Perceraian Masih Tinggi, Islam Hadir Sebagai Solusi




Oleh : Maulli Azzura 

Berdasarkan data dari Pengadilan Agama (PA) Lamongan, pada bulan Januari dan Februari, tercatat 345 perkara masuk, yang didominasi oleh cerai gugat atau perkara yang diajukan oleh pihak istri. 

​Panitera Pengadilan Agama Lamongan, Mazir, menyebutkan, pada bulan Januari pihaknya menerima sebanyak 301 perkara, yang terdiri dari 60 cerai talak dan 241 cerai gugat.

Dalam sistem ini, standar perilaku bukan lagi halal-haram, tetapi suka atau tidak suka. Akibatnya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama hidup dengan prinsip “Suka-suka gue”.

Dari sisi perempuan, banyak yang sulit diatur, tidak menjaga diri, mudah terpengaruh gaya hidup bebas dan tidak lagi menghormati peran suami. Sementara dari sisi laki-laki banyak yang tidak paham agama, mudah tergoda, perselingkuhan, terjerumus judi online, pinjol (utang riba), miras, serta lalai dalam tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Pada akhirnya, dua-duanya sama-sama membawa ego. Tidak mau mengalah, tidak mau dinasihati, dan tidak mau tunduk pada aturan Allah.

Islam memandang pernikahan sebagai ikatan ibadah, bukan sekadar hubungan cinta atau kontrak sosial.

Allah SWT berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Negara dalam Islam tidak hanya mencatat pernikahan, tetapi menyediakan pendidikan berbasis akidah, menutup akses pada kemaksiatan, menjamin kebutuhan ekonomi rakyat, serta menegakkan hukum syariat secara adil. Dengan lingkungan yang sehat secara iman, akhlak, dan ekonomi, potensi konflik rumah tangga akan jauh berkurang.

Perceraian memang dibolehkan, tetapi bukan tujuan. Ia adalah solusi terakhir ketika kebaikan tidak lagi bisa dipertahankan. Oleh karena itu, perceraian yang terus meningkat bukan sekadar masalah individu, tetapi cerminan sistem yang membentuk cara pandang hidup manusia. Selama rumah tangga dibangun di atas ego, hawa nafsu, dan standar “semau gue”, konflik akan terus berulang. Islam datang dengan solusi yang menyeluruh, yaitu membentuk individu bertakwa,
mengatur peran dalam keluarga, membangun masyarakat yang peduli, dan menghadirkan negara yang melindungi.

Wallahu A'lam Bishowab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak