Oleh Zahrul Hayati
Tanggal 2 Mei lagi. Upacara lagi. Pidato lagi.
Tapi anak-anak kita makin bodoh, guru makin miskin, beberapa sekolah ambruk tak layak huni, bullying sekolah makin tak aman.
Apa yang sebenarnya kita rayakan?
Indonesian baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026. Peringatan Hardiknas ini seharusnya membawa harapan masa depan pendidikan. Akan tetapi, realitas dilapangan masih menyisakan berbagai kecemasan publik dan ironi struktural.
Tiap tahun Hardiknas dirayakan, nyatanya dunia pendidikan makin buram dan suram.
Mirisnya lagi, Hardiknas jadi seremonial tahunan tanpa substansi.
Namun dibalik seremoni tersebut, realitas justru menunjukkan kondisi sebaliknya, dunia pendidikan hari ini makin memprihatinkan.
FSGI catat 2024 ada 285 kasus kekerasan di satuan pendidikan. Bullying, narkoba masuk sekolah, pelajar pengedar narkoba, kekerasan seksual, tawuran, dan lainnya.
Siswa stres bukan karena belajar, tapi karena sekolah tidak aman.
Wajarlah, saat agama cuma jadi pelajaran dua jam seminggu, siswa tidak punya rem, makin liberal, dan tidak punya tujuan hidup yang sesungguhnya.
Guru dihinakan, bagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan membiarkan kehidupannya tanpa kepastian. Kesejahteraan guru masih menjadi persoalan klasik.
Banyak guru honorer menerima pendapatan dibawah standar kelayakan hidup, dengan gaji honorer Rp 300-Rp700 ribu per bulan masih jadi norma. Tapi beban administrasinya setinggi langit. Karena sistem ini memandang pendidikan sebagai beban APBN, bukan investasi peradaban.
Tanggal 2 Mei lagi. Upacara lagi. Pidato lagi.
Tapi anak-anak kita makin bodoh, guru makin miskin, beberapa sekolah ambruk sudah tak layak huni, bullying sekolah makin tak aman.
Apa yang sebenarnya kita rayakan?
Campakkan Sistem Rusak.
Setiap tahun peringatan Hardiknas cuma jadi panggung pencitraan dan gelora sesaat. Setelah bendera diturunkan, kita balik ke sistem pendidikan yang sama. Sistem yang lahir dari ideologi kufur: sekulerisme. Agama dipisah dari sekolah, dari kehidupan, hasilnya? Ilmu tanpa arah, moral ambruk.
Walaupun gonta ganti menteri sepuluh kali pun percuma kalau sistemnya masih sama. Ganti kurikulum tiap tahun pun sia-sia kalau asas nya sekularisme. Ibarat pohon, kalau akarnya beracun, buahnya pasti merusak. Selama sistem kufur ini dipakai akan jadi upacara merayakan kerusakan.
Islam Solusinya.
Stop berharap pada sistem yang sudah jelas melahirkan kerusakan-kerusakan. Solusinya mencampakkan sistem kufur ini dari dunia pendidikan, dan menggantinya dengan sistem Islam.
Sistem yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar pendidikan. Yang memuliakan guru dunia-akhirat. Yang menjadikan sekolah tempat lahir generasi pemimpin masa depan yang bertakwa, bukan generasi bermasalah.
Dalam Islam, negara akan mampu mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islami, yaitu pola sikap dan pola pikir Islami. Artinya, seseorang akan bersikap sesuai dengan hukum syarak. Hal ini terwujud ketika pendidikan berlandaskan akidah Islam. Konten-konten digital akan disaring oleh negara, sehingga moral umat akan dijamin keamanannya.
Ketika ada konten yang merusak, maka akan diputus mata rantainya oleh negara.
Hardiknas harusnya jadi momen muhasabah: Sampai kapan kita mau dibodohi seremonial, padahal sistemnya terus membunuh masa depan?
Saatnya bicara sistem. Saatnya campakkan yang rusak.
"Menurutmu, masih layakkah Hardiknas dirayakan kalau kondisinya terus begini?"
Wallahu 'alam bish-shawwab.
Tags
Opini