Ilusi Hardiknas Tutupi Wajah Bobrok Pendidikan Kapitalis


Oleh : Elly Waluyo

Hari pendidikan nasional (Hardiknas) senantiasa diperingati oleh bangsa ini setiap tahun. Namun, sistem kapitalis yang menaungi negeri ini menjadikan hari tersebut sekedar diperingati, bahkan dijadikan ilusi untuk menutupi ajang bisnis dibaliknya. Sistem kapitalis merupakan sistem yang menitikberatkan pada kesuksesan materi, maka pendidikan pun tak luput dari lahan bisnis. Sekularisme yang melatarbelakangi  sistem kapitalis membuat arah pendidikan menjadi tidak jelas. Akibatnya, lahir generasi yang bingung dengan jati dirinya. Beradab buruk karena jauh dari agama. Imbasnya kekerasan dalam dunia pendidikan semakin merajalela.

Dalam kurun waktu 3 bulan,  233 kasus kekerasan dalam dunia pendidikan telah tercatat oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Kasus didominasi sekolah menengah dan dasar yakni 71 persen. Tercatat 46 persen kasus kekerasan seksual, kekerasan fisik 34 persen, kasus bullying 19 persen, 6 persen kasus kebijakan yang menyangkut kekerasan, dan kekerasan psikis 2 persen.

Kasus kekerasan di perguruan tinggi sebanyak 11 persen.  Sementara kasus kekerasan terjadi di pondok pesantren tercatat 9 persen. Di satuan pendidikan nonformal sebanyak 6 persen dan 3 persen terjadi di madrasah.

Pelaku kekerasan didominasi oleh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan sebesar 33 persen, siswa sebesar 30 persen, orang dewasa 24 persen, dan pelaku lainnya 13 persen. Dari hasil pantauan JPPI tersebut, Ubaid Matraji selaku Koordinator JPPI menyampaikan bahwa tingginya kasus kekerasan seksual dalam lingkup pendidikan menunjukkan fenomena sistemik sebagai tanda bahaya skala nasional.

Oleh karenanya pihaknya meminta agar pemerintah melalui kementerian terkait secepatnya menjadikan status darurat kekerasan dalam dunia pendidikan. Kekerasan dalam dunia pendidikan layak ditempatkan sebagai prioritas nasional. Perlu peningkatan cara penanganan dan pencegahan melalui penerapan kebijakan tegas yang berpihak pada korban.  Audit sistem perlindungan peserta didik dan mahasiswa secara menyeluruh juga sangat diperlukan. (https://www.kompas.id : 14 April 2026). 

Semakin meningkatnya kasus kekerasan dalam dunia pendidikan menunjukkan bahwa sistem kapitalis gagal dalam mencetak generasi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Padahal ini adalah salah satu dimensi dalam 8 profil lulusan yang diharapkan dapat diraih melalui pendekatan pembelajaran mendalam. Namun, ironisnya sekolah justru meraih persentase tertinggi dalam tindak kekerasan. 

Orientasi materi dan pemisahan agama dari kehidupan pada sistem kapitalis yang menjadi penggerak sistem pendidikan mendorong setiap individu yakni peserta didik dan wali muridnya fokus mengejar pencapaian nilai akademik dengan berbagai cara. Nilai akademik menjadi prestasi puncak dalam pendidikan. Bukan akhlak mulia dan bukan pula kemampuan memecahkan problem dirinya serta lingkungannya. 

Individu menjadi kehilangan jati diri dan kebingungan dalam mengikatkan perilakunya. Tak ada pembatas dalam berperilaku. Benar dan salah perbuatannya disandarkan pada pandangan masing-masing individu.

Sistem hukum cenderung mentolerir pelaku anak di bawah umur. Dianggap sebagai kenakalan anak semata. Hal ini semakin menambah daftar panjang penyebab meningkatnya tindak kekerasan dalam dunia pendidikan.

Berbeda dengan sistem Islam yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama yang mendasar. Pemenuhan pendidikan pun dijamin negara. Akidah sebagai pondasi dalam sistem pendidikan Islam mampu mencetak generasi cemerlang yang cerdas sekaligus beriman dan bertakwa.

Pembentukan syakhsiyah islamiyah merupakan fokus utama. Bagaimana menyadarkan akan jati diri individu sebagai seorang Muslim. Mematuhi dan mengkaitkan segala perilakunya dengan syariat Islam sehingga memiliki keselarasan pola pikir dengan pola sikap.

Selain itu sanksi tegas dalam hukum Islam yang bersifat jawabir dan jawazir juga berlaku bagi pelaku yang masih di bawah umur. Hal ini akan membentuk masyarakat dalam suasana ketakwaan. Berlomba-lomba beramal shaleh, saling ta’awun dan beramar ma’ruf nahi munkar.

Pendidikan Islam berbasis akidah tidak hanya diterapkan dalam pendidikan formal, tetapi juga dalam keluarga dan lingkungan. Demikianlah Islam membentuk dan mencetak generasi cemerlang berakhlak mulia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak