Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis lepas)
Gaza masih menangis. Diketahui jumlah korban tewas akibat agresi Zionis Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, dengan 172.535 lainnya terluka, menurut sumber medis setempat.
Mereka melaporkan rumah sakit yang masih beroperasi di seluruh Jalur Gaza menerima lima korban tewas dan 15 korban luka dalam 24 jam terakhir.
Jumlah keseluruhan warga Palestina yang tewas sejak diberlakukan gencatan senjata 11 Oktober 2025 telah mencapai 850, sementara korban luka bertambah menjadi 2.433 orang. Sebanyak 770 jasad juga telah ditemukan dari timbunan reruntuhan. (antaranews.com. Minggu, 10/5/2026)
Saat ini seluruh dunia sudah mengetahui bahwa krisis Palestina, khususnya di Gaza, sangat mengerikan. Kita bisa membayangkan begitu kejamnya Zion*s dengan sikapnya yang tidak pernah memedulikan kesepakatan gencatan senjata. Dengan dukungan politik, militer, dan keuangan dari AS, Zion*s terus saja menyerang Gaza. Zion*s makin seenaknya memperluas pendudukannya dan melakukan genosida di Gaza sehingga jumlah korban makin banyak, termasuk anak-anak.
Oleh sebab itu, dunia dan kaum muslim seharusnya tidak diam atas pendudukan Zion*s di Gaza. Zion*s sama sekali tidak memahami istilah “kecaman” ataupun “kutukan”. Bahkan, gencatan senjata yang sudah dimediasi oleh tuannya sendiri, yakni AS, tetap saja tidak mempan untuk menghentikan tindakan brutal Zion*s. Zion*s justru seperti makin mendapatkan panggung untuk bertindak keji. Ini karena AS tidak netral sebagai mediator, melainkan memihak Zion*s, sehingga Zion*s merasa di atas angin.
Lebih dari itu, hendaklah kita juga menyadari bahwa akar masalah Gaza adalah keberadaan entitas Zion*s di tanah milik muslim Palestina sehingga entitas ini harus dihapuskan dari muka bumi. Pendudukan Zion*s adalah penjajahan sehingga harus dilawan dengan militer dan tidak cukup sekadar dikecam.
Miris, penguasa di lebih dari 50 negeri muslim hari ini tidak tergerak untuk melakukan jihad membebaskan Palestina. Mereka masih saja terbelenggu oleh nasionalisme yang telah mengikis ukhuah islamiah. Padahal, gelombang seruan persatuan dunia Islam terus bergaung demi pembebasan Palestina, baik dari kalangan kaum muslim secara umum maupun para ulama dari negeri-negeri muslim.
Fenomena ini menegaskan bahwa pembebasan Palestina dari penjajahan Zion*s tidak cukup dengan seruan kemanusiaan, persatuan, dan persaudaraan. Pembebasan Palestina nyata-nyata mengharuskan adanya langkah politik yang mampu melawan kecongkakan AS dan Zion*s. Jika menilik kondisi politik negeri-negeri di kawasan Timur Tengah, langkah politik pembebasan Palestina tampak sulit karena para penguasa Timur Tengah sudah menjadi agen yang menjaga kepentingan AS di wilayahnya.
Sungguh, krisis Gaza tidak lagi sekadar genosida, melainkan memburuk dan termasuk upaya dehumanisasi warga Palestina. Jejak-jejak warga Palestina hendak dilenyapkan sepenuhnya, yang masih hidup terus diserang, yang sudah meninggal pun makamnya diharuskan untuk dibongkar.
Persoalan Palestina bukan hanya persoalan bagi penduduk Palestina atau bangsa Arab, melainkan persoalan umat Islam. Persoalan Palestina adalah persoalan negeri Islam dan tempat-tempat suci Islam yang telah dirampas oleh Yahudi kufur dengan bantuan dari negara-negara kufur adidaya, yaitu Inggris dan AS, serta para penguasa kaum muslim yang menjadi kaki tangan mereka.
Palestina adalah negeri Islam yang telah ditaklukkan oleh kaum muslim dengan darah mereka. Tidak ada sejengkal pun tanahnya yang luput dari telapak kaki kuda seorang mujahid ataupun yang lolos dari setetes darah seorang syahid. Palestina adalah milik seluruh kaum muslim dan kaum muslim wajib mengorbankan darah dan nyawanya untuk mengambilnya kembali.
Pengabaian terhadap bumi Palestina, walau hanya sejengkal, adalah pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan seluruh kaum nukmin. Allah Swt. mewajibkan kaum muslim berjihad untuk menyelamatkan Palestina dari cengkeraman entitas Zion*s Yahudi, sekaligus melenyapkan institusi Yahudi dari Palestina, serta memusnahkan hegemoni AS dan negara-negara kufur lainnya.
Maka pembebasan Palestina butuh ukhuwah islamiyah hakiki berupa persatuan muslim sedunia untuk berjihad. Ukhuwah ini hanya terwujud dengan adanya Khilafah yang merupakan institusi pemersatu umat.
Khilafah akan menghentikan pendudukan dan genosida Zion*s terhadap Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada pemiliknya, sekaligus meriayah warga Palestina agar bisa hidup mulia.
Agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam hari ini adalah penegakan Khilafah yang akan mengerahkan militer di dunia Islam untuk melakukan jihad membebaskan Palestina dan menghilangkan entitas Zion*s.
Wallahu a'lam bishshawab
Tags
Opini