Oleh : Azaera A.
(Pelajar Kota Bogor)
Munculnya kabar mengenai kasus superflu di Indonesia, khususnya yang tengah diperhatikan oleh Dinkes Kota Bogor, tentu memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat, termasuk kita sebagai generasi muda. Fenomena ini bukan sekedar isu kesehatan biasa, melainkan mengingatkan akan kerentanan manusia di hadapan makhluk Allah yang tak kasatmata.
Sebagai remaja muslim, kita tidak boleh terjebak dalam ketakutan yang berlebihan, namun juga tidak boleh abai. Kita harus melihat situasi ini dengan kacamata iman, di mana setiap penyakit adalah momentum ujian sekaligus untuk memperkuat kedisiplinan diri dalam menjaga kebersihan dan kesehatan.
Islam telah meletakkan landasan yang kuat dalam menangani penyakit menular melalui konsep preventif dan kuratif. Pada tingkat individu, menjaga wudhu dan kebersihan lingkungan adalah bagian dari manifestasi iman.
Namun, sejarah mencatat bahwa dalam sistem Daulah Islamiyah, penanganan wabah dilakukan secara sistemik dan sangat modern pada zamannya. Khalifah atau pemimpin negara memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan keselamatan rakyatnya dengan menerapkan kebijakan yang berbasis sains tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat.
Salah satu solusi konkret yang dicontohkan dalam sejarah peradaban Islam adalah kebijakan karantina atau lockdown wilayah yang terdampak. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari & Muslim).
Jika Daulah Islam berdiri saat ini, negara akan dengan sigap menutup akses daerah yang terinfeksi superflu agar tidak meluas ke wilayah lain, sekaligus menjamin seluruh kebutuhan logistik dan kesehatan warga yang terlindungi secara cuma-cuma dari kas negara (Baitul Mal).
Selain memindahkan mobilitas, Daulah Islam juga akan menggerakkan fasilitas kesehatan secara masif melalui rumah sakit yang canggih dan gratis. Negara akan mendanai penelitian para ilmuwan muslim untuk menemukan vaksin atau obat dari superflu ini dengan dukungan dana penuh, bukan atas dasar komersialisasi medis.
Kebijakan ini memastikan bahwa setiap warga negara, baik kaya maupun miskin, mendapatkan hak pengobatan yang sama tanpa harus dikenakan biaya administrasi yang psikologis. Dengan cara tersebut maka ketenangan masyarakat yang diharapkan pemerintah dapat benar-benar terwujud.
Sebagai penutup, kasus superflu di Bogor dan sekitarnya harus menjadi alarm bagi kita semua untuk kembali mendekati pola hidup sehat sesuai sunnah. Selain itu juga adanya tuntutan diterapkannya sistem yang mampu memitigasi bencana kesehatan secara menyeluruh.
Ketenangan yang sejati hanya akan lahir jika ada sinergi antara ketaatan individu dalam menjaga protokol kesehatan dan tanggung jawab negara dalam melindungi nyawa rakyatnya. Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat doa, memperbanyak ilmu, dan terus menyuarakan pentingnya kepemimpinan yang peduli pada aspek kesehatan umat secara menyeluruh.
Wallahu A'lam bis Shawwab
Tags
opini