Islam Atasi Masalah Sampah


Oleh Nining Sarimanah 
Pegiat Literasi 

Masalah sampah hingga detik ini menjadi isu yang tidak pernah kunjung usai dibicarakan mulai dari tata kelola sampah hingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tak dimungkiri sampah berserakan dan menumpuk akibat dari tingkat kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan masih rendah. Papan-papan peringatan yang terpasang tidak berpengaruh yang berarti untuk tetap membuang sampah sembarangan. Bahkan tak jarang, membuang sampah ke kali atau sungai di dekat pemukiman mereka. 

Masalah sampah bisa makin pelik jika tidak dikelola dengan baik, terlebih Tempat Pembuangan Akhir dibatasi kuotanya seperti yang terjadi di Pasar Baleendah, lautan sampah mencapai 400 ton akibat selama 3 hari tidak bisa dibuang ke TPA Sarimukti karena pembatasan kuota pembuangan. Selain itu, kondisi di lapangan semakin pelik lantaran sampah tidak hanya berasal dari aktivitas pasar, tetapi kiriman dari luar wilayah pasar. (Kompas.com, 1/5/2026)

Saat ini, sebelumnya kuota pembuangan di TPA Sarimukti sekitar 980 ton/hari ditargetkan turun menjadi 600 ton per hari. Oleh karena itu, Pemkot Bandung mempercepat program pengolahan sampah organik di tingkat RW dan kelurahan. Untuk mendorong warga mengolah sampah dari sumbernya, Pemkot membatasi operasional Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dengan menutup TPS setiap akhir pekan mulai Jumat hingga Minggu dan memperketat pengawasan di wilayah perbatasan untuk mencegah masuknya sampah kiriman dari luar daerah. 

Selain itu, Pemkot Bandung menargetkan pembangunan hingga 25.000 unit kompos pit di seluruh RW untuk memperkuat pengolahan sampah berbasis wilayah. Selain itu, Pemkot mengembangkan pengolahan sampah melalui budidaya maggot, loseda, serta konversi sampah menjadi pakan ternak. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga sedang menyiapkan pengembangan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Sarimukti sebagai solusi jangka panjang pengolahan sampah regional (bisnis.com, 11/5/2026).

Upaya pemerintah daerah patut diapresiasi. Sampah yang tidak tertangani dengan baik menyebabkan pencemaran lingkungan dan polusi udara yang mengganggu kesehatan masyarakat. Tak hanya itu, pada musim hujan sampah yang dibuang ke sungai, musibah banjir pun melanda. 

Menangani masalah sampah memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Negara harus mempersiapkan itu semua untuk kepentingan rakyat dan tidak boleh menjadi beban yang harus ditanggung rakyat sehingga menimbulkan masalah. Pertanyaannya apakah negara mampu merealisasikannya? Sementara kondisi keuangan negara tidak dalam kondisi baik-baik saja. Kekayaan alam yang seharusnya dikelola negara dan dikembalikan lagi untuk rakyat, justru diserahkan ke asing. Inilah kezaliman akibat diterapkan sistem kapitalisme.

Berbeda dengan sistem Islam. Pemimpin dalam Islam siap menjalankan setiap amanah yang diembannya. Semua masalah akan segera diatasi sebagi bagian dari ri'ayah umat, termasuk masalah sampah. Sejarah Islam mencatat sejak abad 9-10 Masehi pada masa Kekhilafahan Bani Umayyah jalan-jalan di Kota Cordoba telah bersih dari sampah-sampah lantaran ada mekanisme menyingkirkan sampah dari perkotaan yang idenya lahir dari Qusta ibn Luqo, ar-Razi, Ibn al-jazzar, dan al-Masihi. Tokoh-tokoh muslim tersebut telah mengubah sistem pengolahan sampah yang sebelumnya hanya diserahkan kepada kesadaran individu. 

Menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan harus dilakukan salah satunya dengan pengolahan sampah secara bijak. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar rakyat yang harus dijamin oleh negara, selain pendidikan dan keamanan. 

Islam akan mendorong setiap individu masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan sebagai cerminan keimanan kepada Sang Pencipta. Rasulullah saw. bersabda "Islam itu bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih." (HR.Baihaqi).

Dengan penerapan Islam secara kafah di setiap lini kehidupan akan mendorong individu masyarakat dengan dasar iman untuk mengolah sampah secara mandiri. Begitu pun dengan masyarakat, mereka akan bekerjasama menjaga kebersihan dan saling mengingatkan jika ada yang membuang sampah sembarangan sehingga lingkungan tetap terjaga. Di sisi lain, peran negara sangat dominan, negara akan menyediakan fasilitas pengolahan sampah di setiap daerah dan lingkungan permukiman.

Negara mencurahkan setiap usaha agar agar sampah terkelola dengan baik dan optimal. Dana untuk mengolah sampah diambil dari kas negara yaitu baitulmal. Sumber pendapatan negara banyak jenisnya seperti fai, ganimah, kharaj, jizyah, harta kepemilikan umum, dan sebagainya. Dengan melimpahnya pemasukan negara sangat cukup memenuhi kebutuhan asasi rakyat, termasuk menyediakan fasilitas pengolahan sampah. Semua itu akan terwujud secara sempurna jika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam institusi negara. Setiap individu bagian dari masyarakat dan negara sebagi pihak yang menjalankan amanah akan tunduk pada syariat tersebut. 

Dengan demikian satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah sampah hanya dengan Islam bukan dengan sistem buatan manusia yang hingga hari ini masalah sampah tidak terselesaikan. Pengabaian terhadap masalah sampah merupakan bentuk tidak bertanggungjawab penguasa terhadap rakyat yang di akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Wallahualam bissawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak