangan itu selalu menghadirkan pesan besar bahwa Islam sesungguhnya memiliki kekuatan persatuan yang luar biasa. Namun di balik lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah, dunia Islam justru masih berada dalam kondisi tercerai-berai secara politik, ekonomi, bahkan militer.
Ironisnya, di saat umat Islam berkumpul dalam satu kiblat, negeri-negeri Muslim justru sering berada dalam posisi saling curiga dan memiliki kepentingan politik yang berbeda-beda. Konflik geopolitik di Timur Tengah, persaingan pengaruh global antara Amerika Serikat, Rusia, dan China, hingga normalisasi hubungan sebagian negara Arab dengan Israel semakin memperlihatkan bahwa dunia Islam belum memiliki arah politik yang menyatu.
Menurut laporan Al Jazeera pada awal 2026, ketegangan politik regional di kawasan Timur Tengah masih dipengaruhi persaingan kepentingan keamanan, energi, dan pengaruh global. Di sisi lain, konflik Gaza yang terus berlangsung sejak agresi besar Israel pada 2023 juga memperlihatkan lemahnya posisi politik negara-negara Muslim dalam menghentikan penjajahan terhadap Palestina. Banyak negara Muslim hanya mampu mengeluarkan kecaman diplomatik tanpa langkah strategis yang nyata.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan umat Islam hari ini bukan sekadar masalah ekonomi atau militer, melainkan persoalan absennya persatuan politik yang kuat. Dunia Islam memang memiliki jumlah penduduk besar, tetapi kekuatan itu tercerai-berai oleh nasionalisme, kepentingan rezim, dan tekanan kekuatan asing.
Haji dan Potret Persatuan Umat
Setiap musim haji, umat Islam menyaksikan gambaran persatuan yang sangat menakjubkan. Tidak ada pembeda antara orang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, kulit putih maupun kulit hitam. Semua mengenakan ihram yang sama dan menghadap Allah SWT dengan penuh ketundukan.
Momentum haji sejatinya mengandung pesan politik yang sangat mendalam. Islam mengajarkan bahwa kaum Muslim adalah satu umat.
Allah SWT berfirman:
“Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai.” (TQS Ali ‘Imran [3]: 103).
Sayangnya, spirit persatuan itu sering berhenti hanya pada ritual spiritual. Setelah musim haji selesai, umat Islam kembali hidup dalam sekat negara bangsa yang diwariskan kolonialisme Barat. Padahal, sekat-sekat tersebut justru menjadi salah satu penyebab utama lemahnya posisi umat Islam di hadapan dunia.
Data Pew Research Center menunjukkan bahwa populasi Muslim dunia mencapai lebih dari dua miliar jiwa dan menjadi salah satu komunitas agama terbesar di dunia. Selain itu, banyak negeri Muslim memiliki kekayaan sumber daya alam strategis. Laporan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menunjukkan sebagian besar cadangan minyak dunia berada di kawasan negara mayoritas Muslim. Namun kekayaan besar itu justru sering dikuasai kepentingan korporasi global dan kekuatan asing.
Akibatnya, negeri-negeri Muslim sering mengalami paradoks. Kaya sumber daya, tetapi rakyatnya miskin. Memiliki posisi geopolitik strategis, tetapi kebijakan politiknya bergantung pada negara besar. Memiliki jumlah penduduk besar, tetapi tidak memiliki pengaruh global yang kuat.
Akar Persoalan Dunia Islam
Jika ditelaah lebih dalam, akar persoalan dunia Islam hari ini tidak bisa dilepaskan dari runtuhnya institusi politik pemersatu umat, yakni Khilafah Islamiyah pada 1924. Setelah runtuhnya Daulah Utsmaniyah, negeri-negeri Muslim dipecah menjadi banyak negara kecil dengan batas nasional masing-masing.
Sejarawan Muslim dan berbagai kajian politik internasional menjelaskan bahwa kolonialisme Barat memainkan peran besar dalam membentuk fragmentasi dunia Islam modern. Perjanjian Sykes-Picot tahun 1916 misalnya, menjadi salah satu simbol pembagian wilayah Timur Tengah oleh Inggris dan Prancis demi kepentingan politik mereka.
Akibat dari pembagian tersebut masih terasa hingga hari ini. Dunia Islam menjadi mudah diintervensi. Konflik antarnegara Muslim terus terjadi. Bahkan sebagian negeri Muslim justru bergantung pada perlindungan militer negara-negara Barat.
Lebih jauh lagi, sistem politik sekuler yang diterapkan di banyak negeri Muslim membuat agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan publik. Islam akhirnya hanya diposisikan sebagai urusan ibadah individual, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur politik, ekonomi, pendidikan, hingga hubungan internasional.
Padahal Islam bukan hanya agama ritual. Islam juga memiliki sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan aturan sosial yang pernah melahirkan peradaban besar selama berabad-abad.
Islam Memimpin Peradaban Dunia
Sejarah mencatat bahwa dunia Islam pernah menjadi pusat peradaban global ketika umat bersatu dalam institusi Khilafah. Pada masa Kekhilafahan Abbasiyah, Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Pada masa Utsmaniyah, wilayah Islam membentang dari Asia, Afrika, hingga Eropa.
Dalam sejarah Islam, jamaah haji bukan sekadar perjalanan ibadah. Haji juga menjadi sarana komunikasi politik, pendidikan, dan ukhuwah antarumat Islam dari berbagai wilayah. Para khalifah bahkan memberikan perhatian besar terhadap keamanan jalur haji dan pelayanan jamaah.
Khalifah Umar bin Khaththab misalnya dikenal sangat memperhatikan pelayanan publik bagi rakyatnya, termasuk keamanan perjalanan kaum Muslim. Sementara pada masa Sultan Abdul Hamid II dari Daulah Utsmaniyah, pembangunan jalur kereta Hijaz dilakukan untuk memudahkan perjalanan haji kaum Muslim dari berbagai wilayah.
Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa persatuan politik umat Islam pernah menjadi realitas, bukan sekadar utopia. Persatuan itu pula yang membuat dunia Islam memiliki kewibawaan global dan mampu melindungi rakyatnya.
Tantangan Persatuan Umat
Di Indonesia, spirit persatuan umat juga menjadi kebutuhan mendesak. Polarisasi politik, konflik kepentingan, serta propaganda media sosial sering memecah belah masyarakat. Perbedaan pilihan politik bahkan kerap memicu permusuhan di tengah sesama Muslim.
Kondisi ini sangat berbahaya karena masyarakat yang terpecah akan mudah dilemahkan. Padahal Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Jika potensi besar itu diarahkan pada kesadaran Islam yang kuat, Indonesia dapat menjadi bagian penting dari kebangkitan dunia Islam.
Karena itu, umat Islam harus menjaga ukhuwah islamiyah di tengah berbagai perbedaan organisasi, mazhab, maupun pilihan politik. Persatuan umat tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat atau ambisi kekuasaan.
Perjuangan memperbaiki kondisi negeri juga tidak cukup hanya dengan pergantian figur pemimpin atau pergantian kebijakan jangka pendek. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar terhadap cara pandang hidup masyarakat agar kembali menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan secara menyeluruh.
Kesadaran politik Islam harus dibangun melalui dakwah dan pembinaan umat secara terus-menerus. Sebab perubahan besar lahir perubahan pola pikir dan kesadaran ideologis masyarakat.
Spirit Haji dan Kebangkitan Islam
Ibadah haji sejatinya mengajarkan bahwa umat Islam mampu bersatu tanpa dibatasi ras, bangsa, maupun status sosial. Spirit besar itu semestinya tidak berhenti di Tanah Suci, tetapi menjadi energi kebangkitan umat Islam di seluruh dunia.
Umat Islam membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan potensi besar mereka dan menerapkan hukum-hukum Allah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam pandangan Islam ideologis, institusi Khilafah dipandang sebagai mekanisme syar’i untuk menjaga persatuan umat dan melindungi kaum Muslim dari kezaliman global.
Dengan persatuan politik yang kuat, kekayaan alam dunia Islam dapat dikelola untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan asing. Kekuatan militer umat juga dapat diarahkan untuk melindungi negeri-negeri Muslim dari penjajahan dan intervensi global.
Karena itu, spirit persatuan dalam ibadah haji semestinya menjadi pengingat bahwa umat Islam sesungguhnya memiliki potensi menjadi kekuatan peradaban besar dunia. Potensi itu hanya akan terwujud jika umat kembali bersatu dalam visi Islam yang sama dan meninggalkan sekat-sekat yang diwariskan kolonialisme.
Semoga Allah SWT bangkitkan kembali kesadaran umat Islam untuk menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah, dan memperjuangkan kehidupan yang diatur dengan syariat Islam secara kaffah. Sebab hanya dengan itulah umat Islam dapat kembali menjadi rahmat bagi seluruh alam.