Oleh : Dian Yanuar
(Forum Literasi Muslimah Bogor )
Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran, program yang baru berjalan selama satu tahun ini sudah banyak polemik, dari mulai harga per satu porsi makanan yang harusnya diterima oleh setiap siswa Rp 15.000/porsi, tetapi faktanya di lapangan yang diterima oleh siswa itu hanya Rp 10.000/porsi, menu makanan tidak sesuai dengan selera siswa dan akhirnya mubazir karena tidak dimakan, banyaknya kasus keracunan di sekolah-sekolah akibat makanan program MBG.
Kabar terbaru sebanyak 118 pelajar SMA Negeri 2 Kudus Jawa Tengah mengalami keracunan setelah mereka menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada hari Rabu, 28 Januari 2026, dari ratusan korban itu, 46 diantaranya harus menjalani rawat inap di RS (BBC News Indonesia 30/01/26). Dengan banyaknya kasus keracunan, menunjukan bahwa lemahnya standar keamanan dan pengawasan dalam program MBG. Seharusnya program ini bisa menjadi solusi permasalahan gizi buruk dengan menjamin gizi generasi, tetapi ini malah mengancam kesehatan siswa siswi di sekolah.
Alih-alih program ini di hentikan atau di evaluasi apa yang menjadi sebab permasalahanya, malah pemerintah di tahun 2026 telah mengalokasikan anggaran untuk program MBG sebanyak 335 Triliun, dan yang membuat publik semakin bingung bahkan sampai geleng kepala program MBG akan terus berjalan selama bulan suci Ramadhan dan ketika anak-anak libur sekolah, sebetulnya program MBG ini apakah benar untuk rakyat atau proyek besarnya pemerintah dengan korporat? Karena jika kita telaah program MBG ini tidak sesuai dengan tujuan awal yaitu mencegah stunting dan memenuhi gizi anak, tetapi program ini hanya berfokus kepada distribusi makanan saja, jadi bukan hadir sebagai solusi tetapi malah menjadi ladang basah para koruptor untuk korupsi berjamaah mengeruk uang rakyat.
Sebenarnya yang menjadi akar permasalahan dalam masalah stunting ini adalah kemiskinan yang tak kunjung selesai, malah dalam setiap tahunnya jumlah penduduk miskin di negara ini semakin bertambah, menurut data terbaru dari Word Bank, Indonesia menduduki peringkat ke 2 negara termiskin di dunia setelah Zimbabwe ini menunjukan bahwa semakin banyaknya kemiskinan di Indonesia, selain itu susahnya mendapat lapangan pekerjaan, sehingga banyak orang menganggur dan berdampak kepada daya beli masyarakat yang menurun.
Dalam sistem kapitalisme saat ini, solusi yang diberikan hanyalah solusi tambal sulam tidak menyentuh kepada akar masalah, sehingga bukannya menyelesaikan masalah yang ada malah menimbulkan masalah baru, berbeda hal nya dengan sistem Islam, dalam Islam pemerintah adalah pengurus dan pelindung masyarakat, pemerintah akan menjamin kesejahteraan masyarakat dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang luas bagi kepala keluarga dengan upah yang layak sehingga tidak ada lagi pengangguran, dan tidak ada lagi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, pemerintah juga wajib menyediakan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan, agar seluruh masyarakat dapat terjamin kebutuhannya.
Tidak cukup hanya itu pemerintah pun wajib memberikan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang terbaik dan gratis. Maka hanya dengan sistem Islamlah kesejahteraan masyarakat akan terwujud.
Wallahu a'lam bishawab