Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan semakin Buram dan Memprihatinkan.

Oleh: Febrinda Setyo 
Aktivis Muslimah 

Hari pendidikan seharusnya menjadi momen perayaan pendidikan di Indonesia. Namun fakta yang terjadi justru menunjukkan kondisi pendidikan di Indonesia yang kian memprihatinkan. Setiap tahun Hari Pendidikan Nasional dirayakan. Di sisi lain dunia pendidikan masih menyimpan banyak masalah tanpa solusi yang jelas, contohnya banyak anak yang putus sekolah, banyak praktik joki dan plagiarisme, berbagai kasus di lembaga sekolah, dsb. Hal ini menunjukkan bahwa Hari Pendidikan Nasional hanya dianggap sebagai momen seremonial saja, bukan ajang refleksi dan perbaikan. 

Saat ini masih banyak anak Indonesia yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya akibat sulitnya mendapat akses pendidikan serta keterbatasan ekonomi. Kebijakan efisiensi dana pendidikan membuat semakin sempitnya kesempatan untuk mendapatkan bantuan pendidikan sebab kuota beasiswa semakin terbatas. Di sisi lain, tak sedikit pelajar atau mahasiswa yang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan lanjut justru tidak serius dalam belajar. Maraknya praktik plagiarisme dan joki di kalangan pelajar dan mahasiswa semakin menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini sedang dihadapkan dengan masalah krisis integritas, serta mencerminkan bahwa nilai kejujuran sudah turun sebab hanya menginginkan hasil yang instan. 

Selain itu, lingkungan pendidikan sekarang sudah tidak sepenuhnya aman. Banyak sekali berita pelecehan seksual maupun kekerasan lain yang terjadi di dalam lembaga pendidikan. Contoh terbaru adalah kasus pelecehan seksual verbal oleh sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Data menunjukkan dalam kurun Januari hingga Maret 2026 saja ratusan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan telah dilaporkan. Fakta ini semakin membuktikan bahwa lembaga pendidikan belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi seluruh anggotanya. 

Kondisi saat ini tidak dapat lepas dari pengaruh diterapkannya sistem kapitalis sekuler di sistem kapitalisme. Pendidikan dianggap sebagai komoditas utama pencetak tenaga kerja yang siap pakai. Alhasil, proses pembelajaran lebih difokuskan pada keterampilan praktis yang bernilai ekonomi saja, sementara aspek yang lain kurang diperhatikan. Tak hanya itu kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan memunculkan berbagai persoalan baru dalam dunia pendidikan. Banyak generasi muda yang tidak mampu membedakan yang baik dan buruk. Nilai kebebasan yang dibawa oleh sistem sekuler semakin menurunkan karakter moral anak bangsa. Dapat dilihat dari semakin lunturnya rasa hormat pada guru, banyak terjadi penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar, tindakan bullying, dll. Kegagalan implementasi arah pendidikan telah menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya. Cenderung mencari yang instan, bersikap liberal dan pragmatis, jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral. 

Dalam Islam pendidikan dipandang sebagai hak setiap individu yang wajib dipenuhi oleh negara. Hal ini merupakan bagian dari penerapan kewajiban agama sebagaimana hadis Rasulullah SAW tentang kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim. Maka dari itu, negara bertanggungjawab untuk memastikan pendidikan dapat diakses siapapun secara layak, merata tanpa terkecuali. Selain itu, generasi akan didorong untuk menguasai sebuah ilmu pengetahuan secara mengakar sehingga mampu menjadi seorang ahli cendekiawan. Islam juga memberikan pendidikan karakter dan adab yang sejalan dengan syariat Islam sehingga sistem pendidikan tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara intelektual namun juga berkepribadian Islam. Hal ini hanya dapat diwujudkan di bawah sebuah kepemimpinan islam yakni Khilafah Islam. Sebab selama umat masih hidup di bawah sistem kapitalisme maka pendidikan hanya akan dipandang demi keuntungan materi semata. Hanya dengan Islam segala permasalahan dapat teratasi dari akar. Wallahu'alam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak