Bencana Kekeringan Bukan Sekadar Fenomena Alam Semata


Oleh : Nia Faeyza
(Aktivis Dakwah Islam) 


Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap, Jawa Tengah menyiapkan sedikitnya 250 tangki air bersih untuk mengantisipasi kekeringan di musim kemarau. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Cilacap diprediksi terjadi mulai pada dasarian kedua bulan Mei ini.

Sumber: https://regional.kompas.com

Cuaca saat ini semakin sulit diprediksi. Akibat dari perubahan iklim global, pemanasan suhu permukaan laut, dan fenomena El Nino.
Hal ini membuat siklus musim dan pembentukan awan hujan menjadi kacau.

Faktor penyebabnya adalah karena pemanasan global, antara lain : 
1. Penggunaan energi yang berlebihan, seperti AC, kulkas, listrik. 
2. Penggunaan transportasi yang menyebabkan pencemaran udara akibat dari asap kendaraan. 
3. Aktivitas industri, seperti produksi minyak bumi, batu bara, semen, dan sebagainya. Semua ini meyebabkan meningkatnya jumlah udara kotor atau karbondioksida. 
4. Limbah Rumah Tangga, seperti pembakaran sampah. 
5. Penebangan pohon, penggundulan hutan secara berlebihan sangat berdampak fafal, yaitu menghilangkan fungsi pohon itu sendiri, pertama sebagai penyerap larbondioksida dan melepaskan oksigen. Yang kedua, sebagai penyerap dan penyimpan air. 

Cuaca sangat berdampak pada aktivitas manusia sehari-hari. Dalam ilmu geografi, cuaca adalah kondisi udara di atmosfer pada suatu wilayah dalam jangka waktu singkat (jam hingga hari). Cuaca salah satunya dipengaruhi oleh curah hujan. 
Memasuki akhir Mei, curah hujan mulai rendah, tapi sekalinya hujan bisa berlangsung lama bahkan sehari semalam. Akibatnya banyak terjadi longsor di beberapa titik, terutama di daerah dataran tinggi atau pegunungan. Hal ini disebabkan karena tanah yang berhari-hari kering, tiba-tiba tersiram hujan deras dengan durasi yang lama, sehingga tanah yang gundul tidak mampu menahan resapan air yang kemudian terjadi longsor. 

Hujan yang turun dadakan di awal kemarau sangat rentan menyebabkan bencana alam, seperti tanah bergerak, dan tanah longsor.

Bencana alam bukan sekedar fenomena alam semata, tapi akibat dari  ulah tangan manusia yang rakus. Penebangan hutan yang belebihan menjadi pendorong terjadinya bencana, seperti :
1. Banjir, akibat hutan yang gundul, tanah kehilangan kemampuan dalam menyerap air, sehingga volume air hujan yang mengalir langsung ke permukaan bumi meningkat drastis. Terjadilah banjir. 
2. Tanah longsor, akibat hilangnya akar pohon membuat struktur tanah menjadi gembur dan rawan bergerak. Terjadilah longsor dan tanah bergerak. 
3. Kekeringan, akibat rusaknya kawasan resapan air, menyebabkan cadangan air dalam tanah menyusut drastis saat musim kemarau. Akibatnya bisa terjadi kekeringan lebih cepat karena tanah tidak mampu lagi menyimpan cadangan air karena tidak adanya akar pohon. 
4. Meningkatkan kebakaran hutan

Bencana hidro meteorologi terjadi justru lebih besar disebabkan oleh perilaku manusia. Eksplorasi dan eksploitasi Sumber Daya Alam secara besar-besaran yang dilakukan tanpa memandang keseimbangan lingkungan hanya demi "keuntungan". Itulah rakusnya kapitalisme. Melahirkan manusia-manusia yang rakus pula. Jika kita perhatikan kembali isi artikel penanggulangan bencana hidro meteorologi fokusnya justru pada pengadaan barang. Tentunya kita tahu dalam asas utilitarianisme kapitalis, pasti selalu ada mark up harga dalam setiap pengadaan barang dan jasa. Padahal yang perlu diperbaiki adalah keseimbangan alam. Tentang cara memanfaatkan Sumber Daya Alam secara beradab tanpa merusak alam. Sehingga tidak ada perubahan iklim yang mengubah cuaca ekstrem dan menjadi penyebab bencana hidro meteorologi.

Dalam sistem sekarang mustahil untuk bisa diterapkan metode yang ramah lingkungan. Yang menjadi standar adalah manfaat, maka sekalipun harus mengorbankan alam bahkan mengancam nyawa manusia semua itu tidak akan jadi pertimbangan untuk terus mengeksploitasi SDA sampai habis. Asalkan masih menguntungkan maka segala batasan akan dilewati. Inilah sistem kapitalisme yang rusak dan merusak. Akibat kerakusan segelintir orang, keselamatan seluruh rakyat dipertaruhkan. Sistem ini hanya mengindikasikan kehancuran pada ekosistem yang ada di muka bumi. Tidak hanya mengancam manusia, tapi juga hewan terutama yang habitatnya di alam bebas. Harimau, gajah, banyak yang tewas karena hutan yang menjadi rumah mereka digunduli sehingga tidak ada lagi tempat tinggal untuk hewan-hewan tersebut. Ditambah lagi pembangunan infrastruktur seperti jalan, rel kereta, supermarket, yang tidak memperhatikan dampak lingkungan. Tak sedikit lahan Pertanian seperi sawah, kebun beralih fungsi menjadi bangunan. Hal ini menyebabkan menurunnya hasil bumi serta meningkatnya dampak lingkungan seperti pencemaran dan limbah akibat minimnya daya serap air akibat semakin minimnya pepohonan. Udara terasa semakin gersang dan kotor. Maka tak heran jika banyak orang yang terganggu kesehatannya akibat udara kotor. Berbagai penyakit dialami beberapa orang seperti paru-paru dan gangguan pernafasan lainnya.
Hal ini seharusnya ditanggapi  dengan serius oleh pemerintah. Karena dampaknya sudah sangat masif dan membahayakan nyawa. Harus bisa memutus rantai penebanngan pohon secara brutal, jika mampu memutus pula kerjasama dengan para investor asing. Ini bukan hanya fenomena alam tapi ini adalah masalah sistemik yang akan selesai manakala persoalan sistemnya selesai. 

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS.Ar Rum : 41) 

Sistem saat ini terbukti tidak bisa mewujudkan kelestarian makhluk hidup, yang ada justru bisa memusnahkan ekosistem perlahan lahan. 
Butuh sistem yang mengalokasikan kenyamanan bagi habitat semua makhluk hidup.
Hal itu hanya akan terwujud ketika sistem Islam diterapkan. SDA akan dikelola mandiri oleh negara dan hasilnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Tidak akan ada lagi penebangan hutan secara ugal-ugalan. Lingkungan akan terkendali dan habitat manusia serta makhluk hidup lainnya akan terjaga. 

Wallahu 'alam bishshawwab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak