Ummu Aqeela
Gerakan perlawanan Hamas menolak pelucutan senjata di Jalur Gaza yang diajukan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP), karena hal itu berarti pemusnahan rakyat Palestina.
Abu Ubaida, Juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan gerakan itu tidak akan menerima pelucutan senjata yang diajukan Dewan Perdamaian (BoP) karena itu adalah upaya terang-terangan pendudukan zionis Israel untuk terus membunuh dan memusnahkan rakyat Palestina.
“Kami tidak akan terima dalam keadaan apa pun,” tegas pernyataan.
Mengutip An-Nahar, Senin (6/4), Hamas menegaskan masalah pelucutan senjata seperti didesak pendudukan zionis Israel, merupakan hal sensitif yang menjadi perhitungan utama di lapangan dan bersinggungan dengan taruhan regional yang lebih luas.
Jika kita menyoroti Board of Peace, secara mendasar para pemimpin negara telah gagal paham terhadap akar permasalahan krisis Gaza-Palestina, bahkan justru mengaburkan realitanya. Mereka selalu menggambarkan apa yang terjadi adalah sebuah peperangan, bukan okupasi atau penjajahan dan upaya genosida. Konflik Palestina-Israel sekadar dilihat sebagai konflik dua pihak yang setara, sehingga melupakan relasi kolonial antara penjajah dan yang dijajah.
Bagian yang paling menyedihkan adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh para pemimpin Muslim yang memilih tunduk atau justru memperkokoh entitas Zionis Israel dengan seruan untuk menghormati, melindungi, dan menjalin normalisasi serta hubungan diplomatiknya. Tentu saja, pengkhianatan ini kontras dengan meningkatnya kesadaran umat Islam dan opini global yang kian menentang kejahatan Zionis.
Kita berharap dunia Islam punya narasi alternatif yang lebih baik. Mestinya para pemimpin negeri-negeri Muslim berani kompak menyatakan bahwa Israel adalah pelaku genosida dan penjajah yang harus dihilangkan. Jika Barat berani memberikan bantuan dan dukungan keuangan, ekonomi, militer, dan diplomatik kepada Israel untuk tetap eksis dan menjajah, maka negeri-negeri Islam harusnya bersikap yang sama, yakni memberikan dukungan penuh kepada rakyat Palestina untuk memerdekakan mereka.
Penderitaan umat Muslim di tanah Palestina semakin menunjukkan kelemahan dunia Islam, khususnya para penguasa negeri Muslim. Bagaimana bisa, umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliyar tak berdaya melindungi saudara Muslimnya di Gaza-Palestina dari kejahatan Zionis Israel.
Tidak ada solusi tuntas dan dibenarkan oleh syariah untuk menyelesaikan persoalan Palestina kecuali melalui Jihad dan Khilafah. Solusi rasional hari ini adalah melawan kekuatan militer dengan kekuatan militer juga. Fakta sejarah membuktikan, sepanjang Khilafah masih ada, wilayah Palestina tetap terlindungi. Di sinilah pentingnya penyadaran umat. Kesatuan umat Islam dalam bingkai Khilafah akan menjadikan tubuh umat lebih kuat. Kekuatan itulah yang akan melenyapkan penjajahan di bumi Palestina dan wilayah negeri-negeri Islam lainnya.
Wallahu’alam bishshowab.
