Oleh: Rifdah Reza R., S.Sos., M.I.Kom.
Gaza menjadi ironi paling besar di peradaban ini. Bagaimana tidak? Di era informasi yang kian cepat dan tragedi dapat disaksikan secara real time, dunia justru terlihat terbiasa melihat kematian warga Palestina. Anak-anak, dewasa, tua renta, laki-laki, hingga perempuan dibunuh. Rumah sakit, gedung-gedung, hingga pemukiman dihancurkan, bahkan jenazah pun tak lagi dimuliakan.
Kebengisan itu dapat dilihat pada tahun 2023 dalam investigasi Channel 13, secara anonim seorang tentara mengatakan bahwa ia menembakkan 500 peluru per menit. Ia meledakkan banyak hal dan tidak peduli. (Republika, 2/12/2023).
Bahkan saat ini jumlah korban tewas akibat agresi Zion*s Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, dengan 172.535 lainnya terluka, menurut sumber medis setempat. (Antara, 25/3/26).
Tak ada hentinya, Israel pun telah memperluas wilayah pendudukan di Jalur Gaza, Palestina, hingga 59 persen wilayah tersebut dan tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali genosida di wilayah kantong Palestina itu. (Antara, 4/5/2026).
Seakan tak cukup, para pemukim ekstremis Israel telah memaksa warga Palestina untuk menggali kembali kuburan seorang pria di tanah Palestina di Tepi Barat bagian utara. Warga tersebut dipaksa untuk memindahkan jenazah tersebut ke lokasi lain dengan alasan kuburan itu terlalu dekat dengan pemukiman Israel. (Internasional Sindonews, 10/5/2026).
Inilah gambaran betapa Gaza menjadi target dehumanisasi sistemis. Sungguh dunia terdiam dan menunjukkan betapa tidak semua nyawa dianggap memiliki nilai kemanusiaan yang sama.
Dehumanisasi ini bekerja untuk menghilangkan identitas manusia dari korban. Palestina pun terus direduksi menjadi sekadar angka statistik, sementara penderitaannya dinormalisasi dengan berbagai bahasa dan tipu media.
Dalam sudut komunikasi politik, framing media sangat menentukan empati di tengah publik. Ketika dalang dari kezaliman ini disamarkan dan kejadian ini dianggap konflik biasa, maka dunia perlahan kehilangan sensitivitasnya terhadap penderitaan Palestina.
Ini pun menjadi gambaran kontradiktif dari apa yang diusung oleh barat terkait HAM dan demokrasi. Justru merekalah yang menjadi dalang dan berkompromi secara politik. Sungguh kemanusiaan dalam sistem global bersifat selektif, ia ditentukan oleh berbagai asas kepentingan geopolitik, aliansi politik, hingga dominasi kekuatan global.
Dalam komunikasi politik, siapa yang menguasai narasi maka ialah yang mempunyai legitimasi. Dengan kata lain, pembungkaman jurnalis bahkan tercatat lebih dari 300 jurnalis tewas sejak Oktober 2023 adalah upaya dalam mengontrol persepsi publik global.
Hal di atas pun diperkuat dengan dukungan politik, finansial, dan militer terhadap Zion*s atas kepentingan kapitalisme global. Timur Tengah dianggap mempunyai posisi yang strategis secara ekonomi dan geopolitik. Dengan itu, konflik terus dilanggengkan demi menjaga dominasi kekuatan besar dunia.
Namun, kejadian sebesar ini dengan mudah tenggelam begitu saja karena budaya digital di sistem kapitalisme yang toxic. Algoritma menaikkan hal-hal yang bersifat hiburan dan viralitas, sedangkan hal-hal penting mulai terlupakan.
Di sisi lain ada problem yang tak kalah penting, kaum muslim memiliki jumlah besar dan sumber daya melimpah, namun saat ini terkungkung nasionalisme yang mengakibatkan perpecahan umat dalam kepentingan negara masing-masing. Alhasil, banyak negeri muslim yang hanya bisa beraksi di level kecaman semata. Nasionalisme inilah yang justru mengikis ukhuwah Islamiyah dan melemahkan persatuan umat.
Maka, sebagai seorang muslim hendaknya kita memandang bahwa persoalan ini bukanlah persoalan regional, melainkan persoalan umat. Solusi yang ditawarkan tak bisa sebatas simpati semata, melainkan perlu persatuan umat. Khilafah adalah institusi pemersatu umat yang mempunyai kewajiban menjaga wilayah kaum muslim, menghentikan penjajahan, hingga melindungi rakyat dengan landasan aturan-Nya berskala dunia.
Sudah saatnya kita memahami persoalan utama Gaza karena sistem global yang menempatkan kepentingan di atas segalanya. Bila ini terus dibiarkan, yang hancur bukan hanya Gaza, melainkan peradaban itu sendiri. Kembali kepada Islam dengan penerapan menyeluruh dalam institusi politiklah yang mampu menyatukan kaum muslim, menjaga darah umat, dan menghentikan segala kezaliman. Tanpa itu, semua akan terus terluka, bahkan mewariskan luka itu dari generasi ke generasi.
Wallahu a’lam bishshawab.
Tags
Opini