Oleh: Ayu Susanti, S. Pd
Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Bangsa yang kuat terbentuk dari generasi yang matang secara intelektual dan kepribadian. Namun apa jadinya saat anak-anak tidak diarahkan dengan baik dan bahkan menjadi peniru ulung dari berbagai konten viral yang terjadi di negeri ini? Bagaimana mereka bisa menjadi generasi emas dan cemerlang saat dirinya tidak mendapatkan arahan, pendampingan dan didikan dari lingkungannya? Bahkan sebaliknya mereka meniru berbagai macam hal yang menjadi konten viral konsumsi publik walaupun berbahaya.
Seorang siswa taman kanak-kanak (TK) dan seorang siswa sekolah dasar (SD) di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga meniru aksi freestyle dari media sosial dan game online. (tribunnews.com, 06/05/2026).
Anak-anak belum sempurna akalnya sehingga mereka cenderung menelan bulat-bulat berbagai macam informasi yang ada di media sosial dan game online. Bahkan jika hal tersebut menarik maka akan diikuti dan dijadikan contoh.
Kurangnya pendampingan orangtua menjadikan anak mudah mendapatkan akses sosial media yang berpotensi merusak dan berbahaya. Kondisi lingkungan yang acuh tak acuh pun membuat anak-anak kurang terpantau saat bermain sendiri tanpa pengawasan.
Di samping itu, pembatasan akses informasi yang berpotensi merusak dan berbahaya oleh negara belum terasa dampaknya. Jika hal ini dibiarkan tanpa pengaturan yang tegas maka akan cukup membayahakan bagi generasi penerus.
Berbeda halnya dengan Islam. Islam adalah aturan sempurna yang Allah turunkan untuk manusia agar hidup terarah dan jelas. Dalam Islam, anak-anak yg belum balig tidak dikenai taklif hukum karena akalnya belum sempurna. Sehingga perlu pendampingan dari orang dewasa untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan. Orang tua/wali memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mengasuh mereka serta melindungi dari segala bentuk bahaya.
Selain itu, pendidikan dalam Islam bertumpu pada 3 pilar utama yakni peran orang tua, lingkungan, serta negara. Sehingga terwujud lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang anak secara optimal.
Negara pun akan membatasi ketat informasi yang tidak bermanfaat bahkan berpotensi membahayakan generasi. Negara akan memperbanyak konten edukasi sehingga terwujud generasi cemerlang.
Oleh karena itu jika kita ingin melahirkan generasi gemilang maka sudah selayaknya kita kembali pada Islam secara menyeluruh.
Wallahu'alam bishowab.
Tags
Opini