Teror Konten Kreator Kritisi Rezim





Oleh : Atik, Aktivis Dakwah



Belum lama ini di Jagat Maya dihebohkan dengan berita dari beberapa konten kreator yang mana mereka diteror oleh pihak yang tidak dikenal. Dilansir dari mediaindonesia.com (31/12/2025). Gelombang teror terhadap konten kreator dan aktivis yang mengkritik pemerintah kembali mengemuka.

Kali ini, intimidasi muncul setelah sejumlah figur publik menyuarakan kritik keras terhadap penanganan bencana di Sumatra. Rentetan teror tersebut memicu kekhawatiran publik atas kebebasan berekspresi dan demokrasi di Indonesia. Bentuk teror yang dilaporkan beragam, mulai dari ancaman fisik, vandalisme, doxing, peretasan digital, hingga intimidasi yang menyasar keluarga korban.
Berikut deretan tokoh yang dilaporkan mengalami teror usai mengkritik kebijakan pemerintah pasca bencana Sumatra.
(1). DJ Donny atau Ramond Dony Adam, dikenal sebagai musisi elektronik sekaligus konten kreator TikTok yang aktif mengkritik isu sosial dan kebijakan publik. Namanya menjadi sorotan setelah rumahnya diteror bom molotov pada Rabu dini hari (31/12).
Teror ini diduga berkaitan dengan konten DJ Donny yang menyoroti respon pemerintah terhadap bencana Sumatra.
(2). Sherly Annavita, influencer dan kreator konten politik-sosial, juga melaporkan serangkaian teror. Mulai dari surat ancaman, vandalisme, hingga rumah dilempari telur. Insiden tersebut diungkap Sherly melalui video TikTok pada Selasa (30/12/2025). Aksi intimidasi ini terjadi tak lama setelah Sherly mengunggah kritik terkait demokrasi dan kebijakan pemerintah pasca bencana Sumatra.
(3). Aktivis Greenpeace Terima Teror Bangkai AyamTeror juga menimpa Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia. Pada Selasa (30/12), rumahnya didatangi kiriman bangkai ayam dengan pesan ancaman.

Dari beberapa kejadian teror yang dialami konten kreator tersebut kembali menjadi bukti bahwa sistem yang dianut saat ini yaitu demokrasi kapitalis tidak menjamin kebebasan berekspresi dan keamanan kritik terhadap penguasa.
Negara seakan otoriter kepada rakyat, membungkam siapa saja yang bertentangan dengan penguasa, melakukan segala cara agar kebenaran tidak muncul kepermukaan.

Teror ini tentunya diciptakan untuk menimbulkan rasa takut dan tidak aman kepada para korban apabila berani mengkritik penguasa. Lebih lagi dengan lahirnya KUHP dan KUHAP yang baru diresmikan, didalamnya terdapat pasal-pasal karet yang mengarah pada kriminalisasi terhadap orang-orang yang tajam mengkritik dan membongkar kebobrokan penguasa.

Suara rakyat terkesan hanya didengarkan saat ada kepentingan saja contohnya saat pemilu, calon penguasa menggelontorkan bantuan sembako dan uang untuk mendapatkan suara terbanyak, menampung aspirasi rakyat dan tak segan memberi banyak janji-janji palsu untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan semata. Tetapi setelahnya menjabat, apa yang dijanjikan tidak dipenuhi bahkan rakyatnya dipaksa diam dalam penderitaan.

Berbeda halnya dalam sistem Islam yang mana negara bertindak sebagai raa'in (pelayan) rakyat, negara bertanggungjawab secara penuh atas rakyatnya. Negara Daulah Islam tentunya akan mendengarkan keluhan dan kritikan dari rakyatnya karena sejatinya rakyat memiliki peran muhasabah lil hukam atau kewajiban dan hak rakyat untuk melakukan koreksi, kritik, dan pengawasan terhadap penguasa berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

Negara juga akan menjamin keamanan rakyatnya apabila melakukan kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang akan dijalankan.
Khalifah Umar bin Khattab RA sering dijadikan contoh sebagai pemimpin yang menyukai kritik.

Semasa menjadi khalifah, beliau punya kebiasaan blusukan ke kampung-kampung, salah satu tujuannya adalah mencari tahu tentang aib dan kekurangan dirinya. Pernah suatu ketika beliau sedang berjalan dan dicegat oleh seorang perempuan tua yaitu Khaulah binti Tsa'labah, lalu Umar rela berhenti dan mendengarkan keluhan perempuan tua tersebut. Perkataan perempuan tua itu didengar Allah dari atas langit ke tujuh, sehingga khalifah Umar berkata "Aku tidak akan beranjak pergi untuk mendengarkannya dari awal siang ke akhir siang kecuali panggilan sholat". Dari kisah inilah yang membuat masyarakat berani dan tidak segan untuk mengkritiknya.
Seperti ini yang seharusnya dilakukan oleh penguasa bukan malah mengancam, meneror bahkan melakukan kriminalisasi kepada rakyatnya sendiri.

Wallahu a'lam bishawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak