Gaza Terus Diserang, Dihancurkan, dan Diblokade: di Mana Perisai Umat Islam?

Oleh : Nahra Arhan

Agresi terhadap Gaza kembali memperlihatkan wajah brutal penjajahan Zionis di hadapan dunia. Bukan hanya serangan militer yang terus berlangsung, blokade dan penghalangan bantuan kemanusiaan pun dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa takut terhadap hukum internasional maupun kecaman publik global.
Baru-baru ini, dunia kembali dikejutkan oleh penyitaan kapal-kapal bantuan kemanusiaan yang hendak menuju Gaza di perairan internasional dekat wilayah Yunani. Ratusan aktivis yang membawa misi kemanusiaan ditangkap oleh militer Zionis, bahkan puluhan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Ironisnya, tindakan tersebut kembali dibenarkan dengan narasi lama: menuduh bantuan kemanusiaan berada di bawah arahan Hamas.

Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa label “teroris” terus digunakan sebagai alat legitimasi untuk membungkam solidaritas terhadap Palestina. Setiap dukungan terhadap rakyat Gaza dicurigai, dihalangi, bahkan dikriminalisasi. Padahal, yang sedang terjadi di Gaza bukan sekadar konflik biasa, melainkan tragedi kemanusiaan yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa dan menghancurkan hampir seluruh infrastruktur sipil.
Tidak hanya warga sipil yang menjadi korban. Para jurnalis pun turut menjadi sasaran. OHCHR telah memverifikasi kematian ratusan jurnalis sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Fakta ini menunjukkan bahwa Zionis berusaha mengendalikan narasi dunia dengan membungkam suara-suara yang menyampaikan realitas penderitaan Gaza.
Yang lebih menyakitkan adalah sikap dunia Islam sendiri. Hingga hari ini, tidak ada satu pun negeri Muslim yang benar-benar mengerahkan kekuatan militernya untuk melindungi kapal bantuan maupun menghentikan blokade terhadap Gaza. Negeri-negeri Muslim seolah hanya mampu mengeluarkan kecaman diplomatik tanpa tindakan nyata yang mampu menghentikan penjajahan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar, mengapa umat Islam yang jumlahnya begitu besar justru tampak lemah ketika saudara-saudaranya dizalimi?
Akar persoalan ini dinilai bukan semata-mata lemahnya persatuan, tetapi karena tidak adanya kepemimpinan politik Islam yang benar-benar berdiri di atas akidah Islam dan berfungsi sebagai pelindung umat. Akibatnya, negeri-negeri Muslim tetap berada dalam cengkeraman kepentingan politik global dan sistem internasional yang lebih menguntungkan kekuatan kapitalis-Barat serta memberi ruang bagi eksistensi penjajahan Zionis.

Dalam pandangan Islam, Palestina adalah tanah kaum Muslimin yang wajib dijaga dan dibela. Membiarkan blokade, penjajahan, dan pembantaian terus berlangsung tanpa upaya nyata merupakan kemungkaran besar yang tidak boleh dinormalisasi.
Oleh karena itu, sebagian umat meyakini pentingnya hadir kembali kepemimpinan Islam yang mampu menjadi “junnah” atau perisai bagi kaum Muslimin. Sebuah kepemimpinan yang tidak tunduk pada tekanan kekuatan dunia, tetapi berdiri untuk menjaga kehormatan umat dan melindungi negeri-negeri Islam dari penjajahan.
Kemarahan umat atas tragedi Gaza semestinya tidak berhenti pada rasa sedih dan kecaman di media sosial. Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran politik umat Islam, memperkuat persatuan, serta menghidupkan kembali perjuangan dakwah yang mengikuti metode perjuangan Rasulullah saw.
Gaza hari ini bukan hanya tentang Palestina. Gaza adalah cermin lemahnya perlindungan terhadap umat Islam di tengah sistem dunia yang tidak berpihak pada keadilan. Selama akar masalahnya tidak diselesaikan, penjajahan dan penindasan serupa akan terus berulang di berbagai negeri Muslim lainnya.
Berapa kali pun upaya perdamaian yang ditempuh baik dengan jalur diplomasi ataupun gencatan senjata, tetap tidak akan mampu menyelesaikan peperangan yang ada. Terbukti belum genap satu hari perjanjian damai disepakati, pihak musuh sudah kembali menghujani langit gaza dengan berbagai rudal. Namun demikian jalir ini selalu saja menjadi opsi utama yang digadang-gadang mampi memberikan persamaian dunia, nyatanya hanya pepesan kosong semata, Gaza semakin luluh lantah, korban semakin berjatuhan, dan pemimpin muslim semakin diam tidak ada niatan untuk menjadi garda terdepan dalam mempertahankan keutuhan Palestina.
Saatnya kaum muslim merapatkan barisan, menyatukan kekuatan, mendesak para penguasa untuk mengomando warganya dalam membela saudara di Palestina. Tidak cukup dengan doa terbaik namun aksi nyata lebih dibutuhkan. Apalagi sekedar kecaman belaka yang tidak memberikan dampak apapun.
Sebagaimana dikanarkan dalam hadits bahwasanya, 
"Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya" (HR. Bukhari dan Muslim). 
Maka berdiam diri atas kedzaliman yang menimpa saudara kita adalah sebuah dosa yang besar, Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ma'idah (5): 2:"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan..." 
Begitupun dalam sebuah hadits dinyatakan Hadits Riwayat Muslim (Sangat Tegas):"Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim).

Wallahua'lam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak